LKPj 2018 Fiktif? Proyek Pengadaan Itik di Malaka Diduga Sarat KKN


ZONALINENEWS-BETUN – Proyek pengadaan ternak, itik betina dan itik jantan Tahun Anggaran (TA) 2018 di Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Malaka diduga sarat dengan praktek korupsi, kolusi dan nepotisme.

Selain itu, Laporan Keterangan Pertanggung jawaban (LKPJ) tentang proyek tersebut juga diduga fiktif.

Pasalnya, pada web Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kabupaten Malaka, proyek yang dikerjakan CV Putri Tunggal (beralamat di jalan Kirab Remaja Kota Kefamenanu, Kabupaten TTU) dengan tanggal kontrak 29 Agustus 2018 ini tercatat memiliki pagu anggaran sebesar Rp 550.000.000.

Namun dalam LKPJ 2018 yang kopiannya diterima wartawan, Kamis , 13 Juni 2019, tercatat CV Putri Tunggal bekerja dengan anggaran sebesar Rp 5 miliar dan mulai teken kontrak pada tanggal 28 Agustus 2018.

Dana tersebut dipakai untuk pengadaan itik sesuai spesifikasi yang diminta Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Herman Klau S.Pi, yakni itik petelur jenis Mojosari atau Alabio sebanyak 5.000 ekor itik jantan yang berumur 3 hingga 5 bulan, dan itik betina sebanyak 4.500 ekor dengan umur 2,5 hingga 4 bulan.

Namun dalam pelaksanaannya itik-itik tersebut tidak sesuai spek, dan diduga terjadi mark up harga.

Adiel Fernandes, warga Kecamatan Malaka Tengah, kepada wartawan via phone, mengaku, proyek pengadaan itik tersebut terjadi kecurangan, serta mark up harga secara besar-besaran.

“CV Putri Tunggal berhasil menang paket proyek ini, akan tetapi realisasinya bukan itik dewasa, tetapi anak itik. Diduga itik itu sudah mati semua. Masyarakat memang terima itu itik, tetapi sudah mati semua, hanya tersisa satu dua kelompok saja, dan jumlahnya tidak mencapai ribuan ekor lagi,” beber Adiel.

“Diduga waktu itu dipaksakan untuk PHO pada Desember 2018. Kami masyarakat kecil tidak bisa banyak bicara, sebab jika banyak bicara, nanti keluarga kami yang PNS di non jobkan, bahkan dipindah jauhkan. Kami minta pihak penegak hukum segera usut tuntas masalah ini. Sebab pengadaan itik tahun anggaran 2017 juga demikian, terjadi mark up harga dan tidak sesuai dengan spesifikasi. Kami minta tipikor Polda dan KPK turun periksa, sebab banyak kasus dugaan korupsi mandek di tangan Tipikor Polres Belu dan Kejari,” kata Adiel.

Sementara itu, Kepala Desa Fafoe (Kecamatan Malaka Barat), Yosef Seran Klau, yang ditemui media ini, Kamis 13 Juni 2019, menjelaskan, dirinya bukan Ketua Kelompok Ternak Itik, namun dirinya paham soal budidaya itik. Sebab ia pernah mengikuti studi banding tentang budi daya itik di Bantul, Jogyakarta pada tahun 2017 lalu. Karena itu lokasi kandang itik milik kelompok ditempatkan di rumahnya.

Dia mengaku, kelompok itik yang ia bimbing sebanyak 10 orang. Kelompok ini dinamakan Kelompok Taroman.

“Waktu itu tanggal 11 Desember 2018, kelompok ini menerima anakan itik. Yah diperkirakan umur itik waktu itu satu bulan lebih,” ujar Yosef.

Selain pengadaan itik, TA 2018 juga ada Pengadaan Pakan Itik Dewasa sebanyak dua tahap.

Tahap pertama dengan anggaran Rp 510.000.000 dikerjakan oleh CV Yustina Tuto beralamat di jalan Uyelewun, Rt 023, Rw 009, Maulafa, Kota Kupang.

