20190611_093830

Anak Perempuan Dijual 20 Juta, Pelaku Diringkus Polisi di Belu


20190611_093830

Zonalinenews-Kupang,- Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) berhasil meringkus dua orang terduga pelaku Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan korban MST Anak perempuan warga desa Oelbubuk Kecamatan Molo Tengah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).

” Para pelaku masing-masing, DS (38) warga Kelurahan Babau Kecamatan Kupang Timur Kabupaten Kupang dan AD (20) warga Oebubuk Kecamatan Molo Tengah Kabupaten TTS,” Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Direktur Reskrimum Polda NTT, AKBP Anton C. Nugroho didampingi Staf Bidang Humas Polda NTT Ipda. Viktor Nenotek saat menggelar jumpa pers Selasa 11 Juni 2019 pukul 09.30 wita di Mapolda NTT.

Menurut Anton Nugroho, pada tanggal 18 April 2019 sekitar pukul 16.00 wita Korban MST direkrut oleh tersangka AD dari desa Oelbubuk kemudian dibawa ke Kupang dan ditampung selama 5 hari di rumah saudari YN dan selanjutnya korban diserahkan DS untuk diproses keberangkatannya menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia secara ilegal.

” Tersangka DS membuat surat keterangan domisili korban menggunakan alamat kelurahan Lasiana Kecamatan Kelapa Lima Kota Kupang tanpa ditanda tangani lurah Lasiana,”tutur AKBP Anton C. Nugroho.

Karena identitas korban tidak lengkap dan belum ditandatangani Lurah saat hendak berangkat melalui Bandara El Tari tutur AKB Anton Nugroho, korban diamankan oleh petugas Tim Satgas Nakertrans Propinsi NTT.

Anton Nugroho menjelaskan setelah korban diamankan, Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Nusa NTT melakukan perkembangan penanganan kasus dan pada 20 Mei 2019 dilakukan penangkapan tersangka AD di Atambua Kabupaten Belu. Dan pada tanggal 01 Juni 2019 dilakukan penangkapan terhadap tersangka DS .

” DS berperan sebagai bos dari AD yang melakukan perekrutan korban. Untuk Penampung di Malaysia inisial E . Sedangkan korban dijual dengan harga 20 juta. E berperan mengirim uang 20 juta ke DS dan DS mengirim uang sebesar 3 juta ke AD guna mengantar korban ke Kupang. Sedangkan untuk S di Batam Kepulauan Riu adalah orang yang mengurus paspor tersangka untuk dikirim ke Malaysia. Kami masih melakukan pengembangan terhadap E dan S,” ungkap Anton Nugroho,(*tim)