Kota Kupang Memiliki Banyak Cagar Budaya Yang Tidak Dirawat Dengan Baik


Foto Ilustrasi Gua Pertahanan Jepang di Kelurahan Liliba, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang NTT (dokumen BPCB Bali)

ZONALINENEWS.COM – KUPANG, Kota Kupang begitu banyak benda cagar budaya saat ini yang dikuasai oleh masyarakat, namun tidak dirawat dengan baik. Sehingga kedepan Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang berencana untuk membuat undang – undang cagar budaya. "Undang – undang cagar budaya ini perlu disosialisasikan kemasyarakat dengan  tujuan agar, masyarakat memiliki kepedulian yang tinggi untuk menjaga benda – benda cagar budaya yang ada di Kota Kupang,” kata Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan, Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan (P Dan K) Kota Kupang Frans Folamauk kepada zonalinenews.com di ruang kerjanya, Selasa 26 November 2019.

Menurut dia, di Kota Kupang memiliki banyak benda cagar budaya peninggalan dari perang dunia kedua yang terdiri dari mariam, lubang perlindungan, gedung dan bangker – bangker. “Banyak gedung dan bangker – bangker dari peningalan dunia kedua itu sudah hancur dan tidak terawat dengan baik yang disebabka oleh kekurangan dana dan bahkan lokasi gedung dan bangker itu berada di tanah milik warga yang sudah bersertifikat,” ungkap Frans.

Dia mengatakan, yang menjadi kendala bagi Pemkot Kupang adalah bagai mana cara agar bisa merawat cagar – cagar budaya yang ada saat ini, yang sudah dikuasai oleh masyarakat. “Cagar – cagar budaya ini sudah menjadi milik masyarakat. Oleh karena itu kita tidak bisa masuk ke sana untuk merawat cagar – cagar budaya itu,” kata Frans.

Dia menjelaskan, cagar – cagar budaya yang sudah dimiliki oleh masyarakat tersebut bisa dirawat dengan baik apabila ada kerja sama yang baik antara pemerintah dan masyarakat sehingga benda – benda peningalan tersebut tidak dirusaki. “Cagar budaya di Kota Kupang ini sangat banyak,” ujar Frans.

Dia menambahkan, dari enam kecamatan yang ada di Kota Kupang tersebut semua memiliki cagar budaya. “Disetiap kecamatan di Kota Kupang ini ada cagar budaya. Ada kecamatan yang memiliki bangker dan gedung, ada yang memiliki gedung saja tidak ada bangker dan ada yang ada bangker tapi tidak ada bangunannya lagi. Namun, semua ini tidak terpelihara dengan baik. Hal ini yang menjadi perhatian pemerintah untuk berupaya bagaimana untuk mempelihara dan merawat dengan baik sehingga kedepan anak cucu kita mengetahui sejarah cagar budaya yang ada di Kota Kupang,” jelas Frans. (*hayer)