IMG-20190613-WA0017

Sinopsis Sejarah Berdirinya Gereja Warabu Harilolong di Pulau Pura


IMG-20190613-WA0016

Zonalinenews;- Sejarah Berdirinya Gereja Warabu Harilolong, Klasis Alor Barat Laut, Gereja Masehi Injili Di Timor (GMIT). Ditulis saat pentabisan GMIT Warabu Harilolong, Jumat 7 Juni 2019.

Pada masa kepemimpinan Ds. A.A Van Dallen (1920-1924) sebagai Pendeta tetap di Alor-Pantar, injil mulai masuk di pulau Pura melalui Guru Romelus Toilihere pada 1 Januari 1923, bertempat di Baobao-Pakalang.

Dalam waktu yang bersamaan juga berdiri sekolah rakyat (Volkschool), dan satu minggu kemudian diadakan kebaktian perdana pada 8 Januari 1923, momentum ini dimaknai sebagai hari lahirnya pekabaran injil di Pulau Pura.

Thema khotbah dalam ibadah pertama saat itu: Akulah Terang Dunia. Thema ini diangkat dari Tiga pembacaan firman Tuhan yakni. Yohanis 14:1, Matius 5:13-16 dan Yesaya 49:1-7.

Jemaat Mula-mula di Pulau Pura berjumlah 23 orang. Mereka juga adalah siswa pertama di Volkschool yang di pimpin oleh Bapak Romelus Toilihere. Pada Tahun Kedua siswa bertamba 58 siswa, namun diantaranya 9 siswa beragama Islam.

Sekolah dan Gereja pindah ke Liman Omi pada masa kepemimpinan Ds. W. Akkerman (1924-1925), dengan wilayah pemerintahan yang terdiri dari Wilayah pulau Pura ( Dadibira, Mota, Doruabang-Lahaabang, Liman Omi, Timuabang kiki (Pakalang), Harilolong, Hindi abang (Maranglelang), Timuabang, Apuri dan Adfiling Adang).

Wilayah kepala burung yang dipimpin oleh Raja Umar Wetang Nampira. Atas persetujuannya dengan guru Romelis Toilehere maka sekolah dan Gereja dipindakan ke Liman Omi pada 1 Februari 1925.

Alasan dipindakan, yang pertama adanya bencana angin badai yang merobokan rumah sekolah yang dipakai sebagai tempat ibadah hari Minggu. Yang kedua karena lokasi sekolah sempit sedangkan siswa bertambah banyak, pemberitaan injil kepada jemaat-jemaat dikoordinir oleh Bapak Romelus Toilehere.

Romelus Toilehere kemudian membagi pulau Pura dalam Empat wilayah pelayanan, dan memberikan tangungjawab kepada orang-orang yang dianggap cakap dalam melayani. Yakni : Petrus Millu, melayani jemaat diwilayah Limarahing, Lobang dan Bait omi. Ferdinan Anigomang, melayani jemaat diwilayah Bait Abang, Mariabang, Dengwa, Malal.

Lanjut Yonatan Dopongabora, melayani jemaat wilayah Dadibira, Bampala, dan Hari Abang. Nikodemus Belaweni, melayani jemaat diwilayah Pulawala, Lapawala, Pulateli, Dolabang, dan Durubang.

Berdirinya Gereja Harilolong.
Sejak Tahun 1964 inisiatif majelis jemaat asal Harilolong, orang-orang tua dan tokoh-tokoh Harilolong lakukan pertemuan dan pendekatan dengan majelis jemaat Limarahing untuk membahas tentang bersdirinya Gereja Harilolong sebagai satu mata Gereja, dengan alasan jarak sehingga sulit anggota jemaat Harilolong mengikuti kebaktian Minggu dan kebaktian-kebaktian lainnya, terlebih pada waktu musim hujan, dan untuk ibu-ibu hamil atau menyusui.

Akhirnya dengan usaha dan kerja keras melalui Ketiga majelis jemaat asal Harilolong, yakni Penatua Nikolaus Millu, Syamas Isak Lalangpuling, Syamas Permenas Djahimo dengan orang-orang tua lainnya, dan dalam pertemuan itu membuahkan satu kesepakatan bahwa jemaat Harilolong harus berpisah dengan jemaat Limarahing.

Akhirnya Pada 7 Juni 1965 berdirilah mata Gereja Harilolong di kampung lama (Belikedang) dengan kondisi gedung darurat, beratapkan alang-alang, berdinding bambu dan berlantai tanah.

Dengan berkembangnya jemaat yang makin hari makin bertambah, dan tempat pemukiman yang sudah tidak dapat menampung tempat tinggal jemaat, dan anggota jemaat lebih cenderung hidup dekat dengan sumber air, dan laut sebagai salah satu mata pencaharian, akhirnya jemaat bersepakat untuk membangun gedung Gereja yang baru di Aluaong, dengan rentetan pekerjaan sebagai berikut:

Tanggal 31 Oktober 1971 pembuatan Pondasi, Mei 1977 kegiatan pemahatan, September 1977 bangun badan gedung, Oktober 1977 kegiatan Pengatapan, penembokan sampai finising berakhir Desember 1978.

Setelah gedung Gereja di Aluaong selesai dibangun, tanggal 31 Desember 1978 semua anggota Jemaat berkumpul di gedung Gereja yang lama, di kampung lama-Belikedang pada kebaktian malam akhir kunci Tahun, kebaktian itu dipimpin oleh Pdt. Bernadus Duka (Alm).

