Pemda Gandeng Komunitas Batik Tanam Manggrove di Pantai Nagelewa


IMG-20190618-WA0068

Zonalinenews.com – Mbay – Penggiat lingkungan yang tergabung dalam Komunitas Pemuda Aeramo, Pemerintah Daerah (Pemda) Nagekeo dan TNI-AL melakukan aksi peduli lingkungan menanam pohon bakau atau manggrove di pantai Nagelewa Desa Aeramo Kabupaten Nagekeo NTT.

IMG-20190618-WA0065ì

Bupati Nagekeo Dr.Yohanes Don Bosko Do menjelaskan di pesisir pantai memang abrasi sudah jadi ancaman nyata buat kita karena lajunya daratan yang tergerus setiap tahun 1 atau 2 meter dan Don Bosko mengajak kita harus gencar menanam tanaman manggrove.

IMG-20190618-WA0067

Harapannya kegaitan ini akan berlanjut dan diikuti oleh kegiatan serupa di berbagai daerah. ” Kabupaten Nagekeo ini kaya akan potensi sumber daya alam, khususnya di kawasan pesisir, oleh karenanya, menjadi tanggung jawab kita untuk memanfaatkannya secara bertanggung jawab, yakni dengan tetap memberikan perlindungan lingkungan dan ekosistem yang ada,” Kata Bupati Yohanes Don Bosko Do Selasa 18 Juni 2019.

Pada kesempatan yang sama pendamping Komunitas Batik Yakobus Mapa mengatakan kegiatan peduli ini juga dilakukan dengan melepasliarkan benih rajungan di lokasi.

Mapa berharap kegiatan ini tidak diukur dari jumlah bibit mangrove yang ditanam, melainkan dengan keberhasilan pemulihan lahannya.

Dia juga mengatakan masyarakat dan Pemda harus terlibat aktif dalam rehabilitasi hutan bakau di berbagai lokasi

” Sebaliknya pelibatan masyarakat lokal dalam rehabilitasi mangrove menjadi penting. Masyarakat bukan lagi menjadi objek atau pekerja saja, tetapi menjadi tuan rumah di daerah sendiri. Kegiatan Ini yang dilakukan oleh komunitas Batik dan Pemda ini sudah sangat baik, harus dikembangkan,” ucap Mapa.

Kegiatan ini kata Mapa bentuk kepedulian atas kondisi lingkungan pesisir khususnya di sepanjang pesisir di Desa Aeramo.

” Penting untuk menjaga ekosistem pesisir karena merupakan habitat penting bagi ikan, udang, kepiting, burung air hingga mamalia laut,” tuturnya.

Menurutnya degradasi kualitas lingkungan pesisir dipicu terjadinya deforestasi hutan mangrove yang cukup signifikan dalam beberapa dekade tarakhir. Padahal mangrove tercatat sebagai ekosistem terproduktif di dunia. Mangrove merupakan awal dari rantai makanan di pesisir pantai.

“Kita mengamati alih fungsi lahan hutan mangrove menjadi lahan bagi kegiatan ekonomi menjadi penyebab utama berbagai masalah lingkungan pesisir. Kita lihat yang paling kentara yakni laju abrasi dan penurunan produktivitas perairan pada ekosistem mangrove secara signifikan,” ucap Mapa.

Kegiatan ini bukan gaya-gayaan semata. Menurutnya, hal ini wujud nyata kepedulian pada lingkungan.

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Nagekeo, Marsel Muda menjelaskan kegiatan ini berkaitan dengan HUT Badan Lingkungan Hidup sedunia dengan tema Nasional Marilah Kita Birukan Langit Ini Dan Marilah Hijaukan Bumi dan sekaligus hari ini kita bersama menanam manggrove di pantai ini, di desa Aeramo.

Marsel berharap pemuda batik dan pemuda Bahari yang menjadi terpenting dan tidak terpisah dari Dinas Badan Lingkungan Hidup. Pemuda-pemuda dari Batik dan Bahari punya kiprah yang langsung berurusan dengan Dinas Badan Lingkungan Hidup. Dalam penanaman, pelestarian dan pengawasan merupakan tanggung jawab komunitas orang muda, Sehingga orang muda bukan hanya saat ini tapi untuk kedepan komunitas Batik dan Bahari menjadi tidak terpisahkan dari pemerintah Nagekeo melalui Dinas Bagian Lingkungan Hidup.

Ketua Batik Aeramo Dhije, sangat berterima kasih atas peran orang muda turut andil langsung menggandeng Pemda,TNI-AL dan masyarakat dalam menjaga kelestarian ekosistem manggrove.

Komunitas Batik menyampaikan apresiasi terhadap Bupati Nagekeo beserta SKPD, Dinas Bagian Hidup,TNI AL,Kades Aeramo, masyarakat Aeramo.

” Kami bersama elemen masyarakat tentu berkomitmen untuk menjaganya”, tutur Dhije.

Pantauan media Zonalinenews.com turut hadir dalam acara itu Bupati Nagekeo beserta SKPD, Kadis Dinas Bagian Hidup Kadis Perikanan,TNI AL, Kades Aeramo beserta perangkatnya, Kades Nangadhero, Komunitas Batik, Komunitas Bahari, LSM dan masyarakat Desa Aeramo. (*Nasan Kua)