oleh

SEMANGAT SUMPAH PEMUDA MASIHKAH SAMA? ATAU SUDAH BERUBAH

Oleh : Rhezki’Jovie’Pratama

Zonalinenews,- Pemuda merupakan ujung tanduk dari suatu bangsa, karena maju dan mundurnya suatu Negara itu ada di pemuda, dan Posisi pemuda sebagai agen perubahan itulah yang menjadikan pemuda sebagai harapan bangsa. Berbagai hal menyangkut perubahan, selalu dikaitkan peranan pemuda.

Sejarah membuktikan itu. Di berbagai belahan dunia, perubahan sosial,politik menempatkan pemuda di garda depan. Tak tanggung-tanggung pemimpin besar seperti Bung Karno (Presiden RI Pertama) mengungkapkan kata-kata pengobar semangat “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncangkan dunia”.

Jovie-300x160

 

Dalam pikirannya Bung Karno, pemuda digambarkan sosok unggul, pilihan, bergairah, bergelegak dan bergelora secara fisik, psikis, intelektual, serta yang terpenting sikapnya. Pemuda sosok superior, progresif, revolusioner dengan api berkobar-kobar, dan bara spirit yang menyala-nyala. tapi Kenyataannya sekarang pemuda menjadi tumpul seiring menghilangnya makna dan nilai Sumpah Muda itu sendiri.

 

Kita akan melewati lagi seremonial hari bersejarah Sumpah Pemuda. Sudah berusia 84 tahun gerakan kepemudaan berlalu sejak tahun 1928. Perubahan negara ini tidak terlepas dari kontribusi pemikiran dan gerakan pembaharuan kalangan pemuda. Gerakan muncul dari sebuah visi dan misi dalam membangun peradaban dan perubahan sebuah negera. Kesepakatan, komitmen, dan tanggung jawab, menjadi kunci utama dalam gerakan.

Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, pemuda selalu menempati peran yang sangat strategis dari setiap peristiwa penting yang terjadi. Bahkan dapat dikatakan bahwa pemuda menjadi tulang punggung dari keutuhan perjuangan melawan penjajahan Belanda dan Jepang ketika itu. Peran tersebut juga tetap disandang oleh pemuda Indonesia hingga kini, selain sebagai pengontrol independen terhadap segala kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dan penguasa, pemuda Indonesia juga secara aktif melakukan kritik, hingga mengganti pemerintahan apabila pemerintahan tersebut tidak lagi berpihak ke masyarakat.

Hal ini dapat dilihat pada kasus jatuhnya Pemerintahan Soekarno oleh gerakan pemuda, yang tergabung dalam kesatuan-kesatuan aksi mahasiswa dan pemuda tahun 1966. hal yang sama juga dilakukan oleh pemuda dalam menumbangkan pemerintahan Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun. Peran yang disandang pemuda Indonesia sebagai agen perubahan (agent of change) dan agen kontrol social (agent of social control) hingga saat ini masih sangat efektif dalam memosisikan peran pemuda Indonesia.

Era reformasi yang bergulir sejak tahun 1998 (di mana pemuda juga punya peran luar biasa), banyak orang kecewa. Reformasi tidak jadi spirit proses pencerahan kehidupan berbangsa dan bernegara, malah sebaliknya.

Sekarang Pemuda lebih banyak melakukan peranan sebagai kelompok politik dan sedikit sekali yang melakukan peranan sebagai kelompok sosial, sehingga kemandirian pemuda sangat sulit berkembang dalam mengisi pembangunan ini.

Sumpah pemuda biasanya selalu di peringati dan dimaknai dengan janji para pemuda jaman dahulu untuk bersatu tanah air, satu bangsa,dan satu bahasa  yaitu Indonesia, kita sering keliru dengan hanya menafsirkan arti harfiahnya saja tanpa dapat menangkap esensi dari sumpah pemuda itu sendiri.

Kita selayaknya ingat dan menyadari bahwa saat para pemuda bersumpah mereka tidak melepaskan indentitasnya masing masing, di sebut jong java, jong Sumatra, jong ambon dan seterusnya, artinya sumpah itu di ucapkan dengan kesadaran akan identitas kedaerahannya masing masing, bahwa mereka saat itu menyadari bahwa yang ingin dicapai bukanlah menghilangkan akar budaya masing masing, melainkan dengan kekuatan indentitas daerah dan budaya masing masing, para pemuda menyatukan diri dan saling mengikat dengan menyatakan tekad untuk bersatu nusa, satu bangsa dan satu bahasa yaitu bahasa Indonesia.

