Seleksi Atlet Taewondo NTT Untuk Pra – PON 2019 Dinilai Ada Kecurangan


Foto : Atlet Taekwondo Kota Kupang, Kartika Alya Kasaban Goran

ZONALINENEWS.COM – KUPANG, Seleksi Atlet Taekwondo Nusa Tenggra Timur (NTT) untuk kejuaraan Pra – PON 2019 pada bulan Agustus lalu dinilai ada indikasi kecurangan yang dilakukan oleh pengurus Taekwondo NTT. Hal ini disampaikan salah satu Atlet Taekwond Kota Kupang Kartika Alya Kasaban Goran kepada zonalinenews.com di Kota Kupang, Rabu 2 Oktober 2019.

Menurut Kartika kecurangan yang dilakukan oleh pengurus Taekwondo NTT tersebut adalah telah melakukan pergantian atlet yang namanya semula sudah masuk dalam daftar atlet peserta Pra – PON di Banten pada 26 – 29 September 2019 kemarin, dengan atlet lain tanpa ada pemberitauan atau informasi dari pihak pengurus tersebut. Dia juga mengatakan, berdasarkan prestasi yang dimikilinya di kelas remaja tersebut, dia diperbolehkan untuk mengikuti seleksi untuk kelas Under 46 Kg Putri pada kejuaran Pra – PON. “Di kelas Under 46 Kg ini hanya ada dua atlet yaitu saya dan Irma Maloko. Melaluli tahap seleksi ada tes fisik yang nantinya akan dinilai dan tes teknik fight sehingga pada seleksi terakhir itu di kelas Under 46 Kg saya yang lolos, dan nama saya sudah keluar sebagai atlet persiapan Pra – PON di kelas Under 46 Kg Kyurugi Putri,” kata Kartika.

Setelah nama – nama atlet persiapan Pra – PON keluar tersebut sehurusnya, lanjut Kartika seluruh atlet harus menjalani latihan terfokus pada satu tempat latihan di Aula Ben Mboi Kota Kupang. Namu, atlet yang mengikuti latihan tersebut hanya altet dari Kota Kupang, sementara atlet yang dari daerah lain itu dua minggu sebelum berangkat baru mereka datang. “Ika Modok (TTU) di kelas Under 52 Kg, seleksi terakhir figth dengan In Potto (Ende) itu Ika kalah. Secara otomatis Ika Modok ini sudah out sehingga tidak bisa lagi menjadi atlet Pra – PON. Tapi Ika ini dipangil oleh pengurus Ketua Harian Taekwondo NTT agar dipaksakan turunkan badan ke kelas Under 49 Kg untuk mengantikan adiknya Eka Modok yang semulanya mengisikan kelas Under 49 Kg. Sehingga Eka Modok juga harus menurunkan berat untuk main di kelas Under 46 untuk menyingkirkan saya di kelas Under 46 Kg,” ungkap siswi Kelas III SMA itu.

Dia menjelaskan, selama proses latihan tersebut untuk tes standar aturan mereka tidak masuk dalam kategori. “Kalau kita mau ikut aturan yang sebenarnya, standar fisik mereka itu dibawa rata – rata. Sebab, mereka tidak mengunakan stabdar fisik itu. Satandar fisik untuk perempuan yang ikut seleksi itu ada. Dan kalau mau ikut aturan sebenarnya yang diberikan oleh pengurus nama mereka itu sudah dicoret,” papar Kartika.

Menanggapi persoalan tersebut Asrul S. Kasaban Goran ayah dari Kartika Alya Kasaban Goran juga menilai kejadian tersebut sangat merugikan karir anaknya di dunia taekwondo. “Kita sempat pertanyakan kepada seluruh pelatih Pra – PON dan Pengurus, kenapa anak kami yang mainnya di kelas Under 46 Kg digantikan dengan atlet yang main di kelas Under 49 Kg, tapi jawaban mereka hanya sebatas tidak tau dan mereka bilang ini adalah keputusan,” katanya.

Dia berharap dengan kejadian ini KONI NTT harus mengambilsikap yang tegas. Karena apa bila dibiarkan maka Taekwondo NTT tidak akan perna berkembang bahkan Taewondo NTT tidak mampu mengangkat nama NTT di ivent – iven nasional. “Ada beberapa atlet yang ikut pada kejuaraan Pra – PON di Banten kemarin itu adalah atlet yang tidak pernah ikut seleksi dan bahkan kalah ketika mengikuti seleksi fisik dan faight untuk Pra – PON 2019,” ujar Asrul.

Sementara itu ditempat terpisah Ketua Harian Taekwondo NTT, Micky Natun yang dikonfirmasi zonalinenews.com, Kamis 3 Oktober 2019, dia mengatakan, apa yang dituding oleh atlet tersebut tidak benar, karena digugurkan Kartika Alya Kasaban Goran dalam seleksi Pra – PON tersebut sudah melalui tahap penilaian oleh pelatih Pra – PON. Menurut dia Kartika Alya Kasaban Goran belum pantas ikut bertanding di ajang kejuaraan Pra – PON karena fisik yang tidak memungkinkan. “Kartika Alya Kasaban Goran ini lebih layak bertanding pada kejuaraan Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) dibandingkan ke Pra – PON,” kata Micky.

Dia menjelaskan, ketika ajang uji coba Kartika Alya Kasaban Goran melawan atlet dari Timor Leste tersebut Kartika kalah telak, sedangkan yang mengantikan posisi Kartika itu menang dalam pertandingan uji coba. “Kartika ini kita perispkan untuk ivent Popnas. Tapi kalau memang ada tidak nyaman juga ini menjadi pertimbangan kita, karena kita sendiri tidak ada kepentingan apa – apa,” ungkap Micky.

Ketika disinggung soal diduga ada indikasi anak emas dalam sistem seleksi tersebut dia membantah hal tersebut. “Seluruh atlet yang diberangkatkan ke Pra PON itu semuanya ikut tes kok, dan Eka Modok yang ganti Kartika di kelas Under 46 Kg itu juga ikut tes seleksi Pra – PON. Jadi untuk melakukan eksekusi layak dan tidak layak itu semuanya itu kewenangan penuh ada pada pelatih atlet. Kerena amereka yang menilai di kelas Under 46 Kg kartika ini untuk bersaing di Pra – PON itu agak susah karena postur tubuhnya,” jelas Micky.

Dia menambahkan, untuk informasi layak atau tidak layak atlet tersebut ikut pada kejuaraan Pra – PON sudah diinformasikan oleh pelatih satu bulan sebelum para atlet diberangkatkan ke Pra – PON. (*hayer)