Sejumlah Elemen Masyarakat di NTT Apresiasi PT Garam


Zonalinenews-Kuoang,- Sejumlah elemen masyarakat di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengapresiasi PT Garam (Persero) yang sudah merealisasi perjanjian kerjasama pembagian hasil 10 persen dari hasil produksi garam tahun 2018.

Apresiasi itu disampaikan Sekjen  lembaga Adat kabupaten Kupang, Yorhan Nome, Wakil Ketua Sinode GMIT, Pendeta Agustina Oematan, Pemerintah kabupaten Kupang yang disampaikan sekretaris Disperindag Johanis Eki,  Akademisi Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, DR Christian Liufeto,  pemilik lahan ulayat desa Bipolo, Yeskiel Kaesnube di sela-sela acara penyerahan pembagian hasil produksi garam PT Garam tahun 2018, Jumat, 4 Oktober 2019 di kantor Sinode GMIT, Kupang-NTT.

Wakil Ketua Sinode GMIT, Pendeta Agustina Oematan kepada media ini mengatakan, Sinode GMIT  mengapresiasi adanya pembagian hasil kerjasama yang baik dari  PT Garam dan pemilik lahan ulayat kepada komponen terkait.

Pendeta Agustina meminta PT Garam Persero juga harus komit memperhatikan kesejahteraan masyarakat atau jemaat yang ikut terlibat bekerja di dalam.

” Ini kerja yang luarbiasa, kita berharap kegiatan ini bisa berkelanjutan. Tetapi kami minta tolong perhatikan kesejahteraan masyarakat atau jemaat yang ikut terlibat di dalam. Dan Jangan mempekerjakan anah dibawah umur. Sehingga tidak menimbulkan persoalan baru,” ucapnya.

Sekretaris Disperindag Kabupaten Kupang, Johanis Eki mengatakan,
pemerintah Kabupaten Kupang melalui Disperindag  mengucapkan terimakasih kepada PT Garam yang sudah bekerja sesuai PKS yang ada.

Menurut Johanis Eki, garam di Bipolo adalah emas putih yang harus di kerjakan dengan baik sehingga memberikan dampak ekonomi yang baik. Ia berharap kerjasama itu di tingkatkan sehingga ke depan lebih baik lagi.

“kita berharap kegiatan ini terus dilanjutkan dengan baik sehingga membantu pertumbuhan ekonomi masyarakat. Kami menyampaikan apresiasi dan ucapan terimakasih juga karena melalui kegiatan ini dapat meningkatkan PAD kabupaten Kupang dari hasil panen garam yang ditargetkan 15 juta ton pertahun,” ujarnya.

Sekjen LPA Yorhans Nome mengatakan terima kasihnya kepada PT Garam karena salah satu tujuan pendirian LPA memberdayakan lahan adat yang selama ini tertidur dan diklaim oleh masing masing suku yang tidak pernah diusahakan secara maksimal.

Menurut Nome, hasilnya dari PKS antara PT Garam sudah  dinikmati, sehingga kedepan dalam koordinasi dengan masyarakat adat, pemanfaatan lahan dengan pola seperti itu dapat terus dilanjutkan.

“Kalau dapat PT Garam menjadi model dan menjadi contoh penerapan pola pemanfaatan lahan dan kerjasama seperti ini karena ini sudah ada bukti,” jelasnya.

Pemilik Lahan Ulayat di desa Bipolo Yeskiel Kaesnube selaku perwakilan pemilik lahan, mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam PKS khususnya PT Garam yang sudah melibatkan warga lokal sebagai tenaga kerja.

Ia mengaku sesuai hasil PKS maka PT Garam wajib memberikan 10 persen hasil produksi kepada pemilik lahan ulayat. Setelah itu baru pemilik lahan membagikan kepada lembaga adat,  pemerintah daerah dan Sinode GMIT.

“Saya mewakili pemilik lahan mengucapkan terimakasih kepada PT Garam yang sudah mampu merealisasikan PKS. Kami terus memdukung untuk kesuksesan produksi garam di lahan kami yang selama ini belum dioptimalkan dengan baik,” terangnya.

Akademisi Undana Kupang DR Franchy Christian Liufeto yang aktif melakukan pendampingan terhadap pengelolaan produksi garam di desa Bipolo menjelaskan, lahan-lahan garam yang ada di desa Bipolo sesuai kajian akademis dinilai sangat produktif.

Dari sisi akademis, DR Liufeto mengaku terus mendorong para pengusaha untuk mengembangkan industri garam di NTT sesuai visi-misi pemerintah provinsi NTT untuk memenuhi kebutuhan garam Nasional.

