oleh

Kandang Ayam Milik PT. Sasando Habiskan Dana 500 Juta

Zonalinenews – Kupang, Yulius Malo Dauso, Manajer PT Sasando, yang mengundurkan diri membongkar kebobrokan pengelolaan keuangan di perusahaan tersebut. Penyertaan modal senilai Rp 2 miliar dari Pemkot Kupang tak mampu dikelola dengan baik untuk memajukan sejumlah jenis usaha yang dijalankan perusahaan daerah milik Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang tersebut. Kepada wartawan dalam konferensi pers di Caffe Orange, Kamis 30 Oktober 2014, 11.30 wita.

Kandang ayam yang dibangun Oleh PT Sasando Kupang
Kandang ayam yang dibangun Oleh PT Sasando Kupang

 

Yulius mengatakan, pada tahun 2014, PT Sasando mengusulkan tambahan anggaran ke Pemkot Kupang sebesar Rp 4 miliar. Dana tersebut rencananya untuk mendukung usaha periklanan berupa penambahan titik iklan dan papan iklan, peternakan ayam yakni untuk pembuatan kandang ayam berkapasitas 20 ribu ekor, peternakan babi bekerja sama dengan masyarakat, dan unit usaha percetakan yang bekerja sama dengan anak – anak Kupang yang berjiwa seni untuk mendukung periklanan.
Namun, dari dana Rp 4 miliar yang diusulkan tersebut, setelah melalui pembahasan bersama Pemkot dan DPRD Kota Kupang, akhirnya hanya disetujui dana penyertaan modal ke PT Sasando senilai Rp 2 miliar. Karena dana yang diusulkan hanya itu, maka dilakukan revis kegiatan usaha. Kegiatan lebih difokuskan pada peternakan ayam, perbaikan papan iklan, peternakan babi, dan perbaikan halte bekerja sama dengan Dinas Perhubungan Kota da dipasangi baner iklan.

Menurutnya, dari dana Rp 2 miliar itu, pada bulan Maret ia dipercayakan direktur untuk mengadakan material berupa besi, seng, dan kawat ram-ram dari Surabaya. Dana yang dialokasikan untuk pengadaan material tersebut senilai Rp 500 juta. Setelah material diadakan, mulai dilakukan aktivitas di lokasi peternakan ayam di Kelurahan Penkase, Kecamatan Alak, Kota Kupang. Namun, pelaksanaannpun tak berjalan maksimal. Bahkan, setelah material tambahan berupa seng dan kawat ram – ram didatangkan, pekerjaan tak kunjung dituntaskan. “Padahal material sudah siap 90 persen, tinggal tambahan material lokal pasir dan pemasangan instalasi listrik,” katanya.

Setelah semua material lengkap, kata Yulius, telah dibuatkan berita acara serah terima barang setelah dilakukan pemeriksaan material pada 31 Mei. Dalam berita acara tersebut telah dinyatakan lengkap sesuai nota kesepahaman yang dibuat oleh PT Sasando dengannya pada 20 Mei lalu. Hanya saja, kata dia, setelah semua material dinyatakan lengkap, progress pelaksanaan fisik pekerjaan di lokasi pekerjaan hingga kini baru sebatas pemasangan rangka besi. Kandang ayam berkapasitas 20 ribu ekor yang dibuat bertingkat itu tak kunjung diselesaikan.

“Jadi keliru kalau mereka bilang keterlambatan pelaksanaan pekerjaan karena terlambatnya pengadaan material kandang,” tegasnya.
Menurutnya, dari dana penyertaan modal senilai rp 2 miliar dan setelah digunakan Rp 1,2 miliar untuk pengadaan material kandang ayam senilai Rp 500 juta dan mesin percetakan senilai Rp 700 juta, maka seharusnya  masih ada sisa dana di kas perusahaan senilai Rp 800 juta. Jika ditambahkan dengan dana perusahaan saat penyehatan perusahaan senilai Rp 600 juta, maka terdapat Rp 1,4 miliar yang ada di perusahaan. Dengan dana yang ada, harusnya pekerjaan kandang ayam sudah bisa dituntaskan dan ayam sudah bisa produksi, “Katanya.

Ia menegaskan, dari dana penyertaan dan sisa kas. Belum termasuk belum termasuk dana hasil penjualan babi dan pemasukan rutin dari unit usaha percetakan dan iklan, serta pinjman tambahan dari BPR TLM senilai Rp 400 juta dan pinjaman dari pihak ketiga lainnya.

Sementara Deni, mantan tenaga kontrak yang menangani pengolahan limbah plastik di PT Sasando mengatakan, 17 karyawan sudah dua bulan ini belum menerima gaji. Tetapi, gaji untuk Mikel yang adalah anak kandung direktur PT Sasando Sulaiman M Louk senilai Rp 2,3 juta dan merupakan gaji tertinggi tetap dibayar oleh manajemen PT Sasando.
Ia juga mengatakan, sejumlah rolling door yang dibongkar di ruko tersebut juga telah dijual begitu saja oleh direktur. Padahal, itu merupakan aset milik perusahaan yang tak boleh dijual begitu saja.

Sementara itu, Sekretaris Kota Kupang Bernadus Benu selaku Komisaris Utama PT Sasando saat ditemui di Balai Kota kemarin menjelaskan, modal hampir habis, dan sisa Rp 600 juta lebih, sehingga mati modal dan butuh tambahan modal. Sampai tahun 2013, dana sekitar Rp 1,3 miliar sesuai hasil audit independen, dan audit 2014 belum dilakukan. Dalam perjalanan, karena operasional besar terutama untuk gaji karyawan sampai Rp 50-an juta, dan tanpa pemasukan, maka perusahaan tak dapat memberikan kontribusi untuk penerimaan daerah.
Ditanya penyertaan modal, sejauh ini belumada tambahan modal ke PT Sasando. Sedangkan soal hal teknis pelaksanaan pekerjaan kandang ayam, Benu meminta untuk mengkonfirmasinya langsung ke Direktur PT Sasando yang lebih mengetahuinya.

Direktur Utama PT Sasando Sulaiman M Louk yang hendak dikonfirmasi di kantornya tak berada di tempat. Salah seorang staf di kantor PT Sasando mengatakan Sulaiman sedang ke Balai Kota menemui Wali Kota dan Sekretaris Kota. Namun, saat diikuti ke Balai Kota, ia tak ditemui di sana. Saat  dihubungi media ini melalui telepon genggamnya, namun tak dijawab. SMS yang dikirimkan pun hingga berita ini dibuat juga tak dijawab, (*hayer)