Dilaporkan Ahli Waris Nasabah ke Polda, BPR Christa Jaya Siap Hadapi


Zonalinenews-Kupang;- Bank Perkreditan Rakyat ( BPR) Christa Jaya Perdana Kupang siap menghadapi laporan polisi ahli waris nasabah MM, istri almarhum Wellem Dethan terkait dugaan melakukan transaksi sepihak tanpa persetujuan ahli waris dengan mendroping pinjaman sebesar Rp. 110 juta dan Rp. 200 juta

Herry F.F. Battileo kuasa Hukum istri almarhum Senin 17 Juni 2019 malam saat menggelar jumpa pers terkait persoalan tersebut menjelaskan laporan kasus ini ke Polda NTT tanggal 22 Mei 2019 dengan Nomor : LP/B/184/V/RES.1.11/2019/SPKT1.

Bank Christa Jaya Perdana Kupang kata Herry dilaporkan karena diduga melakukan penipuan dan penggelapan atas dua buah objek hak tanggungan yang dijaminkan Wellem Dethan Almarhum, berupa sebidang tanah bangunan SHM 166 seluas 488 M2 An. Wellem Dethan di Kelurahan Sikumana dan sebidang tanah bangunan SHM 168 seluas 334 M2.

” BPR Christa Jaya Perdana Kupang tidak mengembalikan secara patut dua objek hak tanggungan yang dijaminkan almarhum, diduga BPR Christa Jaya menggelapkan barang milik kliennya selaku ahli waris,” ungkap Herry.

MM istri almarhum pada kesempatan itu menjelaskan, setelah keluar jaminan baki debet kredir pinjaman almarhum sebesar nol, akan tetapi tiga objek tanggungan yang dikeluarkan/diroya mobil Toyota Rush tahun 2000 dan sisa jaminan dua bidang tanah belum dikembalikan oleh BPR Christa Jaya.

” Saya kaget ketika mendapat surat pemberitahuan dari BPR tanggal 6 Maret 2019 dan 20 Februari 2019 serta surat peringatan I , bahwa selaku ahli waris almarhum belum menyelesaikan tunggakan sebesar Rp 224.000.000,- dan menyatakan paling lambat 27 Februari tidak menyelesaikan tunggakan maka jaminan akan dipulikasikan, dileleng atau dieksekusi ,” ungkap MM.

Lanjut MM , setelah mendapatkan surat, dirinya menghadap ke BPR Christa Jaya untuk mendapatkan penjelasan namun penjelasan yang disampaikan manajemen BPR tidak memuaskan dirinya soal droping pinjaman padahal dirinya adalah istri sah almarhum Wellen Dethan.

Menanggapi persoalan ini maneger BPR Christa Jaya, Wilson Liyanto didampingi Direktur, Lanny Tadu Kepala Pekreditan , Yunus Laiskodat kepada wartawan Selasa 18 Juni 2019 pukul 16.00 wita menjelaskan soal tudingan istri almarhum bahwa BPR Christa Jaya melakukan droping transaksi tanpa persetujuan istri almarhum tidak benar.

“Tidak ditandatangani SP kredit tidak benar. Bahkan SPK ditandatangani oleh almarhum dan istri. kami punya buktinya. Saya mau sampaikan bahwa almarhum merupakan nasabah proritas BPR belasan tahun bahkan sebelum BPR ini berdiri sudah bekerjasama dengan ayah saya selaku pimpinan,” jelas Wilson.

Almarhun Wellen semasa hidup kata Wilson adalah nasabah yang sangat bagus tidak pernah mengalami kemacetan saat kredit di BPR.

” Setiap kali melakukan proses kredit almarhum tepat waktu bahkan sebelum jatuh tempo sudah diselesaikan. Almarhum nasabah proritas dan nasabah spesial Bank Christa Jaya, sehingga pelakuan khusus buat almarhum karena soal kredit dipastikan transaksi akan aman dan tak penah bermasalah,” ujarnya.

Keunggulan Bank Crista Jaya adalah kelonggaran tarik bagi nasabah apabila masa kredit lunas sebelum batas waktu dan nasabah mau menambah jumlah kredit tidak dipersulit

” Cukup datang tanda tangan slip penarikan dan slip longar tarik kita bisa cairkan kredit. Tapi lain cerita kalau jangka waktu penyelesaian kredit sudah berakhir maka harus ditandangani suami istri ,” jelas Wilson.

Dijelaskannya, bila keinginan istri almarhum ditandatangani berdua atau buku rekaning bukan atas nama almarhum tapi buku rekening ditandatangani berdua dalam istilah perbankan QQ. itu bisa namum buku rekening atas nama almarhun sehingga transaksi bisa dilakukan olehnya tanpa persetujuan istri.

Tekait laporan polisi kata Wilson pihaknya siap menghadapi proses tersebut. (*tim)