SALVANO JAMAN, SVD

Yesus, Pilatus dan Soal Kebenaran

SALVANO JAMAN, SVDOleh  Salvano Jaman (Misionaris SVD Di Jepang)

Zonalinenews,Apa itu kebenaran? Inilah salah satu pertanyaan Pilatus kepada Yesus ketika Yesus diadili. Mengapa Pilatus bertanya tentang kebenaran?

Pertanyaan tentang “apa itu kebenaran” dapat dipahami sebagai sebuah bentuk pencarian terhadap hakekat kebenaran. Meskipun demikian, kita perlu melihat apa motivasi Pilatus dalam mengajukan pertanyaan tersebut. Hal ini penting sebab pencarian terhadap kebenaran juga seringkali dimotivasi oleh kepentingan-kepentingan sesaat yang egoistis. Akibatnya, yang dihasilkan bukanlah kebenaran yang sesungguhnya, melainkan kebenaran dari perspektif sang pencari kebenaran tersebut yang bisa saja  bersifat egoistis karena menyembunyikan kepentingan di baliknya.

Sekurang-kurangnya, ada tiga motivasi atau alasan orang bertanya. Pertama, karena ketidaktahuan. Orang bertanya karena ia tidak mengetahui sesuatu. Jawaban yang tepat dan benar atas pertanyaan tersebut akan menghasilkan sebuah pengetahuan. Kedua, orang bertanya karena ingin mencoba atau menguji orang lain. Di sini, penanya sudah tahu jawabannya tetapi ia mengajukan pertanyaan untuk menguji apakah orang lain mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut.  Ketiga, perbedaan pandangan tentang kebenaran. Orang bertanya karena memiliki perbedaan pandangan dengan orang lain. Ketika orang lain mengatakan bahwa apa yang disampaikannya merupakan sebuah kebenaran, maka kebenaran yang kita miliki akan ‘tergugat’. Oleh karena itu, orang perlu mengajukan pertanyaan lebih lanjut karena apa yang dianggap orang lain benar tidak sejalan dengan apa yang sudah dimilikinya sebagai sebuah kebenaran.

Dalam konteks dialog Pilatus dengan Yesus, hemat saya, pertanyaan tentang kebenaran yang diajukan Pilatus tidak bermotifkan ketidaktahuan dan juga tidak bermotifkan ujian atau cobaan. Pilatus bertanya bukan karena dia tidak tahu tentang kebenaran, dan bukan juga karena ia ingin mencoba Yesus. Motivasi di balik pertanyaan tersebut, hemat saya, adalah perbedaan pandangan tentang kebenaran. Yesus dan Pilatus  memiliki pandangan masing-masing soal kebenaran. Apa itu kebenaran menurut Pilatus? dan Yesus?

Pilatus mewarisi kebenaran tradisional dan kebenaran otoritas. Kebenaran tradisional mengasalkan kebenarannya pada tradisi-tradisi yang sudah ada. Apa yang sudah ada dalam sebuah tradisi adalah sebuah kebenaran dan karena itu tidak perlu diganggu gugat. Ideologi di balik kebenaran ini adalah ideology status quo yang cenderung mempertahankan kemapanan tradisi serta anti-perubahan.

Selain itu, Pilatus juga menganut kebenaran otoritas. Yang benar adalah apa yang mengalir dari sentra-sentra kekuasaan. Otoritas menjamin sebuah kebenaran. Yang berasal dari institusi dalam masyarakat yang tidak memiliki otoritas (politis) tidak diakui sebagai kebenaran. Otoritas Pilatus berakar dalam kekuasaan duniawi atau sekular dan meyakininya sebagai satu-satunya sumber kebenaran.

Perkataan Yesus tentang kebenaran mengundang tanya bagi Pilatus. Oleh karena itu, ketika Yesus mengatakan bahwa Dia datang untuk membawa kebenaran, Pilatus langsung bertanya tentang kebenaran apa yang dimaksudkan Yesus. Kebenaran seperti apa yang ingin diwartakan Yesus tersebut, sebab kebenaran juga (tradisional dan otoritas) sudah tertanam dalam diri dan latar belakang Pilatus.

Kehadiran Yesus justru melampaui dua kebenaran tersebut. Yesus datang mengkritik kemapanan tradisi yang justru melanggengkan ketidakadilan dalam masyarakat serta menggugat otoritas Pilatus yang juga menjadi sumber ketimpangan dalam masyarakat pada masa itu. Yesus datang ingin membawa perubahan dalam masyarakat. Ideologi di balik misi-visi Yesus adalah ideology ad quem yakni ideology yang menjunjung tinggi perubahan dalam masyarakat.

Kebenaran yang diwartakan Yesus sudah terkandung dalam seluruh karya pewartaan dan kesaksian selama hidupnya sebelum ia dibawa ke pengadilan dan dihukum mati. Yesus pernah mengatakan “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup”. Yesus adalah jalan, jalan kebenaran yang membawa orang yang mengikutiNya kepada kehidupan. Orang yang mengikuti jalan itu tidak akan pernah tersesat.

 Perbedaan pandangan tentang kebenaran antara Yesus dan Pilatus membuat proses pengadilan menjadi sebuah moment pertarungan antara dua kebenaran. Pilatus tampil sebagai seorang hakim dan Yesus sebagai yang didakwakan. Yesus dituduh oleh orang-orang pada masanya sebagai pengkhianat tradisi dan otoritas religus mereka.

Namun, dalam pengadilan itu, Yesus tidak memberi klarifikasi atas tuduhan itu. Yesus malah mengajukan sejumlah pertanyaan balik kepada Pilatus dan menguasai jalannya proses pengadilan. Kepada Pilatus, Yesus bertanya,  “Apakah pertanyaan itu berasal dari hatimu sendiri, atau engkau dengar dari orang lain”? “Kerajaanku bukan dari dunia ini…”. “Saya datang untuk memberi kesaksian tentang kebenaran. Yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku”.

 Yesus bertanya sebagai seorang hakim; sang Hakim Agung. Dia menghakimi Pilatus dgn pertanyaan apakah dia berasal dari kebenaran atau tidak. Setiap orang yang berasal dari kebenaran, pasti mendengarkan suaraNya, dan menerima kesaksian dariNya.

 Jumat Agung adalah juga moment peradilan atas diri kita manusia. Apakah kita jg berasal dari Kebenaran; dan setia memberi kesaksian tentang kebenaran? Kesetiaan pada jalan kebenaran Tuhan, meski melewati jalan salib dan pengorbanan sekalipun, akan membawa kekuatan dan keberanian kepada kita untuk membawa pembaharuan transformatif dalam kehidupan bersama. (*)

 Selamat memasuki pekan suci.


TAG