Muncul tanda tanya besar apakah masih ada gerakan pemuda yang konsisten dengan ideologi dan arah kerberpihakan perjuangan pada masalah – masalah sosial? Ataukah gerakan pemuda telah dibutakan dengan kehidupan hedonisme? Tanpa menutup kemungkinan kelemahan dari proses berpikir yang tidak termanifestasi dalam gerakan.

Terminologi pemuda di identikan pada mahasiswa. Tentunya basis intelektualitas dan kepedulian terhadap masalah kemasyarakatan menjadi pondasi kuat dari seorang mahasiswa. Landasan teoritisnya membangun perubahan dan peradaban tidak hanya memiliki semangat bergelora muda saja, tetapi dituntut juga intelektual yang mumpuni. Kehadiran pemuda dikatakan sebagai kelompok penekan yang memberikan pengaruh penting terhadap perumusan kebijakan penguasa hingga melahirkan kebijakan prorakyat, walaupun kata pro-rakyat masih terjadi debatable.  Bisa dikatakan kebijakan yang di hasilkan besar keberpihakan kepada rakyat  bukan pemodal.

Berat memang melakukan restorasi gerakan pemuda, bilamana mental idealisme terkikis hanya lantaran perselikunghan dari pemodal. Kesadaran pemuda akan menempatkan posisi bahwa mereka bebas dari berbagai intrik politik dan ekonomi belum terlabel di mental mereka. Karakter lainnya pemuda ikut gerakan bukan karena memahami gerakan yang di perjuangkan tapi lantaran ikut- ikutan bahkan ada kesan gengsi bila tidak ikut dengan teman-teman lainnya.

Tak hanya itu saja kecenderungan pemuda lebih mengedepankan tindakan anarkisme dan radikalisme dari pada dialog- dialog berbasiskan solution intellectual. Dan kita juga melihat kondisi yang terjadi belakangan ini. Mahasiswa satu dengan lainnya tawuran lantaran masalah yang sangat tidak substansial.  Bagaimana bangsa ini mau maju dan berkembang kalau mahasiswa dan pemudanya hanya di sibukan dengan konflik- konflik horizontal. Ironis memang tapi itulah realitanya dan kita harus telan bulat- bulat walaupun itu sangat pahit.

Banyak faktor melatarbelakangi melemahnya gerakan kepemudaan.  analisis saya terbagi menjadi dua secara internal maupun eksternal. Faktor internalnya terdiri dari masalah regenerasi (transfer knowledge terputus), tidak adanya ideologi yang jelas, kebijakan kampus tidak berpihak kepada kegiatan Mahasiswa, Mahasiswa yang hedon, dengan label Mahasiswa tapi tidak mengerti apa fungsi dan peran sebagai Mahasiswa dan Pemuda Indonesia. Sedangakan Faktor eksternalnya meliputi terkontaminasi dari gerakan politik partai selain itu Mahasiswa sekarang cendrung anarkis, radikalisme. Egosentris kampus atau fakultas masih dibawa- bawa. Dan Tawuranlah menjadi jawabannya.

Mengakhiri tulisan ini saya ingin memberikan masukan kepada pemuda dan Mahasiswa untuk menciptakan momentum ketimbang menunggu momentum, karena momentum tidak akan datang berulang, lakukanlah diskusi rutin dan membuat kajian -kajian ilmiah. Dan menujukan karya- karya yang bisa di banggakan. Karena era sekarang adalah eranya kreatifitas, era dimana perang konsep dan pemikiran, kalau kita sebagai pemuda tidak eksis dan berkarya maka kita pasti akan tertinggal jauh oleh Negara- Negara tetangga.(*Humaira)

Selamat hari SUMPAH PEMUDA, ayo bangkit pemuda Indonesia!

Rhezki’Jovie’Pratama

Kandidat Magister Komunikasi Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Penulis: zonaline news

Gambar Gravatar
Alamat Redaksi : Jalan Adisucipto Kompleks Perumahan RSS Oesapa Kota Kupang Blok P No 2 NTT