Merawat Akal Sehat Ikatan Oleh : Abdullah S. Toda (Ketua DPP IMM)


Zonalinenews,- Berorganisasi merupakan sebuah keharusan bagi setiap orang terutama sebagai manusia pilihan yaitu mahasiwa. Yaa, manusia pilihan, saya sebutkan mahasiwa sebagai manusia pilihan karena tidak semua manusia diberi kesempatan menjadi mahasiwa dan tidak semua mahasiswa itu diberi kesempatan untuk berorganisasi, sehingga penting dan sebagai sebuah keharusan untuk mahasiwa itu berorganisasi.

Organisasi merupakan wadah untuk mematangkan kepribadian bagi setiap orang yang bergelut didalamnya. Tentu, kita sadari bersama akan dampak baik dan buruk dalam berorganisasi, sebutlah sebagai bentuk dinamika, kekurangan dan kelebihan seseorang akan menghasilkan sebuah kompetisi yang luar biasa. Pada hajatan organisasi seperti musyawarah/pergantian kepemimpinan akan mengalami pertarungan antar kader untuk menduduki posisi-posisi strategis dalam Ikatan tentu banyak menuai dinamika. Tidak sebatas itu, banyak hal bisa berpengaruh dan memunculkan dinamika seperti adanya perbedaan pandangan dan sikap dalam memutuskan sesuatu dalam mencapai tujuan.
Hal ini senada dengan padangan Robbins bahwa dinamika adalah suatu proses interaksi yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian antara dua pendapat (sudut pandang) yang berpengaruh terhadap pihak-pihak yang terlibat baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif.

Berbeda pandangan merupakan hal yang wajar dalam organisasi agar dapat berjalannya lebih massif. Tetapi tidak semua orang dapat memaknai arti sebuah dinamika dengan baik. Bagi saya dinamika harus terus dihasilkan dengan dua tujuan, _pertama,_ tujuan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan agar hasrat untuk memajukan organisasi lebih baik lagi dari sebelumnya. Hal ini sesuai dengan moto Ikatan yakni _fastabiqul khairat_ (berlomba-lomba dalam kebaikan). Yang tentunya mengedepankan nalar waras yang unggul dalam intelektual dan anggun dalam moral agar tidak mencederai organisasi dengan ambisius yang tinggi. _kedua,_ setiap dinamika yang dihasilkan agar dapat menokohkan pimpinannya, hal ini hampir hilang dalam setiap organisasi terutama IMM, sehingga tidak sedkit kita temukan akan kehilangan tokoh. Yang paling disayangkan lagi adalah kehilangan keteladanan kepemimpinan dalam berorganisasi itu sendiri. Kondisi ini hampir dirasakan secara keseluruhan oleh tubuh Ikatan. Lalu timbul pertanyaan kemudian, lantas apa tujuan kita berorganisasi ketika kita kehilangan keteladanan? Jika itu yang terjadi maka akan muncul rasa hilang simpati, Najih Prasetyo (Ketua Umum DPP IMM 2018-2020) pernah berpesan ketika kita kehilangan simpati maka yang muncul adalah caci maki. Penyakit ini akan muncul antar generasi bilamana sebagai pemimpin (kader) membiarkannya terjadi tanpa adanya perbaikan secara baik dimasing-masing level kepemimpinan.

Diperkirakan awal bulan November 2019 mendatang akan dilaksanakannya Musyawarah Daerah IMM NTT dan gendang suksesi pun telah ditabuh, para kader baik dari pusat, daerah, cabang dan komisariat akan memilih calon pemimpin IMM NTT pada 2 (dua) tahun dalam 1 (satu) periodesasinya. Diharapkan menentukan pilihan pada kader-kader yang berpotensi untuk membangun Ikatan ke depan lebih baik lagi. Tentu kita punya banyak kekurangan namun semua itu bisa diminimalisir dengan jalan saling mensupport demi kemajuan ikatan yang tentunya akan mencerdaskan lagi mencerahkan. Agar kebaikan dalam pengabdian nanti akan memberikan dampak baik bagi Ikatan, Persyarikatan, Umat, Bangsa, Negara dan terkhusus Flobamora tercinta.

Narasi ini sengaja dimunculkan agar kita senantiasa memaknai semua problematika dan mampu serta cerdas dalam menempatkan sesuatu pada tempatnya disetiap hal yang terjadi. Juga sebagai bentuk untuk mengevaluasi dan terpentingnya lagi adalah intropeksi diri dalam setiap yang mengakui dirinya kader. Semoga dapat bermanfaat dan mari merajut asa kebersamaan dan mengubur prasangka buruk yang akhirnya tidak menghasilkan nilai tambah bagi pribadi dan Ikatan itu sendiri.(*)