Setelah kebaktian, anggota jemaat tetap bekumpul dalam gedung kebaktian untuk memberikan puji-pujian kepada sang pemilik kehidupan, sampai pagi.

Pada tanggal 1 Januari 1979 pagi, jemaat beriringan menuju tempat kebaktian yang baru di Aluaong untuk mengikuti kebaktian Tahun baru, dipimpin oleh Pdt. Yosiba Sinamohina (Alm).

Sejak saat itu gedung Gereja Warabu dipakai sebagai tempat kebaktian jemaat sekaligus diberi nama mata jemaat Warabu Harilolong.

Pada tanggal 12 Mei 2019 gedung kebaktian jemaat Warabu di Aluaong dibongkar oleh anggota jemaat Warabu Harilolong lewat bhakti sosial bersama Pemuda GMIT Kamengtakali, karena gedung kebaktian GMIT Warabu Harilolong yang baru telah dibangun.

Baca Juga Zonalinenews: Pumuda GMIT Kamengtakali Gelar Baksos Di Pulau Pura.

Jumat, 7 Juni 2019 ketua sinode GMIT, Pdt Dr. Meri Kolimon resmi menabiskan gedung Gereja yang baru untuk digunakan sebagai tempat Ibadah jemaat Warabu Harilolong.

Baca Juga Zonalinenews: GMIT Warabu Pulau Pura, Resmi Dithabiskan. Ini Pesan Ketua Sinode.

Pertumbuhan dan perkembangan Gereja Warabu Harilolong.
Jauh sebelum terbentuknya Gereja-Gereja Mandiri, Gereja Limarahing (Liman Omi) sebagai induk pelayanan di Pulau Pura.

Gereja dan Jemaat makin bertambah, maka untuk mempermuda pelayanan Gereja, maka pada Tahun 1967 oleh Klasis Alor Barat Laut, wilayah Pura-Ternate disatukan dalam wilayah pelayanan (WIPA).

Wilayah Pelayanan ini diberi nama Wipa Putra. Yang membawahi 4 jemaat yaitu: Jemaat Wilayah Biola (Biatabang, Bogakele, dan Hula), Jemaat Wilayah Arema (Apuri, Retta dan, Malal), Jemaat Wilayah Melati (Melangwala, Dolobang, dan Pulateli), Jemaat Wilayah Wadah (Warabu, Dadibira, dan Limarahing).

Dalam perkembangan Gereja selanjutnya, sesuai dengan program Sinode tentang pemekaran klasis-klasis dan jemaat Wilayah menjadi jemaat mandiri, maka sesuai keputusan Sinode GMIT nomor: 003/SK/MS-GMIT/2002, tanggal 1 Februari 2002 jemaat Warabu Harilolong dinyatakan menjadi jemaat Mandiri.

Sesuai dengan keputusan majelis Sinode, Pdt. Saul Hingmadi ditempatkan di jemaat Warabu Harilolong sebagai ketua majelis.

Setalah jemaat Warabu menjadi Mandiri Tahun 2002, maka lahirlah jemaat wilayah penganti Wadah, yaitu Lida (Limarahing dan Dadibira).

Para Pendeta yang melayani sakramen di Jemaat Warabu Harilolong: Pdt. Tera Manu, Pdt Bernadus Duka, Pdt Yosiba Sinamohina, Pdt Azes Djasing, Pdt Daniel Dakapuling, Pdt. Krinuis Dakamoli, Pdt. Moses Duka, Pdt Julius Lapkoli, Pdt. Maria P. Duka, Pdt. Saul Hingmadi (1999-2010), Pdt. Ishak Tefnay, S.Th (2010-2014), Pdt Rony I.Y Boling. sampai sekarang.

Penangungjawab dan Guru injil Warabu Harilolong: Pdt. Nikolaus Millu (1965-1979), Guru Injil Petrus Kamore, Pdt Yusak Tuludang (1979-1987), Pdt. Serentrius Lalangpuling (1987-1999).

Struktur Organisasi Majelis Jemaat Warabu Harilolong Periode 2015-2019.

Majelis Harian: Ketua Pdt Rony I.Y Boling, Wakil Ketua Pnt Hendrik Donumo, Sekretaris I Pnt Roberson Tuludang, A.Md., Skretaris II Pnt Yordan Lalangpuling, Bendahara I Pnt Mesak Obidaka, S.Pd., Bendahara II Dkn. Christina K.M Lododjami-Djahimo, Bendahara III Pnt Naomi Millu.

UPP: Par Dkn. Depria Namangboling-Kolang, Pemuda Dkn. Rafael Millu, Bapak GMIT Pnt. Markus Millu, Perempuan GMIT Pnt. Desemina Millu-Djahimo, Persekutuan Doa Pnt. Yesaya Millu, Lansia Dkn. Sarah Djumata-Kolibel, Badan Diakonat jemaat Dkn. Elisabet Donuisang-Dakahamapu.

BPP: BP3J Pnt Nikodemus Millu, Panitia HRG Pnt Roberson Tulandang, A.Md., Panitia Pembangunan Pnt Hendrik Donumo.

Ketua Rayon: Rayon Morobuing Pnt Naomi Millu, Rayon Budiwala Pnt Desimina Millu-Djahimo, Rayon Warong Pnt Yordan Lalang Puling, Rayon Jalatulang Pnt. Djahiboling-Millu.

Demikian Sinopsis sejarah singkat Injil masuk di Pulau Pura, Khususnya sejarah berdiri jemaat Warabu Harilolong yang berhasil dihimpun Zonalinenews.(*Erson)



TAG