Sejarah Tarian Gawe Au “Kame Ruakem Keredok” Budaya Asli Lewonara-Adonara


Zonalinenews.Com, Larantuka Hari terakhir perayaan Festival Lamaholot 2019, Sanggar seni Lewonara-Narasaosina menampilkan tarian Gawe Au. 

Tarian ini dipentaskan oleh beberapa penari diantara tepukan bambu. Harmonisasi gerakan dan kekompakan menjadi ciri khas utama.

Sejarah tarian ini, mengisahkan sepasang kembar muda-mudi pria dan wanita yang berasal dari Lewonara terpisah karena sang gadis tersesat dalam pengembaraan panjang.

Untuk mempertemukan keduanya, si gadis mengadakan sayembara. 

Siapa yang  berhasil menari Gawe Au bersamaku secara sempurna, apabila seorang perempuan akan kujadikan saudari. Jika laki-laki maka akan menjadi suamiku.

Alhasil, terdapat tujuh orang pemuda mengikuti sayembara. Enam orang diantaranya mengalami kegagalan.

Tapi tidak dengan pemuda ke tujuh. Pria ini berhasil menari bersama sang gadis dengan sangat serasi dan kompak. Sempurna,  tanpa sekalipun kakinya terjepit bambu. 

Wajah keduanya mirip bagai pinang di belah dua. Usai  pertunjukan, semua mata yang memandang terheran-heran mellihat keduanya bertatapan sambil menangis.

Ternyata mereka berdua telah menemukan sesuatu yang dicari selama ini yaitu
kembarannya. Akhirnya kedunya berpegangan tangan sambil memberi pengumuman yang berbunyi “KAME RUAKEM KEREDOK” yang berarti kami
berdua adalah saudara kembar. 

Selama ini kami saling ,mencari namun tidak
pernah berternu,dan kini kami dipersatukan kembal sebagai satu keluarga oleh tarian Gawe Au. 

Akhirnya semua orang mengarak gadis Ini ke rumah
saudara kembarnya di kampung halaman mereka,di Lewonara. 

Sejak saat,  itu lahirlah tarian Gawe Au sebagai budaya asli masyarakat Lewonara yang
diwariskan turun-temurun sampai saat ini. 

Selain tarian Gawe Au,  pula digelar tarian Soleh Oha yang nantinya berlangsung sampai pagi hari di Kiwang Ona, sebagai bagian penutupan segala rangkaian acara Festival Lamaholot 2019. (*Kerjasama Humas Setda Flotim dan Zonalinenews.Com)