Tiga Rumah Sakit di Kota Kupang, Kelola Limbah Medis Dengan Perusahaan Tak Berizin

Limbah medis

Limbah medis

Zonalinenews-Kupang,- Dampak dari pengelolaan Limbah Medis (LM) secara keliru harusnya menjadi perhatian serius dari para produsen limbah (Rumah Sakit). Jika alasan rusaknya ensinerator atau belum dikantonginya izin pengoperasian ensinerator menjadi kendala, seharusnya para produsen limbah dapat bekerjasama dengan pihak ke tiga yang berizin guna mengelola limbah tipe Infeksius berbahaya.

Bagi perusahaan yang berizin resmi tentunya telah memiliki standar pengelolaan limbah yang teruji melalui pemenuhan syarat-syarat yang diwajibkan. Namun, apa jadinya jika terdapat produsen limbah yang mempercayakan pengelolaan limbah Infeksius berbahaya tersebut kepada pihak ketiga yang tak berizin..?

Mengutip temuan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi NTT dalam Rapat Evaluasi Pengelolaan Limbah Medis Pada 12 Rumah Sakit Se-Kota Kupang yang berlangsung di Aula DLH Provinsi NTT pada Kamis 30 November 2017 , terdapat 3 (tiga) RS yang tengah bekerjasama dengan pihak tak berizin. Masing-masing adalah RS Bhayangkara, RS Leona dan RS Kartini.

PT Citra Kupang sebagai pihak ketiga yang dipercaya mengelola Limbah Medis ternyata ditemukan tidak memiliki izin pengolahan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.

Hal ini patut disayangkan mengingat tidak ada jaminan PT. Citra Kupang memiliki kelayakan mengelola LM kategori Infeksius berbahaya secara benar.

Alasan pihak RS yang tidak mengetahui status izin operasional PT. Citra Kupang sejak awal kerjasama tentu tidak dapat diterima dan membuktikan ketidakseriusan dalam penanganan limbah berbahaya yang dihasilkan.

“Ketika limbah yang dihasilkan tidak dikelola secara baik dan benar maka yang sehat bisa juga sakit.” jelas Kadis DLH NTT, Benyamin Lola, kala membuka rapat evaluasi.

Sementara itu Fasilitator Keamanan Pangan Sekolah (FKPS) Kota Kupang Nur Erma Yusnita Daiman ditemui   zonalinenews di tengah aktifitasnya  memeriksa kesehatan jajanan anak  di MI al-Fitrah Oesapa pada Rabu 06 Desember 2017. S.KM., dirinya menjelaskan bahwa  rumah sakit yang tidak mengelola limbah medis secara benar justru akan menjadi sumber penyakit, atau yang sering disebut dengan  fenomena Infeksi Nosokomial.

Infeksi Nosokomial sendiri adalah infeksi yang berkembang dimana pasien maupun keluarga pasien dapat tertular penyakit di lingkungan rumah sakit karena beberapa faktor.

Diantaranya adalah akibat pengelolaan limbah medis secara serampangan oleh pihak rumah sakit.

” dampaknya sangat besar karena (dalam) limbah medis, microba juga yang ada di situ. Jika pengelolaannya tidak benar maka otomatis akan bersama udara yang mudah membawa microba. Misalnya, kalau limbah itu bersifat Infeksius yang jika terbawa udara, dia akan berpindah ke orang yang sehat,” jelas Nur Erma.

Resiko Infeksi Nosokomial menurutnya akan semakin tinggi kala limbah yang dihasilkan berasal dariruang isolasi, dimana pasien ditempatkan pada ruang tertutup karena besarnya bahaya bagi orangsekitar akibat microba ataupun virus yang ada padanya. Jika limbah yang mengandung virus dan bakteri tersebut tidak tertangani dengan baik maka jelas akan berdampak buruk bagi kesehatan pasien lain maupun orang sehat yang berada di sekitar lingkungan rumah sakit.

Menurut Nur Erma pula, proses pemusnahan limbah dengan cara dibakar layaknya pembakaran sampah pada umumnya juga akan menimbulkan infeksi saluran pernapasan akut atau yang lebih dikenal dengan ISPA. Belum lagi dampak pencemaran air dan lingkungan yang tidak sehat bagi masyarakat.

Oleh karenanya, masyarakat diharapkan untuk sadar potensi bahaya limbah medis ini dan berperan aktif melaporkan kepada pihak berwajib jika didapat adanya penanganan limbah medis oleh rumah sakit secara salah.

Hingga berita ini dipubliksikan pihak PT Citra Kupang belum berhasil ditemui dan zonalinenews dan  akan berupaya menghubungi PT Citra Kupang  untuk mengklarifikasi terkait pengelohan limbah medis dan izin pengunaan alat insenerator. Zonalinenews juga akan  berupaya menghubungi pihak RS Bhayangkara, RS Leona dan RS Kartini terkait dengan pengelahaan limbah medis yang dikelola oleh pihak ketiga. (*tim)