Kekurangan Air Musim Kemarau Bukan Penghalang Hasilkan Sayur dan Buah


Zonalinrnews-TTS,- Kekurangan air di musim kemarau bukanlah sebagai penghambat untuk beraktifitas menanam dan menghasilkan produksi hortikultura sayur dan buah.

Sepri faot, pemuda desa tetaf dan sebagai anggota kelompok tani Sonaf Tetaf desa Tetaf Kecamatan Kuatnana kabuapten Timor Tengah Selatan (TTS) yang juga sebagai salah satu pendamping masyarakat pada yayasan Chrisna Foundation TTS. Melakukan upaya pemanfaatan lahan diluar desa dan mengembangkan usaha hortikultura sayur dan buah.

Di desa Loli kecamatan Polen kabupaten TTS, Sepri Faot merintis usaha hortikultura dengan memanfaatkan lahan persawahan milik Chris Hau’Oni yang juga sebagai direktur yayasan Chrisna Foundation.

Dengan ketersediaan lahan dan potensi air yang cukup, Sepri bersama empat orang teman lainnya merintis usaha dengan sistem pengairan rendam atau lab.

Pada lahan yang kurang lebih satu kilo meter dipercayakan untuk dimaksimalkan dalam usaha hortikultura, walaupun saat ini yang baru diolah dan berproduksi kurang lebih satu hektar semenjak bulan Mei 2019 beralih dari tetaf dan berusaha di desa loli.

Semangat untuk pemanfaatan lahan yang luas dalam meningkatkan hasil produksi begitu luar biasa walaupun diakuinya bahwa untuk mengelola lahan yang begitu luas, dirinya bersama teman-teman masih terkendala dengan daya dukung alat pertanian seperti Cultivator dan alat lainnya sehingga dapat memudahkan dalam mengolah lahan secara keseluruhan.

Pengakuan salah satu anggota kelompok mama Densi Babu, dirinya sangat tertolong ketika dilibatkan dalam kelompok dan ikut serta berusaha hortikultura. Karena dirinya dapat tertolong dari hasil yang diperoleh dengan melunasi hutang pada sembilan koperasi baik itu koperasi harian, koperasi mingguan maupun bulanan.

Menurut Sepri, kebanggaan tersendiri juga ketika anggota kelompoknya Abraham Kian, walaupun masih muda dan mau bercocok tanam hortikultura, walaupun masih muda namun sudah memiliki penghasilan sendiri dan juga tabungan pribadi.

Berbagai jenis tanaman hortikultura saat ini yang diproduksi dan dipasarkan berupa buncis, kacang panjang, tomat dan cabe dengan populasi tanaman yang paling banyak saat ini adalah cabe sebanyak kurang lebih 6000 pohon.

Menurut Sepri, bahwa cara untuk menurunkan angka kemiskinan dan mengatasi stunting khusus untuk orang TTS adalah hanya mau bercocok tanam hortikultura dan beternak. Namun harus dikelola secara profesional, sehingga dapat mengembangkan diri dan hasil yang pada akhirnya ada keberhasilan dan kesejahteraan.

Karena pada prinsipnya petani harus menjadi petani yang mandiri, tangguh dan percaya diri. Sehingga dengan sendirinya ada motivasi diri untuk berusaha dan keluar dari kemelut hidup.

Harapan Sepri dan teman teman, agar pemerintah, gereja, tokoh adat dan lembaga non pemerintahan harus punya satu konsep atau tekad bahwa wajib mempersiapkan petani sehingga menjadi petani yang berdaya saing. Dengan memanfaatkan dan memaksimalkan seluruh potensi yang ada.(*Elli)