Menuju MUSDA IMM 2018 – 2020


Oleh : Rahmat Taufik,S.Pd
(Kader Kultural IMM Kupang)

Zonalinenews, Makna Musyawarah adalah membahas kembali dan atau juga merotasi kembali kepemimpinan secara periodik yang dengan Slogan IMM di *Lombakan* /Fastabiq bukan ditandingkan sehingga tak perlu ada sikut-menyikut dan cedera-mencederai.

Kota Kupang dalam keputusan sebagai Tuan rumah hanyalah distribusi penugasan yang digulirkan tapi tersembunyi dibalik itu seyogyanya adab ke-Islaman dan Kemuhammadiyahan pun ala tradisi lokal harus disuguhi, bukan hanya elok dipandang mata, bukan pula nyaman diselubung rasa tapi lebih dari itu. Untuk mengesankan kebajikan yang ikhlas dari nilai-nilai Qur’ani dan Hadits.

Keseringan dalam tradisi ini, Tuan rumah sering difavoritkan sebagai kandidat Ketua Umum yang sebelumnya Formatur karena telah mengkonsentrasikan semua daya dan upaya untuk menunjukan gengsinya sebagai tuan rumah, ya tuan rumah saat perhelatan Musyawarah. Asumsi itu mungkin ada betulnya, segala energi dicurahkan tapi mengapa Ketua Umum itu tidak ditargetkan manakala bukan lagi berlaku sebagai tuan rumah? Mungkin ada yg kurang dari sistem manajemen Organisasi.

IMM Cab Alor, Flotim, Sikka dan Manggarai secara potensial memiliki generasi militan yang cukup mengatasnamakan daerah lainnya. Ada yang menganasir bahwa geneusisnya terpolakan namun sistemnya tidak terurus sehingga menjadi generasi yang hanya untuk dilombakan dan ketika terpilih menjadi orang nomor 01 IMM NTT tetap berada di tempat.

Indikator ketercapaian manajemen kepemimpinan yang dibangun dari komisariat, cabang dan DPD kini dan nantinya akan kita petik dengan semakin sedikitnya generasi kita dikarenakan menurunnya animo dalam berorganisasi.

Olehnya, ini tanggung jawab bersama. Ya semua kita, tatanan manajemen pembinaan pengkaderan harus diatur sistemnya kembali, mulai dari potensi lokal, memperbaiki dan meningkatkan layanan pendidikan follow up pasca pengkaderan dan kependidikan non-formal bagi para immawan-immawan yang selalu membuka lapak kajian serta mendorong kecintaan pada waktu dan tempat juga segala aspek terhadap KeberIMMan kita, dan memperbanyak momentum, serta ide-ide cemerlang lainnya.

Musyawarah jangan hanya kita jadikan moment memamerkan kebolehan kita tapi hilang tak berbekas pasca musyawarah, dan kita juga apatis dengan kondisi demikian.

Kakanda dan Adinda sekalian, ayo kita serukan… Masih kurang dari beberapa pekan lagi menuju detik MUSDA, harus mulai dibangun momentumnya bahwa kedepan IMM NTT akan terus menjadi lokomotif dalam mencetak kepemimpinan yang selalu berpedoman pada nilai-nilai IMM, karena seluruh kader dan simpatisan dalam balutan tradisi budaya lokal menjunjung tinggi nilai – nilai Islam dan Kemuhammadiyahan.

Selamat dan Sukses MUSDA DPD IMM NTT. (*)