Keunikan Suku Boti dalam Kesederhanaannya


Zonalinenews-TTS,- Setelah menempuh perjalanan yang berliku-liku di jalan tak beraspal serta dikelilingi tebing batu dan belukar, kami akhirnya tiba di Desa Boti. Menuju Boti dapat dikatakan sebuah Petualangan bagi kami. Bertualang menuju sebuah dimensi diantara dunia modern dan primitif.

Boti tadinya bak negeri antah berantah yang jauh dari kehidupan luar namun begitu disambut dengan senyuman para
wanita yang berkeranjang dikepala dan para lelaki dengan rambut berkonde yang sedang berjalan menuju ke pasar kesan kami berubah dalam sekejap.

Boti terletak di kecamatan Kie Kabupaten Timor Tengah Selatan ( TTS) Propinsi Nusa Tenggara Timur dan berjarak sekitar 40 kilometer dari Kota Soe. Mereka adalah suku asli pulau Timor yang dikenal dengan Atoin Meto dan berbahasa Dawan (Uap Meto). Daerahnya yang bergunung gunung dan dingin serta terlihat sangat hijau dengan berbagai macam tanaman yang unik dan menarik membuat
saya tak habis berpikir dengan istilah orang orang dari tanah kering julukan bagi mereka. Rasanya kurang cocok julukan itu untuk negeri orang Boti yang subur dan alamnya yang selalu dijaga dengan
baik sesuai dengan falsafah „Atoni Meto“ menjaga dan melestarikan kehidupan Atoni milik mereka.

Sekalipun tetap hidup secara traditional bahkan dianggap primitif tetapi perilaku mereka tampak terdidik. Perilaku orang Boti yang bersahaja memang terkenal dimana-mana. Kepercayaan
mereka „Halaika“ atau Uis Neno Ma Uis Pah mengajari mereka nilai nilai etik yang luhur dan tinggi. Uis Neno (Bapa Alam Baka) dan Uis Pah (Ibu Alam Fana) menginginkan mereka hidup dengan damai dan bertanggung jawab baik dengan sesama manusia maupun juga dengan alam sekitarnya.

Apa yang mereka perbuat didunia ini dihitung sebagai apa yang akan mereka terima kelak di alam Baka.
Karena itu menolong sesama, bahkan pencuri dan orang yang jahat sekalipun serta memelihara alam sekitar dengan cara merawat dan menjaga tetumbuhan maupun binatang adalah hukum yang wajib
dipatuhi oleh orang orang Boti. Nilai nilai ajaran Halaika tentu mempengaruhi hukum hukum ini.

Mengenai alam khususnya pepohonan, setiap pohon yang ditebang wajib ditanam kembali dengan 5-10 anakan pohon baru. Alam bernilai tinggi bagi orang-orang Boti sebab Alam adalah wakil Tuhan bagi mereka. Orang Boti terdiri dari Boti dalam yang masih memegang ketat tradisi leluhur dan berjumlah sekitar 415 orang yang terbagi dalam 77 Kepala Keluarga dan orang Boti luar atau golongan yang telah menerima perubahan dengan beralih ke agama Katolik atau Protestan yang berjumlah sekitar 2500-an orang.

Di desa Boti kami telah ditunggui sang pemimpin yang bergelar Usif (Raja) Namah Pah. Beliau adalah salah satu Raja kerajaan kecil yang masih ada di Indonesia dan satu
satunya di pulau Timor. Berpenampilan sangat sederhana hanya dengan berbaju kaos dan berkain
sarung Ikat khas Timor dengan rambut berkonde sebagaimana para lelaki Boti lainnya.

Kami disambut hangat dan bersahabat dengan ungkapan berwujud daun sirih dan buah pinang yang harus terlebih dulu dicampur dengan setelunjuk kapur sirih sebelum dimasukan ke mulut. Sirih pinang bagi penduduk pulau Timor selain sebagai simbol menyambut tamu namun juga obat merawat gigi dan mulut secara herbal. Kediaman dimana sang Usif berdiam bersama pengikutnya memiliki luas sekitar 3000 meter persegi dan sekelilingnya dipenuhi dengan berbagai macam tanaman herbal termasuk teh yang disuguhkan kepada kami. Rasa tehnya tak terlalu manis, sedikit sepat namun menyegarkan.

Kami juga disuguhi makan siang yang hampir semuanya berasal dari kebun milik Usif Namah Pahdengan sebelumnya di
pertunjuki tarian khas Timor „Swo Ma Eka“ atau tari perang dengan beberapa lelaki melakukan gerakan-gerakan „Foti“ atau hentakan kaki dengan hitungan dan irama tertentu dan permainan gong yang dimainkan oleh para perempuan dengan lihai dan cekatan.

Pertunjukkan budaya yang mengandung nilai-nilai filosofi dan religi suku Boti tentu saja. Berbicara tentang orang Boti dan alam, mereka memiliki keintiman yang sangat kuat. Sebuah hubungan yang hampir sulit dipercayai. Alam telah menyatu dengan mereka seperti menjiwai hayat dan raga orang Boti.

Kedatangan kami menurut Usif Namah Pah telah diberitahukan oleh alam sebelumnya. Beliau meyakinkan kami bahwa sesuatu lewat udara dan tumbuh-tumbuhan yang bergerak, berbicara kepada beliau sebelumnya. Itulah alasan mengapa porsi dan jumlah makanan yang disediakan bagi kami benar benar sesuai dengan jumlah anggota rombongan kami. Terlepas dari setuju atau tidak tetapi menghayati persahabatan dengan alam, mencintai alam, memelihara dan
menjaganya menurut Usif Namah memberi efek timbal balik.

Jika kita merawat alam dengan baik, alampun akan memperlakukan kita dengan baik dan bersahabat bahkan kita dapat membaca isi hati alam dengan mudah, itulah penjelasan Beliau saat kami bertanya bagaimana Beliau dapat mengetahui kedatangan kami hari itu. Kecintaan akan alam dengan merawatnya telah membuat orang Boti terkenal diseluruh dunia. Tamu dari berbagai negara mulai dari Asia, Amerika dan Eropa
telah berkunjung berulang kali ke desa Boti. Mahasiswa lokal maupun manca negara, peneliti, staf industri obat-obatan dari salah satu merk paling terkenal didunia, saluran TV lokal maupun international juga pernah mengunjungi Boti.

Kebanyakan datang untuk belajar dan meneliti berbagai
tumbuhan herbal yang tumbuh di Boti yang dapat digunakan entah dalam bidang medisin, teksil – khususnya pewarnaan- , seni, juga rumus matematik orang boti saat menganyam dan menghitung motif dalam menenun kain Ikat dan filosofi Atoni Meto yang walau hampir identis dengan Yin Yang￾nya orang Tionghoa maupun manunggaling Kawula Gusti dari suku jawa bahkan teori modern seperti Ekosentrisme (Deep Enviromental Ethics) namun tetap berada dalam keunikannya sendiri sebab pelakunya orang-orang Boti yang tinggal di Boti dan yang menghayatinya dengan kebotian mereka.

Rasanya tak salah membaca komentar seorang penulis tentang Boti „Kalau mau menjadi orang luhur belajarlah pada suku Boti di TTS, Nusa tenggara Timur!“ Semoga ajaran suku Boti dijaga dan tetap dipertahankan, sebab semua yang ada dalam kehidupan ini entah itu manusia atau alam
semesta adalah titipan Tuhan dan dengan demikian kita wajib menghormati, menjaga dan melestarikannya selalu. (*Klara Mella)