Ritual Adat Ria Ura Ngana dan Moza Laba,Rekonsilisasi Perselisihan Batas Wilayah


IMG-20190615-WA0011

Zonalinenews-Ngada,- Pintu Manuk_, yaitu prosesi saling menukar ayam antar dua daerah, dilanjutkan dengan ritual adat _Ria Ura Ngana_ dan _Moza Laba_, yakni penyembelihan seekor babi dan seekor sapi sebagai simbol rekonsilisasi perselisihan tapal batas wilayah Kabupaten Ngada dan Kabupaten Manggarai Timur.

IMG-20190615-WA0009

Acara diawali dengan tarian penyambutan dan pengalungan kain adat kepada Gubernur Viktor yang datang bersama rombongan Bupati Manggarai Timur (Matim) Agas Andreas bersama Wakil Bupatinya Stefanus Jaghur dan Bupati Ngada, Paulus Soliwoa.

IMG-20190615-WA0010

Acara dilanjutkan dengan _Pintu Manuk_, yaitu prosesi saling menukar ayam antar dua daerah. Selanjutnya, diadakan ritual adat _Ria Ura Ngana_ dan _Moza Laba_, yakni penyembelihan seekor babi dan seekor sapi sebagai simbol rekonsiliasi.

IMG-20190615-WA0008

Pemasangan pilar secara simbolis dan penanaman anakan beringin di titik koordinat lima Bensur, dilaksanakan setelah acara ritual adat Gubernur bersama Bupati Ngada dan Bupati Matim selesai.

” Tdak ada pembangunan yang dapat dilaksanakan dalam permusuhan dan perpecahan. Dimanapun itu, tak akan pernah ada !. Itulah sepenggal pesan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) dalam sambutannya pada acara seremoni pemasangan pilar batas antara Kabupaten Ngada dan Mangagrai Timur di Bensur, Desa Sambinasi Barat Kecamatan Riung Kabupaten Ngada, Jumat 14 Jumat 2019

Kegiatan ini merupakan lanjutan dari hasil kesepakatan penyelesaian tapal batas antara Kabupaten Ngada dan Kabupaten Manggarai Timur pada 14 Mei 2019 lalu, yang berlangsung di ruang rapat Gubernur NTT.

Gubernur Viktor pada kesempatan itu mengajak warga dari kedua kabupaten di daerah perbatasan untuk bersyukur, karena masalah tapal batas yang telah terkatung-katung selama 46 tahun, bisa terselesaikan juga.

“Perdamaian ini bukan kerja siapa-siapa. Perdamaian ini adalah hasil dari cara kerja cinta kasih kedua belah pihak, yang sudah capek untuk saling berhadapan dalam perbedaan. Pada hari ini kedua belah pihak sepakat. Oleh karena itu kita semua patut bersyukur, karena cinta kasih dari semua warga yang ada di sini telah melahirkan sebuah kejadian yang beradab ini,” begitu jelas Viktor.

Viktor pun berharap, agar Pemerintah Kabupaten Ngada dan Kabupaten Matim beserta semua unsur untuk terus mendukung program-program Pemerintah, sehingga bisa digapai percepatan pembangunan infrastruktur, demi peningkatan produktifitas dan pertumbuhan ekonomi di daerah.

“Tolong, jangan dengar isu apapun selain tentang informasi kemajuan. Jangan lagi dengar hoaks agar pembangunan pertanian, peternakan dan pariwisata dapat bertumbuh, sehingga tempat ini bisa jadi hebat, maju menjadi daerah yang luar biasa,” ujar Viktor.

Lebih lanjut, Putra Semau itu menegaskan kepada warga masyarakat di sekitar perbatasan, untuk tidak lagi melihat masa lalu dan terjebak di dalamnya.

Ia mengajak keterlibatan semua, untuk bersama-sama maju menuju masa depan yang cerah.

“Saya yakin, kedua Bupati yang hebat ini, dapat membangun tempat ini menjadi tempat yang lebih hebat lagi !” sambung Viktor dengan semangat, diikuti tepukan tangan warga masyarakat yang hadir siang itu.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Ngada Paulus Soliwoa berharap agar 37 pilar yang nanti dipasang, tidak dijadikan pemisah dan pembeda antara Ngada dan Matim. Siliwoa berharap, pilar yang ada justru dijadikan sebagai pilar pemersatu antara Ngada dan Matim.

Tampak hadir pada kesempatan tersebut unsur Forkopimda kedua Kabupaten, pimpinan dan utusan perangkat daerah baik dari Pemerintah Provinsi NTT maupun dari Pemkab Ngada dan Pemkab Matim, TNI/POLRI, Para Tetua Adat dan Tokoh Masyarakat kedua Kabupaten, serta warga masyarakat di daerah perbatasan.(* Humas dan Protokol NTT)