Penanganan Sampah Plastik Dengan Metode Ecobrick


ZONALINENEWS-TTS,’ Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten ( TTS) Ony Ataupah Sabtu 31 Agustus 2019 menegaskan, sampah adalah masalah global, sehingga harus serius berpikir dan bertindak untuk penanganan sampah khususnya sampah plastik.

” kita harus perangi sampah, ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kabupaten Timor Tengah Selatan, ” tutur Ony Ataupah.

Menurutbya, metode Ecobrick merupakan solusi untuk mengurai sampah plastik dengan cara dicacah walaupun untuk saat ini hanya menggunakan gunting. Yang kemudian dimasukan ke dalam botol plastik dan dijadikan sesuatu yang berguna.

” Sampah juga bisa dijadikan sesuatu yang bernilai ekonomis bagi masyarakat dan murah serta lingkungan tetap terjaga dan terpelihara. Dan ini adalah semangat DLH TTS dalam hal mendukung kiat-kiat Gubernur NTT dan Bupati/Wakil Bupati TTS dalam hal memerangi sampah,” ungkapnya.

Ony Ataupah menyampaikan untuk penanganan sampah platik di TTS, Dinas Lingkungan Hidup sangat membutuhkan mesin pencacah plastik, sehingga sampah plastik tidak hanya ditumpuk apalagi dikubur di Tempat Pembuangan Sampah (TPA) dan kalau sudah penuh dan tak tertampung lagi dipindahkan.

” Cari tempat untuk TPA baru, kasihan lingkungan kita justru kita sendiri yang kasih rusak. Sehingga mesin pencacah plastik itu sangat sangat dibutuhkan kalau mau atasi masalah sampah plastik dan dijadikan sesuatu yang berguna dan bernilai uang dan otomatis DLH juga dengan sendirinya dapat menyumbangkan Pendapatan bagi daerah. Nah, ini menjadi komitmen DLH untuk tahun depan wajib diadakannya mesin pencacah plastik, “tegas Ony Ataupah.

Lanjut Kadis Lingkungan Hidup TTS, bahwa metode Ecobrick adalah untuk mengurangi atau mengatasi volume sampah plastik dan juga solusi memperpanjang umur TPA.

Kunci utama suksesnya pengelolaan sampah termasuk daur ulang adalah pemilahan yang bersumber dari rumah tangga, kantor, warung, sekolah dan fasilitas umum lainnya.

” prinsip DLH dalam menangani sampah adalah, 1. Pisahkan sampah sesuai jenisnya. 2. Kelola sampah organik dan sampah an organik. 3. Pola 4R yakni _Reduce_Reuse_Recycle_Replace. Dan kursi sofa berbahan dasar botol plastik merupakan Recycle atau daur ulang, atau mengolah kembali sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat,” ungkap Ony.

Kasie Perencanaan dan Kajian Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup kabuoaten Timor Tengah Selatan.Semy Banamtuan menjelaskan sifa dari sampah plastik, sampah botol bekas menjadi inspirasi penanganan pengelolaan sampah plastik bagi DLH TTS. Dan oleh DLH TTS.

” sofa sampah plastik cukup diminati masyarakat karena selain ringan dan murah, juga memiliki nilai esetetika sesuai selera dan kebutuhan ruang minimalis sebagai pelengkap interior, “ujarnya.

Menurut Semy, sejak tahun 2017 sebenarnya sofa berbahan dasar sampah plastik sudah dilakukan dan DLH TTS membangun kemitraan bersama alumni Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan Jogja untuk melakukan kiat kiat penanganan sampah plastik.

Lanjut Semy DLHD kedepan berencana melakukan pelatihan bagi masyarakat khususnya pemuda terkait dengan pembuatan sofa berbahan dasar sampah botol plastik. Dan ini akan menjadi prioritas pelatihan dan jadikan tenaga siap pakai dalam hal penanganan sampah plastik yang tidak dapat terurai dengan tanah, namun dijadikan sesuatu yang bernilai ekonomis.(*Elli)