Dikatakan DR Liufeto, sesuai komitmen gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat untuk memproduksi 1 juta ton garam asal NTT maka ia berharap semua lahan produksi garam yang ada di NTT harus di kerjakan.

“Semua lahan garam yang ada di NTT kalau sudah dikerjakan maka komitmen Gubernur NTT untuk produksi 1 juta ton garam asal NTT akan tercapai dan dapat menghidupkan ekonomi masyarakat lokal.” tandasnya.

Dikatakan Dr Liufeto, dari sudut pandang akademis, PT Garam sudah menjalankan program kerjasama yang baik sesuai target Gubernur NTT untuk memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat secara inklusif. Melibatkan masyarakat dalam setiap aktifitas dan masyarakat mendapatkan keuntungan langsung.

Dijelaskan DR Liufeto, untuk pemenuhan kebutuhan garam nasional sesuai target Gubernur maka seluruh lahan potensial yang ada di kabupaten Rote Ndao, Sabu Raijua, Nagekeo, Sumba Timur, Manggarai, Belu, Malaka, TTS dan TTU harus dimanfaatkan dengan baik.

Namun, menurut DR Liufeto, pemerintah perlu memperhatikan aksesibilitas (infrastruktur) menuju lokasi lahan garam yang selama ini menjadi kendala bagi investor yang ingin berinvestasi di NTT.

“Kalau itu semua lahan produktif dimanfaatkan dengan baik, sisa atur saja mekanisme kerjasama antara perusahaan dan pemilik lahan ulayat yang menguntungkan kedua belah pihak. Setelah itu pemerintah lewat dinas terkait memperhatikan infrastruktur yang selama ini masih menjadi kendala bagi para investor diawal investigasi.” ungkapnya.

Kepala Cabang PT Garam Persero Bipolo,  Agung Triwasono Hadi kepada media ini menjelaskan, realisasi penyerahan bagi hasil produksi tahun 2018 itu sesuai addendum perjanjian kerjasama (PKS) antara PT Garam dengan pemangku tanah ulayat desa Bipolo nomor 23 A/KS/VI/2018 pasal 5 tanggal 8 juni 2018 sebesar 10 persen dari total produksi PT Garam tahun 2018.

Lanjut Agung,  sesuai hasil produksi tahun 2018 diatas lahan 304 hektare maka 10 persen hasil produksi senilai Rp 306.739.500 diberikan kepada pemangku tanah ulayat desa Bipolo yang nantinya akan dibagi dengan komposisi 5,5 persen untuk pemilik lahan ulayat, 1,5 persen untuk lembaga adat, 1,5 persen untuk Sinode GMIT dan 1,5 untuk pemerintah kabupaten Kupang.

“Hari ini kami melakukan pembagian hasil sesuai PKS tahun lalu maka 10 persen dari hasil produksi itu kita bagikan kepada pemangku tanah ulayat desa Bipolo.  5, 5 persen atau Rp 168.706.725 untuk pemilik lahan ulayat, Pemerintah daerah kabupaten Kupang sebesar 1,5 persen  atau senilai  Rp 46.010.925, Bagian pendidikan sinode GMIT sebesar 1,5 persen setara Rp 46.010.925 dan Lembaga adat kabupaten Kupang sebesar 1,5 persen dinominalkan Rp 46.010.925” jelas pria asal Jawa itu.

Menurut Agung, kehadiran PT Garam di desa Bipolo, kecamatan Sulamu, kabupaten Kupang sangat berdampak positif antara lain menjadikan lahan kurang produktif menjadi lahan produktif dan mampu meningkatkan ekonomi masyarakat desa Bipolo.

“Ini tidak lain juga sebagai bentuk dari wujud BUMN hadir untuk negeri lewat PT Garam. PT Garam hadir untuk kesejahteraan masyarakat NTT bukan  untuk perusahaan.” ungkapnya.

Agung menambahkan, ke depan PT garam akan terus melakukan pendampingan untuk menciptakan inovasi-inovasi dalam rangka pengembangan lahan garam produktif yang ada di Kupang.

Dijelaskan Agung, hingga saat ini pertanggal 03 oktober 2019, PT Garam di desa Bipolo sudah berproduksi menghasilkan garam sebesar 7.745 ton dengan penyerapan tenaga kerja lokal sebanyak 150 orang.

“Dengan adanya penyerahan atas bagi hasil hari ini kita tetap mengharapkan dukungan dari seluruh pihak untuk bermitra dengan PT Garam Persero untuk terus bekerja dalam mewujudkan swasembada garam Nasional dan menjadi contoh pengaraman modern di NTT. Target produksi kita tahun ini naik dari 8.058 ton ke 15.000 ton,” tandasnya. (tim).