Museem NTT

Carita Seputar Perawatan Koleksi Museum NTT

Museem NTT

Museem NTT

Zonalinenews-Kupang,- Sebagaimana diketahui bahwa museum sebagai tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan benda-benda hasil budaya manusia serta alam sudah tentu menyimpan ragam macam peninggalan berusia puluhan bahkan ratusan hingga ribuan tahun. Museum NTT yang berlokasi di Jl. Frans Seda Kota Kupang., diketahui turut mengoleksi banyak benda-benda peninggalan sejarah dari berbagai tempat di wilayah Nusa tenggara Timur.

Aneka koleksi berbahan dasar tulang, serat tumbuhan, kayu, besi hingga macam logam lainnya banyak yang diprediksi berusia ratusan tahun. Tentunya barang-barang tersebut tidak sedikit yang sudah dalam keadaan rapuh termakan usia dengan potensi kerusakan sejak awal. Karenanya perlu ada perhatian serius dalam upaya perawatan dan penjagaannya. Sebab, boleh jadi sudah tidak lagi ada benda yang sama yang bisa ditemukan saat ini.

“Setiap benda koleksi biasanyadipajang dalam vitrin (lemari pajangan koleksi) yang tertutup rapat. Meski demikian tidak berarti bahwa koleksi akan aman dari ancaman kerusakan. Paparan langsung cahaya ke koleksi diketahui dapat memudarkan warna koleksi. Demikian juga dengan ancaman jamur, rayap, dan korosi pada logam menjadi ancaman bagi koleksi dan tantangan bagi pengelola museum untuk mengamankan koleksi museum, “jelas Itho da Santo kepada zonalinenews saat ditemui di Museum NTT pada Rabu, 14 Februari 2018.

Sebagai salah satu yang dipercaya merawat koleksi, Itho menjelaskan bahwa idealnya perawatan koleksi dilakukan setiap hari dengan terus mengawasi kondisi koleksi. Dalam upaya konservasi koleksi, sambung Itho, pihaknya melakukan dua upaya preventif maupun kuratif. Langkah preventif dilakukan sebagai langkah pencegahan kerusakan. Misalnya, untuk kasus koleksi kain tenun dimana cahaya ruangan maupun boks vitrin diatur agar tidak terlalu terang. Pengunjung pun diminta untuk tidak menggunakan blitz kamera kala memotret koleksi. Sebab berdasarkan studi, cahaya berlebihan akan berefek buruk pada pudarnya warna koleksi. Karenanya, jangan heran kalau lampu dalam vitrin hanya dinyalakan kala datang pengunjung.

Upaya preventif juga dilakukan dengan mengatur suhu ruangan. Suhu tidak boleh terlalu panas (di atas 300c) dan tidak boleh terlalu dingin (di bawah 270c). Suhu ideal menurut Itho adalah 270 c-280 c dimana pada suhu ini jamur tidak dapat tumbuh dan bukan suhu ideal untuk makan rayap.

Upaya kuratif diambil ketika koleksi terserang jamur, rayap maupun korosi. Menjadi sulit ketika sebuah koleksi tersusun dari beberapa bahan berbeda. Tentu saja penanganannya tidak bisa disamaratakan jika tidak ingin menambah kerusakan. Perawatan terhadap logam berbeda dengan perawatan terhadap kayu, tulang dan kain. Pada koleksi yang terdiri dari beberapa macam bahan dibutuhkan kesabaran dan ketelitian dalam perawatannya.

Upaya kuratif dilakukan baik dengan obat-obatan kimia atau menggunakan ramuan alami. Hanya saja, penggunaan obat-obatan kimia memerlukan sumber daya yang mumpuni. Aspek kesehatan kurator maupun keamanan koleksi juga menjadi taruhan. Sehingga pihak museum NTT, menurut Itho, cenderung menggunakan pengobatan alami. Untuk membersihkan korosi (karat) pada logam dilakukan dengan cara mencampurkan sari jeruk nipis dan soda kue dalam takaran tertentu yang akan menjadi adonan layaknya pasta gigi. Adonan tersebut dioleskan pada koleksi dan disikat lembut. Koleksi kemudian dicuci hanya dengan menggunakan produk sabun Wings Biru, dan selanjutnya dibilas dengan air hingga bersih.

Untuk koleksi berbahan kayu, kurator akan meracik ramuan yang terdiri dari campuran tembakau, cengkeh, kulit pisang kering dalam takaran tertentu. Koleksi kemudian direndam dalam air bersama ramuan tadi selama jangka waktu tertentu, kemudian diangin- anginkan tanpa dibilas lagi dengan air bersih. Sementara untuk koleksi berbahan kain, kapas maupun serat tumbuhan yang berdebu atau berjamurakan ditempuh dengan jalan mengangin-anginkan koleksi, ataupun dengan menggunakan alat penghisap debu (vacum cleaner) bertekanan rendah.

Menurut Itho, pihaknya masih terus belajar dan mencaritau cara perawatan koleksi secara alami dengan terus menggalinya dari tradisi kebiasaan masyarakat. Patut dicatat, museum sebagai tempat belajar bagi siapa saja yang hendak mencaritau, mengenal sekaligus bernostalgia dengan ragam hasil budaya masyarakat NTT, tentunya menuntut tanggungjawab bersama semua pihak, khususnya masyarakat NTT. (*adi)