Mahasiswa di NTT Unjuk Rasa Minta Kejagung Copot Kejari Kalabahi


Zonalinenews-Kupang,- Mahasiswa di NTT yang tergabung dalam organisasi Kerukunan mahasiswa Nusa Kenari (Kemahnuri) Kupang, unjuk rasa minta Kejaksaan Agung (Kejagung) Republik Indonesia Copot Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kalabahi. Jumat 16 Agustus 2019.

Unjuk rasa itu dilakukan di halaman kantor Kejati NTT sebagai bentuk protes mahasiswa terhadap sejumlah kasus korupsi yang di laporkan berkali-kali di Kejari Kalabahi, namun terendap begitu saja.

Salah satunya penyelesaian kasus Korupsi di Sekwan Alor yang mengakibatkan kerugian keuangan Negara sebesar Rp 500 juta, berdasarkan temuan BPK perwakilan NTT dengan Nomor: 7.c/LPH-LKPD/XIX.KUP/06/2016 tertanggal 3 Juni 2016. Namun masih terendap di Kejari Kalabahi sampai saat ini.

Kasus Korupsi yang berusia sudah cukup lama ini, ada sejak Tahun 2013 sampai sekarang di Kabupaten Alor, namun terkesan muncul ketidaberanian Kejari Kalabahi dalam menyidik dan menyelidiki pihak-pikak yang terlibat dalam kasus itu.

Koordinator unjuk rasa, Yohanis Lankari dalam orasinya di halaman Kejati NTT mengatakan, Kejari Kalabahi hanya berani mengejar pelaku tunggal dalam kasus Sekwan, sementara korupsi itu dilakukan berjamaah.

Lanjut Yohanis, pihak lain termasuk tim anggaran pemerintah daerah (TAPD) dan Anggota Banggar DPRD Kabupaten Alor tidak disentuh sama sekali, padahal kasus itu harusnya telah menjadi kasus suap yang melibatkan mereka semua.

“Pemerintah daerah lewat Tim TAPD atas perintah Bupati Alor Drs. Simeon Pally melalui Sekretaris DPRD Kabupaten Alor Drs. Ahmad Maro diduga memberikan uang sejumah Rp. 500 juta kepada 13 Anggota Badan Anggaran DPRD Kabupaten Alor demi kelancaran sidang, itu yang kemudian menjadi persoalan” Tuturnya.

Kejari Alor, tegas Yohanis, harus menjaga Profesionalisme dan independesi sebagai lembaga penegak hukum.

“Kejari harusnya usut kasus ini tanpa pandang bulu, jangan ada yang diselamatkan dari yang namanya korupsi,” Tegas Yohanis.

Seorang masa aksi, Petrus Saldena, dalam orasinya menyampaikan, mahasiswa dan masyarakat di kabupaten Alor NTT sudah tidak percaya lagi dengan kinerja kejari Alor.

“Kami sudah tidak percaya lagi dengan Kejari Alor, banyak kasus kami laporkan, tapi tidak pernah di proses dengan baik,” pungkas Saldena.

Kejari ganti Kejari di Kalabahi, lanjut Petrus bertanya, mengapa tak mampu usut tuntas kasus korupsi yang ada di Kabupaten Alor.

“Bertahun-tahun yang lalu sampai sekarang kami lapor banyak kasus, mulai dari mangkraknya pembangunan pasar lipa kalabahi, Proyek perpipaan di Desa Lendola, Proyek perpipaan di Desa Kolana Utara, dan kasus suap korupsi di Sekwan Alor saat ini. Kejari Alor tidak pernah proses dengan baik, jangan sampai Kejari Alor takut Bupati Alor..?” tanya Petrus, geram.

Petrus Saldena mahasiswa yang kini baru menyelesaikan sidang sikripsinya itu, berharap Kejati NTT segera merekomendasikan kepada Kejagung di Jakarta agar Kepala Kejari Kalabahi di non job kan dari jabatan.

“Pak Kejati yang terhormat, kami masyarakat Alor hanya percaya Bapak Kejati saja, Kejari Alor kami sudah tidak percaya lagi. Bapak Kejati tolong minta Kejagung untuk copot jabatan kepala Kejari Alor,” tutup Petrus.

Pantauan Wartawan, masa aksi Kemahnuri yang unjuk rasa dihalaman kantor Kejati NTT, langsung di terima pihak Kejati NTT dengan baik.

Sebelumnya terkait kasus Korupsi Rp.500 Juta di Sekwan Alor, Kasie Intel Kejari Alor, Teisar Rahadian Heriansa saat konfirmasi awak media dihalaman Tipikor Kupang, menyampaikan, dakwan yang dibuat sudah sesuai tangung jawab dari terdakwa. “Hukumnya beda, yang ini ada disekretariat,” katanya.

Ketika ditanya, mungkinkah nama-nama yang disebutkan dalam sidang itu berpotensi menjadi tersangka.? Teisar menjawab “Tidak bisa. Kemungkinan tidak bisa. Tapi kami tetap mengumpulkan alat bukti. Tunggu ya… kami masih mendalami yang itu,” Jawab Teisar di pintu depan Tipikor Kupang sambil buru-buru hendak pergi.(*Erson)