Kepsek Sibuk, Dua Tahun Upah Guru Honor Belum Dibayar PKO: Kelalaian Sekolah


Zonalinenews.Com, Larantuka Cerita buram mengenai kehidupan para guru khususnya di wilayah pelosok seperti tidak ada habis-habisnya. 

Hal tersebut juga dialami pendidik yang berbakti di SDK (Sekolah Dasar  Katolik) Kokang Wulanggitang Kabupaten Flores Timur Nusa Tenggara Timur.

Terhitung sejak April 2017 hingga 2019, sejumlah guru di sana belum menerima upah alias honorer yang bersumber dari Dana BOS.

Kepala Sekolah Bartolomeus Liwun ketika dikonfirmasi, tidak menampik fakta tersebut.

Ia mengatakan belum terbayarnya  honor dua orang guru bervariatif antara 500 ribu serta 600 ribu lebih pada urusan administrasi yang belum dimengerti secara baik. 

“Benar dua orang guru belum dibayar honor dari tahun 2017. Saya tunjuk kwitansi di tahun 2018, itu disampaikan itu sudah tidak bisa lagi digantikan pakai administrasi terbaru. Itu kesulitan yang kami alami” jelasnya beralasan. 

Selain itu, alasan kesibukan menjadi salah satu penyebab utama keterlambatan pengurusan administasi. 
“Saya memang ada kesibukan. Sibuk banyak sekali. Di sekolah itu,  terlalu sibuk sehingga tidak urus laporan” Ujarnya berkali-kali.

Menyikapi persoalan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PKO)  melalui Sekretaris Fransiskus X. Resiona juga Manager Dana BOS membenarkan apa tenga dialami salah satu Lembaga Pendidikan yang bernaung di bawah payung Yapersuktim. 

“SDK kokang ini salah satu penerima
Dana Bos. Dana Bos tahun 2017 baru
realisasi Tri wulan pertama yakni
Bulan Januari-Maret. Sampai dengan kondisi saat ini dana
Bos untuk SDK Kokang itu belum terealisasi” terangnya kepada Wartawan Senin, 24 Juni 2019.

Belum direalisasinya pertanggungjawaban penggunaan di Tri Wulan pertama oleh pihak sekolah menjadi kendala utama 
.
“Penggunaan dana Tri Wulan
pertama di tahun 2017 belum dapat di pertanggungjawabkan oleh SDK Kokang, maka pencairan dana Bos untuk tahap berikut otomatis belum dapat dilayani” sebut Resiona.

Ia juga mengatakan, Dana BOS sudah berada di rekening sekolah akan tetapi pihak sekolah tidak bisa mencairkan sepanjang belum ada rekomendasi dari Dinas dengan terdahulunya melengkapi administrasi. 

Sebagai Manager Dana BOS, Resiona membeberkan beberapa fakta terkait persoalan serupa yang mana juga dialami lembaga pendidikan lainnya. 

“Kami punya data. Tahun 2017, ada sekolah hanya mencairkan Tri Wulan pertama, lainnya sampai Tri Wulan ke dua bahkan ada pula sama sekali belum dicairkan” bebernya.

Resiona menilai kejadian tidak mengenakan yang dialami para pahlawan tanpa tanda jasa tersebut merupakan murni kelalaian Kepala Sekolah. 

Ia berharap, setiap Lembaga Pendidikan penerima Dana BOS bisa memasukan administrasi tepat pada waktu sehingga kejadian serupa tidak kembali terulang. (*tim)



TAG