Lantai Rumah Berubah Jadi Panas, Warga Kota Kupang Khawatir Ada Gas Bumi


Foto : Warga Kelurahan Liliba Sang Pemilik Rumah, Banase Laning

Foto : Warga Kelurahan Liliba Sang Pemilik Rumah, Banase Laning

ZONALINENEWS.COM – KUPANG, Lantai rumah milik warga di RT 01/RW 02 Kelurahan Lilaba Kota Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT) berubah menjadi panas membuat kepanikan terhadap pemilik rumah tersebut. Pasalnya diduga ada fenomena alam gas bumi.

Pemilik rumah, Manase Laning mengungkapkan, kejadian lantai rumah miliknya berubah panas pada, Kamis 13 Juni 2019, sekira pukul 17.00 wita. dirinya dari kamar tidur hendak ke dapur dengan tidak menggunakan alas kaki. Tepat di depan pintu dapur miliknya itu ia merasa panas ditelapak kakinya yang berasal dari lantai yang diinjaknya.

Menurutnya ketika ditelusuri perlahan-lahan dengan cara meraba lantai hawa panas itu muncul dari beberapa areablantai hingga ke depan pintu kamar tersebut.

“Awal kita pikir panas ini karena ada pengaruh dengan aliran listrik. Tapi ketika listrik kita padamkan hawa panas tersebut hingga pagi panas tetap stabil, “kata Manase kepada wartawan di kediamannya, Jumat 14 Juni 2019, sekira pukul 13.30 wita.

Dikatakan, apabila panas tersebut berasal dari arus listrik maka seluh atap seng dipastikan mengandung strom listrik.

“Ini kita sudah cek semua seng tidak ada unsur arus listrik. Dan anehnya lantai itu ketika diraba dengan tangan tidak bisa bertahan selama 40 dekit karena hawa panas tersebut. Saya duga kejadian ini adalah fenomena alam gas bumi.” jelas Manase.

Dengan kepanikan, kata dia kejadian tersebut langsung dilaporkan ke Badan Penanggulangan Bencada Daerah (BPBD) Kota Kupang, tim SAR dan pihak Dinas Pertambangan Provinsi NTT. Namun, ironisnya hingga saat ini Dinas Pertambangan yang diketahui memiliki alat deteksi tersebut terkesan mengabaikan laporan tersebut.

“Kita panik karna kita takut apabila lantai ini ada mengan gas bumi bisa terjadi hembusan dikemudian hari. BPBD Kota Kupang yang Kita hubungi hanya datang melihat kejadian ini saja tapi tidak memiliki alat deteksi. Pihak Dinas Pertambangan Provinsi yang kita hubungi itu mereka hanya menjawab iya saja tapi belum juga datang karena alasan masih menunggu petugas yang memegang alat diteksi itu,” ungkap Manase.

Dia menilai sikap pelayanan Dinas Pertambangan Provinsi NTT sangat buruk. Karena sudah mengabaikan laporanmasyarakat.

“Apabila belum ada petugas pihak Dinas Pertambangan yang untuk melakukan diteksi maka sebentar malam kita belum bisa tidur dengan tenang karena kita takut jangan sampai ada kejadian – kejadian yang kita tidak inginkan muncul di malam hari,” tegas Manase.

Hingga berita ini dipublikasikan pihak Dinas Pertambangan Provinsi NTT belum dapat dikonfirmasi. (*hayer)