IMG-20190305-WA0017

Sidang ke Empat Penggiat Anti Korupsi Dihadiri Komisi Yudisial


IMG-20190305-WA0017

Zonaline News,Baa. Sidang ke-4 dugaan pengrusakan penyangga pintu gerbang kantor DPRD Kabupaten Rote Ndao yang dituduhkan kepada penggiat anti korupsi Yunus Panie cs kembali digelar di pengadilan Negeri Rote Ndao, Selasa 05 Maret 2019.

Sidang dengan agenda pemeriksaan saksi yang diajukan pengacara terdakwa sebanyak dua orang yaitu Fredik Dillak dan Nur Pello, saksi meringankan (A de charge).

Salah satu saksi Fredik Dillak selaku saksi yang dihadirkan pihak kuasa hukum para terdakwa dalam persidangan menyatakan bahwa dirinya sebagai tukang las besi mengetahui dengan jelas bahwa jika dihitung dari mekanisme pembelian besi pengganti hinga las maka total kerugian hanya mencapai 750.000 ribu rupiah saja, menurut Fredik Dillak dirinya pernah diminta oleh orang dari bagian sekretaris daerah DPRD Rote Ndao(Sekwan) untuk memperbaiki kerusakan dimaksud, kemudian dirinya menuju gedung DPRD Rote Ndao tersebut, dan bukan gerbang pintu pagar yang rusak tetapi tiang penyangga pintu tersebut yang mengalami kerusakan dan itu bisa diperbaiki.

“jika hanya las saja maka harganya 300 ribu rupiah, tetapi kalau diganti juga tiang penyangganya maka total harganya 750.000 ribu rupiah,” tuturnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh saksi Nur Pello bahwa yang rusak sesungguhnya adalah tiang penyangga dari gerbang pintu tersebut, dan perlu di ketahui bahwa sudah ada niat baik dari lembaga Anti Korupsi Antra RI, untuk menggantikannya dengan mengumpulkan koin dari masyarakat namun para anggota DPRD enggan menerima.

Seusai mendengar keterangan para saksi Hakim Ketua yang memimpin sidang mengatakan, sesui fakta persidangan sesungguhnya yang mengalami kerusakan adalah tiang penyanggah pintu gerbang tersebut dan bukan pintu gerbangnya.

Marthen Lau, SH sebagai kuasa hukum para terdakwa,kepada wartawan usai sidang tersebut mengatakan,sesuai dgn keterangan yang dijelaskan para saksi dipersidangan maka dapat disimpulkan bahwa kasus ini mempunyai sebab akibat dan sebenarnya sangat simple, dan tidak bisa sampai kepada persidangan apabila dilihat menggunakan hati nurani dan kalau pihak wakil rakyat mau menerima itikad baik pihak Antra RI pada saat penyerahan uang ganti rugi kerusakan tiang penyangga pintu gerbang gedung DPRD tersebut.

“Sebenarnya perkara ini sangat simple, dari fakta persidangan dari awal sampai akhir itu ada penyebab,buktinya ijin mereka laksanakan,persyaratan formal mereka laksanakan tetapi tidak diberi akses oleh DPR dalam hal ini melalui polisi dan polisi pamong praja, sehingga terdorong emosi untuk mereka menggoyang pintu,”imbuhnya.

Marthen Lau menambahkan masa menggoyang pintu tersebut karena terdorong rasa ingin bertemu anggota DPRD, dan selama pintu tersebut digoyang terlihat dengan jelas dalam persidangan bahwa tidak ada respon dari pihak keamanan untuk menegor maupun menghalau mereka,karena itu Ia meminta agar majelis hakim memvonis sesuai fakta persidangan dan dengan hati nurani yang baik.

Sidang dipimpin Hakim Ketua Beaty D Simatauw,SH,MH,dibantu dua hakim anggota yakni Rosihan Lutfhi,SH dan Abdi Ramansyah,SH. JPU Kasi pidum Petres Mandala dan Yudit.

Pantauan wartawan turut hadir dan memantau jalanya persidangan masyarakat serta keluarga para terdakwa dan juga tiga utusan dari komisi Yudisial (KY)Provinsi NTT.(*Tony).