Tahap Rp 510.000.000 dikerjakan oleh CV Restu Boemial beralamat di Perumahan Pitoby Blok B III No. 27 Kelurahan Penkase, Oeleta, Kecamatan Alak, Kota Kupang.

“Waktu itu kelompok kami hanya menerima 4 karung pakan itik, selanjutnya kami gunakan pakan lokal, seperti batang pisang dan jagung. Sekarang ini itik kami masih 200 lebih. Tapi untuk kebutuhan pakan, kelompok kami terpaksa mengunakan uang pribadi sebanyak Rp 5 hingga  6 juta untuk pengadaan tambahan pakan,” ucap Yosef.

Sementara Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Proyek Pengadaan Itik di Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Malaka, Herman Klau Spi, mengaku, telah terjadi kesalahan ketik nilai proyek pada LKPJ 2018.

Sebab nilai proyek pengadaan itik sesungguhnya adalah Rp 520 juta, bukan Rp 5 Miliar seperti yang tercatat dalam Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban (LKPJ) Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Malaka Tahun Anggaran (TA) 2018.

“Itu salah ketik saja,” ujar Klau kepada media ini per telepon pada Jumat (14/6/19).

Menurut dia, proyek tersebut telah diserahterimakan oleh kontraktor kepada PPK atau Provisional Hand Over (PHO) pada Desember 2018.

Dia mengakui bahwa saat PHO kondisi fisik itik masih kecil dan hanya diterima oleh 20 kelompok peternak.

“Masih ada 5 kelompok yang belum menerima itik. Akan tetapi kami sudah buat surat penyataan bersama rekanan, dan rekanan bertanggung jawab akan menyelesaikan paket proyek ini. Sebab sampai sekarang Rp 520 juta itu belum dicairkan, rekening masih diblokir,” tegas Klau.

Klau menjelaskan, alasan kondisi itik masih kecil lantaran itik dewasa tidak dizinkan oleh Karantina dan Peternakan di Jawa untuk di bawa ke NTT. Sebab Karantina dan Peternakan takut ada virus flu burung pada itik dewasa.

“Sehingga pihak Karantiana dan Oeternakan hanya menyetujui anak itik beumur 1 minggu,” ucap Klau.

Kata Klau, selain pengadaan itik, TA 2018 juga ada Pengadaan Pakan Itik Dewasa sebanyak dua tahap.

Tahap pertama dengan anggaran Rp 510.000.000 dikerjakan oleh CV Yustina Tuto yang beralamat di jalan Uyelewun, Rt 023, Rw 009, Maulafa, Kota Kupang. Akan tetapi kontraktor ini tidak bersedia mengerjakannya. Karena itu uang proyek dikembalikan ke kas daerah.

Setelah itu, dilakukan lelang kedua dengan nilai proyek yang sama dan dimenangkan oleh CV Restu Boemial beralamat di Perumahan Pitoby Blok B III No 27 Kelurahan Penkase, Oeleta, Kecamatan Alak, Kota Kupang.

“Itu pun sehabis menang lelang, kontraktor tidak bersedia mengerjakannya. Maka anggaran dikembalikan lagi ke kas daerah,” beber Klau.

Sementara itu, Direktur CV Putri Tunggal, Vinsen Oenunu, mengaku, dirinya yang mengerjakan proyek pengadaan itik tersebut sejak 4 Oktober 2018.

Namun karena pihak peternakan dan karantina tidak mengizinkan itik dewasa di kirim ke NTT, maka ia terpaksa membeli anak itik berumur satu minggu.

“Setelah tiba di Malaka, itik itu kami pelihara dulu. Sehingga banyak yang mati sebelum dibagikan ke kelompok peternak,” katanya.

Menurut Vinsen, sebagai penyedia itik, dirinya mengalami kerugian besar. Sebab dari 5500 ekor itik yang didatangkan dari Jawa, 50 persennya mati akibat cuaca di musim hujan.

Karena itu, 3500 ekor itik didatangkan lagi untuk mengganti itik-itik yang mati. (*Chel)