foto dua unit truk dan kayu milik keluarga Emirita yang ditahan Polres Kupang

Truk dan Kayu Ditahan Polres Kupang, Keluarga Emirita Lake Merasa Diperlakukan Tidak Adil

foto dua unit truk dan kayu milik keluarga Emirita yang ditahan Polres Kupang

foto dua unit truk dan kayu milik keluarga Emirita yang ditahan Polres Kupang

ZONALINENEWS.COM – OELAMASI, Merasa tidak melanggar aturan hukum Keluarga Emirita Lake yang beralamat di Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tenggah Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT) meminta agar pihak Polres Kupang segera mengembalikan atau melepas dua unit Mobil Truk yang bermuatan Kayu Jati gelondongan sebanyak 190 batang, yang ditahan oleh aparat Kepolisian Polres Kupang sejak 14 Februari 2018 lalu sekitar pukul 15.30.

“Kami sangat merasa dirugikan, karena penahanan barang kami oleh pihak Polres Kupang tanpa ada keterangan yang jelas,” kata Emirita Lake kepada wartawan di Kediamannya, Rabu 21 Februari 2018 sekitar pukul 13.30 wita.

Ia megatakan, sesuai peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan kehutanan Republik Indonesia (RI) nomor P.48/ MENLHK/ SETJEN/KUM.1/8/2017 pasal 10 ayat 6 yang mengatakan dalam hal terjadi pelanggaran dalam pengangkutan hasil hutan yang berasal dari hutan hak dengan menggunakan dokumen nota angkutan, sepetin terdapat perbedaan jumlah batang atau masa berlaku dokumen hasil di perjalanan dapat dikenakan administratif berupa pembinaan melalui teguran tertulis dari Kepala Balai. Pasalnya, ini merupakan revisi dari P.85.

Menurutnya, bertolak dari pasal tersebut  sebagai masyarakat sipil yang mengelolah kayu hasil hutan merasa diperlakukan secara tidak adil dan tidak kooporatif.

“Mengapa kami merasa diperlakukan tidak adil. Karena apabila kami melakukan pelanggaran, maka berdasarkan pasal 10 ayat 6 semestinya kami diberikan surat pembinaan berupa teguran tertulis,” ungkap Emirita.

Ketika dua unit mobil truk yang bermuatan kayu jati sebanyak 190 batang, lanjut Emirita seluruh dokumen – dokumen serta nota angkutan yang dimilikinya langsung diserahkan kepada anggota Polres Kupang yang tidak mengenakan pakian dinas. Namun ironisnya, kurang lebih dua jam setelah mobil dan kayu tersebut ditahan oleh anggota Polres Kupang ia bersama suaminya yang sebagai sopir disalah satu mobil truk itu dibuat bingung karena tidak ada kejelasan yang pasti atas penahanan tersebut yang dilakukan oleh pihak anggota Polres Kupang. “

Kita Sangat bingung dengan penahanan ini karena seluruh dokumen atau berkas seperti nota angkutan dan ijin mengelolah kayu hasil hutan yang diserahkan seluruhnya pada polisi masih dianggap tidak lengkap atau akurat oleh polisi,” jelasnya.

Ia menambahkan, terkait persoalan penahanan dua unit mobil truck serta kayu jati sebanyak 190 batang tersebut, ia telah melakukan laporan pengaduan secara tertulis yang di tujukan kepada Ketua DPRD Kabupaten Kupang, Gubernur NTT, Bupati Kupang, Ombusdman Republik Indonesia (RI) Perwakilan NTT, Kapolda NTT, Kapolri, Dinas Kehutanan Provinsi NTT, UPT Kehutanan Wilayah Kabupaten Kupang dan Kementrian Hukum Dan HAM RI.

Ia menilai, penahanan dua unit mobil truk dengan muatan 190 batang kayu jati itu oleh pihak Polres Kupang tersebut tanpa alasan yang jelas karena tidak ada berita acara penahanan mobil dan kayu.

“Memang mereka punya kewajiban untuk memeriksa dokumen – dokumen kita tapi  harus diketahui oleh pihak kehutanan juga. Tetapi yang terjadi penehanan mobil ini tidak ada surat penahanan yang diberikan ke kita. Sehingga sebagai masayarak kecil kita sangat dibingungkan dengan penangkapan ini,” kata Emirita.

Sementara itu ditempat terpisah, Kamis 22 Februari 2018 Kapolres Kupang  AKBP. Indera Gunawan yang dikonfirmasi wartawan mangatakan, terkait kasus tersebut, ia telah perintahkan penyidik untuk dibuat Laporan Polisi, karena sang pemilik mobil tersebut ketika ditangkap malah pulang sehingga tidak bisa dilakukan pemeriksaan oleh pihak kepolisian, namun kasus tersebut dalam proses penyelidikan Polres Kupang. Ketika disingung soal belum ada surat penahanan yang jelas terhadap pemilik mobil dan kayu sejak penangkapan pada tanggal 14 Februari 2018 lalu, apolres  mengungkapkan, ketika ingin dilakukan pemeriksaan terhadap pemilik mobil tersbut sudah pulang sehingga pihaknya baru bisa melakukan pemangilan terhadap pemilik mobil tersebut.

“ Ibu itu waktu ditangkap dia dan sopir malah pulang sehingga kita tidak bisa melakukan pemeriksaan terhadap sopirnya , tetapi sekarang sudah kita berikan sesuai prosedural, pemilik itu kita panggil dulu untuk berikan BAPnya apabila  sah maka kita kembalikan atau kasusnya SP3. Namun, apabila ada pelanggaran  kita akan melakukan pemeriksaan dimana pelangarannya. Sehingga kasus ini masih dalam penyelidikan,” kata Indera.

Ia menjelaskan, tindak pidana illegal loging harus dilihat ketentuannya, alat angkutnya disita untuk negara. Apakah regulasi ini masih tetap pihaknya masih melakukan penyelidikan dengan baik sehingga bisa mengetahui dimana penyimpangan dan pelanggarannya.

“jadi masalah ini masih dalam tahap proses pemeriksaan dan kita juga harus bertanggungjawan apabila kasus ini tidak ada penyimpangan tentu barangnya akan dikembalikan,” ungkap Indera. (*hayer)