“Bagi -Bagi Ayam” di Polres dan Kasus Perbudakan Seks Anak dibawah Umur


ZONALINENEWS-KUPANG,- Pengakuan salah seorang om Korban, tentang bagi-bagi ayam dalam penanganan kasus dugaan pencabulan anak dibawah umur di kabupaten Kupang yang ditangani oleh Polres Kabupaten Kupang NTT, sangat mengejutkan para aktifis kelompok Cipayung plus Kupang saat berdialog dengan Kabag Wassidak Direktorat Krimanal Umum Polda NTT, Kompol Alexander Aplungi Senin 22 Juli 2019 pukul 11.30 wita di ruang pertemuan Direktorat Krimanal Umum Polda NTT.

Menurut om korban, pihak keluarga tidak mempercayai kinerja Polres Kabupaten Kupang dalam menangani kasus dugaan pencabulan anak dibawah umur yang telah dilaporkan 15 Fabuari 2019 di polres, bahkan korban juga telah mengaku bahwa Zainal terduga pelaku yang mencabulinya hingga hamil namun kini polisi belum menetapkan sebagai tersangka bahkan menangkap pelaku.

‘ Zainal terduga pelaku tidak ditangkap sehingga kasus ini harus diambil oleh Polda karena, kami melihat sendiri terduga Zainal mempunyai hubungan khusus dengan oknum para petingai serta oknum anggota polisi di Polres Kabupaten Kupang. Bahkan zainal membagikan dua box ikan bandeng serta puluhan ekor ayam di Polres,” tutur om Korban.

Kabag Wassidak Direktorat Krimanal Umum Polda NTT, Kompol Alexander Aplungi dialog tersebut menjelaskan, terkait bagi-bagi ayam yang disebutkan tidak masuk dalam fokus persoalan yang disampaikan keluarga saat ini. Pernyataan tersebut bisa berdampak lain kalau tidak diikuti dengan bukti.

” Terkait Kasus yang ditangani Polres Kabupaten Kupang Polda NTT telah mamanggil para penyindik Polres dan Kapolres 17 Juli 2019 lalu, untuk digelar di ruang ini. Dan saat ini polres masih melakukan penyidikan,” ungkap Alexander Aplungi.

Lanjutnya soal bagi-bagi ayam mungkin saat itu para anggota membeli ayam tersebut. Jangan membuat presepsi lain yang bisa berdampak

Lanjutnya persoalan ini sebelumnya, oleh kuasa hukum dari keluarga korban Dedi Djahapay sudah dilaporkan dan sudah ditindaklanjuti Polda dengan memanggil Polres untuk digelar kasusnya.

” satu alat bukti sudah dapat yaitu pengakuan korban namun saat ini belum bisa diambil kesimpulan karena masih menunggu hasil tes DNA usai melahirkan nanti. Polisi punya mekanisme sendiri dalam mengungkap sebuah kasus dan hal ini tidak bisa diungkapkan disini ,” tegas Alaxander.

Sementara Ketua GMKI Cabang Kupang Ferdinanan Umbu Tay pada dialog itu menjelaskan Kasus ini telah lama dilaporkan ke Polres Kabupaten Kupang namum sampai saat ini polisi belum menetapkan terduga pelaku Zainal yang menurut korban sebagai pria yang telah menyetubuhi Korban.

Menurutnya maksud kelompok Cipayung plus Kupang datang bersama keluarga korban di Polda NTT menuntut Polisi mengusut tuntas kasus perbudakan seks terhadap salah soerang siswa di kabupaten Kupang, diduga dipaksa melakukan hubungan seks dengan seorang kakek dari tahun 2014 -2018 sehingga menyebabkan anak tersebut saat kini hamil 8 bulan dan dititipkan di pantai rehabilitasi Sosial.

” Februari 2019 kasus ini sudah dilaporkan ke Polres. Namun terduga pelaku belum ditetapkan sebagai tersangka apalagi ditangkap ,” tutur Ferdinan Umbu.

Ketua PMII Cabang Kupang Syarifudin Amri meminta Polda mengambil alih persoalan ini.

” Jangan sampai hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap kinerja Polisi sehingga kasus ini harus diambil alih oleh Polda,” tuturnya.

Ketua PMKRI Kupang, Adrianus Goleng mengharapkan masalah ini ditangani Polda, Kapolda harus menindaklajuti kasus ini dan ambil alih. Pasalnya saksi memberi keterangan di Polres tidak berimbang , walaupun merupakan orang tua kandung korban, tapi mengapa korban sampai melarikan diri dari rumah dan ditampung rumah perempuan kemudian oleh rumah perempuan terduga pelaku dilaporkan ke Polres.

” Korban kabur dari rumah dan saat ini sudah ditampung dirahabilitasi Dinas Sosial, Mengapa korban melaporkan persoalanya ke rumah perempuan dan bukan ke orang tua kandungnya. Bahkan saat ini keluarga korban tidak percaya dengan kinerja Polres Kabupaten Kupang, oleh karena itu, kami menuntut keadilan bagi korban yang diduga disetubuhi sejak berumur 11 tahun hingga berumur 16 tahun,”tuturnya.

Sementara itu Zainal melaporkan om korban CP (53) ke Polres Kabupaten Kupang atas dugaan pemfitnahan melalui media online dengan tudingan menghamili Korban anak kandung dari LB warga Kabupaten Kupang Propinsi NTT.

Zainal ditemani anak dan istrinya serta kuasa hukum mendatangi Polres Kabupaten Kupang Senin 1 Juli 2019 10.00 wita, guna melaporkan CP dengan nomor laporan polisi STPL/ B/249/ VII/ 2019/NTT/ Polres Kupang yang ditandatangani oleh Ka SPKT Ipda Anderias Bessie

Usai melapor kepada wartawan Zainal menegaskan bahwa pernyataan yang disampaikan oleh CP tidak benar.

” Apa yang disampaikan itu tidak benar. Untuk itu pihaknya melaporkan masalah pemfitnahan ini di polisi ,” ucapnya .

Semantara Pantauan Zonalinenews usai berbincang dengan kuasa hukum korban, Dedy Jahapay di Polres Kabupaten Kupang Senin 1 Juli 2019 sikara pukul 13.30 wita Zainal sebelum meninggalkan Polres usai melapor CP membagikan beberapa ekor ayam kepada beberapa oknum yang saat itu berada di Polres Kabupaten Kupang. (*tim)

Keterangan Video sebelum melakukan pertemuan dengan Kasubag Wassidak para aktifis Cipayung plus Kupang sempat adu argumen dengan polisi di halaman Mapolda NTT