Tarian Cakalele, Lego-lego Akan Tutup Kegiatan TMMD ke 105 di Alor


Foto-foto: Istimewa

Zonalinenews – Kalabahi – Kabupaten Alor dengan segala potensi pariwisata baik darat maupun laut memang memiliki pesona yang luar biasa.

Selain alam yang eksotik, negeri 1000 moko yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Republic Demokratic Timor Leste (RDTL) ini mempunyai keberagaman bahasa, budaya, adat istiadat ini perlu terus diperkenalkan ke dunia.

Untuk mendukungnya dan ikut mempromosikannya, Dandim 1622/Alor Letkol Inf. Supyan Munawar, S.Ag berencana menggelar tarian cakalele, lego-lego dan pertunjukan rakyat lainnya saat penutupan TMMD ke 105 yang akan akan berakhir 8 Agustus mendatang.

“Saya ingin mengkolaborasikan kegiatan ini di H -2 dengan budaya alor seperti cerita rakyat, lego-lego dan tarian cakalele. Selain itu, mungkin ada acoustik musiknya juga untuk menghibur tamu saat penutupan nanti. Coba teman-teman media kita usahakan itu,” ujar Dandim di poskotis TMMD Desa Pailelang Sabtu 13 Juni 2019 siang.

Mantan Kopassus ini menambahkan, selain perkenalan budaya, kegiatan TMMD ini juga akan melakukan kegiatan sosial pengobatan gratis kepada masyarakat.

“Ini dilakukan secara terbuka bagi semua masyarakat. Targetnya 500 sampai 700 orang,” kata Supyan sembari menghubungi rekannya untuk membantu kegiatan ini lewat telpon genggamnya.

Sementara Gembala GKII Jemaat Siloam Pailelang Oktofianus Jenfani, S.Th mengatakan, warisan leluhur seperti cakalele dan lego-lego merupakan warisan leluhur yang harus terus dilestarikan.

“Perkembangan zaman dan pengaruh budaya luar akan berpengaruh pada kearifan lokal kita khususnya generasi muda sekarang. Ini tidak boleh kita biarkan,” ujar Jenfani.

Menurutnya, dalam lego-lego, ada pesan yang tersirat dalam kaitan jari kelingking dalam satu lingkaran. Apapun perbedaan kita, kita tetap satu,” ungkap Oktofianus.

Untuk melestarikannya, ia berharap agar setiap desa bisa membentuk sanggar pendidikan lego-lega.

“Dengan begitu ada pengkaderan tentang cara lego-lego yang benar seperri apa, baik dari ayunan langkah kaki maupun syair yang dinyanyikan itu sendiri,” pungkas Jenfani (*pepenk/tim)