Prof. Yusuf Leonard Henuk Segera Diperiksa Polda NTT


Foto : Tommy Jacob SH, Kuasa Hukum Pemuda Adven Kota Kupang

Foto : Tommy Jacob SH, Kuasa Hukum Pemuda Adven Kota Kupang

ZONALINENEW.COM – KUPANG, Prof. Yusuf Leonard Henuk (YLH) yang dilaporkan oleh Pemuda Adven Kota Kupang pada 7 Januari 2018 lalu, kerena telah melakukan tindak pidana dugaan ujaran kebencian (SARA) melalui postingan di Media Sosial (Medsos) twitter dan facebook (FB) dengan mengunakan nama akun Prof. Yusuf Leonard Henuk itu segera diperiksa Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebab, dalam kasus tersebut tiga orang saksi dari Pemuda Adven Kota Kupang sudah selesai diperiksa oleh Penyidik Ditkrimsus Polda NTT. Hal ini disampaikan Kuasa Hukum Pemuda Adven Kota Kupang Tommy Jacob SH kepada zonalinenews.com di ruang kerjanya, Senin 18 Maret 2019, sekira pukul 15.30 wita.
Menurutnya, ketiga saksi tersebut yang sudah diambil keterangan oleh pihak Penyidik Dirkrimsus Polda NTT adalah saksi Barca Manilapai, Saksi Pendeta Jhoni Kana Jo dan Saksi Ahli dari Kanwil Kementerian Agama Provinsi NTT dari bidang Agama Kristen. “Jadi ketiga saksi ini semuanya sudah selesai diperiksa oleh Penyidik. Sehingga tahap berikut dalam kasus ini yang dilakukan oleh pihak Penyidik Dirkrimsus Polda NTT adalah melakukan pemeriksaan terhadap terlapor Prof. YLH sebagai pemilik akun di Medsos,” ungkap Tommy.
Selain itu sebagai Kuasa Hukum dari pihak Pemuda Adven Kota Kupang, kata Tommy dalam penaganan kasus tersebut oleh pihak Polda NTT sangat baik. “Saya sangat apresiasi dengan kinerja Penyidik Ditkmsus Polda NTT. Karena dalam menagani Kasus ini sangat berjalan lancar dan baik,” paparnya.
Dikatakan, surat pemberitahuan perkembangan hasil penyelidikan (SP2HP) yang diterima hari ini, Senin 18 Maret 2019 oleh kliennya dari Penyidik Dirkrmsus Polda NTT dengan nomor B /14 / IIIRes.2.5 / 2019 / Ditreskrimsus adalah tindakan selanjutnya, penyidik akan melakukan pemeriksaan terhadap terlapor. “Dengan adanya penanganan kasus ini oleh pihak Polda NTT semoga aja kedepan tidak ada lagi kasus yang serupa karena kasus seperti ini bisa menjadi perpecahan antara umat beragama di NTT,” ujar Tommy.
Dia menambahkan, NTT adalah rumah kita bersama. Dimana, NTT memliki banyak Suku, Agama dan RAS. “ Jangan kita pecah belahkan NTT dengan kepentingan pribadi kita. Kerukunan dan saling menghormati sesama umat beragama ini sangat baik. Dan sudah terjalin sejak nenek moyang kita. Dan juga saya rasa kasus ini bisa menjadi pelajaran kita bersama masyarakat di NTT pada umumnya,” jelas Tommy. (*hayer)