foto siswa demo di Kantor Gubernur NTT

Tidak Diakomodir Di Sekolah, Ratusan Siswa Demo Di Kantor Gubernur NTT

foto siswa demo di Kantor Gubernur NTT

foto siswa demo di Kantor Gubernur NTT

ZONINENEWS.COM – KUPANG, Sebanyak 400 ratu anak calon Siswa Sekolah Menegah Atas Negeri (SMA N) yang tidak diakomodir saat pendaftaran di sekolah dikarnakan sitem zonasi mengelar aksi demo di Kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu 25 Juli 2018, sekitar pukul 09.30 wita.

Pantau zonalinenews.com ratusan siswa tersebut yang mengunakan seragam SMA lengkap serta didampingi orang yang datang ke Kantor Gubernur NTT dengan bersorak – sorak sambil memegangkan spanduk kertas yang bertuliskan, kasihan kami anak – anak yang ingin sekolah karena orang tua kami tidak sehebat bapak atau ibu pejabat. Undang – Undang (UU) saja bisa diamandemen kenapa kebijakan tidak bisa dirubah. Copot Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan Provinsi NTT. Kami butuh sekolah. Bapak Presiden Jokowi tolong perhatikan kami anak – anak bangsa.

Aksi demo ratusan siswa yang didampingi oleh orang tua didepan ruang Plt Gubernur NTT itu sempat diwarnai kericuhan dengan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) Provinsi NTT karena petugas Pol PP yang bertugas di Kantor Gubernur NTT itu menghadang ratusan siswa tersebut tidak boleh bertemu dengan pelaksana tugas (Plt) Gubernur NTT Robeth Simbolon. Aksi saling dorong mendorong pun antara parasiswa dan Sat Pol PP pun terjadi sehingga membuat pasukan Sat Pol PP emosi dan menghajar salah satu siswa. Dalam aksi tersebut salah satu siswa menjadi korban arogan para petugas Sat Pol PP itu.
Salah satu orang tua siswa, Oma mengatakan, Aksi mereka ingin menutut tindak tegas oknum nakal dilingkup instansi Dinas Pendidikan serta Guru SMA Negeri di Kota Kupang. Karena kebijakan serta janji pihak Dinas Pendidikan yang tidak bemberikan solusi. “Kita datang kesini untuk cari solusi agar anak – anak kita ini bisa sekolah seperti anak – anak yang lain. Karena banyak anak – anak kita ini yang masuk dalam zonasi tapi tidak diakomodir di sekolah itu. Sistem zonasi yang dilakukan ini juga sangat tidak benar. Sebab masih ada anak – anak yang diluar zonasi diakomodir disekolah tersebut. Kita hanya minta kebijakan agar anak – anak kita bisa sekolah saja,” pintanya.

Sementara itu Plt Gubernur NTT, Robert Simbolon menilai masalah tersebut bukan masalah biasa sehingga dirinya siap membatu untuk menuntaskan masalah ini. “Jadi masalah ini kita sudah minta bantuan Ombudsman Republik Indonesia untuk melakukan infestigasi. Saya minta Kadis Pendidikan untuk mendata kembali seluruh siswa yang sudah ada. Saya bersama Sekda dan Kepala Dinas Siap bertagungjawab atas masalah ini. Dan kita akan minta pertagungjawaban dari orang – orang yang tidak bertanggngjawab itu,” kata dia.

Menurutnya, oroses untuk mengatasi masalah tersebut sangat memakan waktu yang lama. “Untuk proses ini sangat lama. Saya kuatir anak – anak yang ikut dalam masalah ini akan jauh tertingal mata pelajarannya. Oleh karna itu selaku orang tua harus bisa mengambil langkah untuk meyekolahkan anak – anak pada sekolah yang lain bisa diakomodir . Sehingga anak – anak tidak ketingalan mata pelajaran,” ungkap Simbolon. (*hayer)