Dewan Pers Gelar Sosialisasi Pedoman Pemberitaan Ramah Anak Bagi Jurnalis NTT


Foto : Anggota Dewan Pers Ahmad Jauhar saat baca sambutan Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh

ZONALINENEWWS.COM – KUPANG, Dewan Pers yang berkerja sama dengan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) gelar sosialisasi pedoman pemberitaan ramah anak bagi Jurnalis Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis 18 Juli 2019 di Hotel Shotis Kupang.

Kegiatan tersebut diikuti oleh sebanyak 40 Jurnalis dari berbagai berbagai media. Yaitu, Jurnalis Media Televisi, Jurnalis Media Cetak, Jurnalis Radio dan Jurnalis Media Online yang ada Kota Kupang NTT.

Anggota Dewan Pers, Ahmad Jauhar saat baca sambutan Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh mengatakan, kegiatan sosialisasi pedoman pemberitaan ramah anak tersebut adalah salah satu tugas Dewan Pers. karena Dewan Pers berpandagan yang paling efektif untuk memberikan sosialisasi kepada para jurnalis. Menurutnyan, teman – teman jurnalis diseluruh indonesia itu harus lebih tau. Sebab, merekalah yang akan memberikan penjelasan kepada masyarakat. “Kalau teman – teman Jurnalis tidak tau bagaimana bisa memberikan edukasi kepada masyarakat yang benar,” ahmad.

Dia mengatakan, fungsi media ada empat. Yakni, memberikan informasi (to inform), untuk menghibur (to entertain), untuk mendidik (to educate) dan untuk mempengaruhi (to influence) kepada masyarakat. “Ini fungsi yang harus diingat oleh teman – teman Jurnalis,” ujar Ahmad.

Pedoman pemberitaan ramah anak ini, lanjut Ahmad Dewan Pers berpandangan sosialisasi kepada teman – teman yang paling efektif. “Kami tidak ingin teman – teman media mengabaikan etika jurnalis. Karena etika baik baik itu sangat penting . dengan etika baik ini akan menjadi dasar apakah seorang jurnalis melanggar etika jurnalistik atau tidak,” katanya.
Dia menjelaskan, dalam pedoman pemberitaan ramah anak itu wartawan harus merahasiakan identitas anak dalam memberikan informasi tentang anak khasusnya yang diduga, disangka, didakwa melakukan pelanggaran hukum atau tindak pidana atas kejahatannya.

Menurutnya juga wartawan memberitakan secara faktuyal dengan kalimat / narasi / visual / audio yang bernuansa positi, empati, dan / atau tidak membuat deskripsi / rekonstruksi peristiwa yang bersifatseksual dan saditis. “Wartawan tidak mencari atau menggali informasi mengenai hal – hal diluar kapasitas anak untuk menjawab seperti peristiwa kematian, perceraian, perselingkuhan orang tuanya dan atau keluaraga, serta kekerasan atau kejahatan, konflik dan berencana yang menimbulkan dampak traumatik,” papar Ahmad.

Dia menambahkan, wartawan juga menghindari pengungkapan identitas pelakukejahatan seksual yang mengaitkan hubungan darah atau keluarga antara korban anak dengan pelauku. Apabila sudah diberitakan, maka wartawan menghentikan pengungkapan identitas anak. Kasus untuk media siber, berita yang menyebut identitas dan sudah dimuat, diedit ulang agar identitas anak tersebut tidak terungkapkan. “Wartawan tida memberitakan tentang anak denagn mengunakan materi video, foto, status dan audio hanya dari media sosial,” tegas Ahmad. (*hayer)