oleh

33 Desa di Manggarai Jadi Desa Siaga

Media Group : Zonalinenews, Erende Post  -Ruteng,-  Sebanyak 33 Desa di Kabupaten Manggarai sejak tahun 2014 sudah menjadi desa siaga. Pembentukan desa siaga tersebut dilakukan atas kerja sama AIPMNH, BPMPD dan Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai.

Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (BPMPD) Kabupaten Manggarai, Th. Yos Nono, S.Sos kepada wartawan di ruang kerjanya, Rabu 5 November 2014  mengatakan, bangun desa siaga menjadi program pemerintah untuk membangkitkan desa dengan pola hidup sehat, mengurangi kematian ibu dan anak dengan didukung oleh instansi teknisnya, yaitu Dinas Kesehatan, sedangkan dari sisi pendanaan dibiayai oleh AIPMNH.

Ia mengatakan, ada berbagai item kegiatan dalam program desa siaga tersebut, di antaranya Perumusan Perdes KIBLA pada desa; pendampingan/pembinaan desa siaga baru; pembuatan Perdes di 5 desa siaga; dan kontrak mentor desa siaga pada Juli-Oktober 2014.

Sedangkan kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, dr. Yulianus Weng, M.Kes melalui Kabid Peran Pembinaan Peran Serta Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, Josephine Paput, S.Sos mengatakan, pembangunan desa siaga dibantu oleh Dinkes Manggarai terutama dalam hal pendampingan dan fasilitator saja, sedangkan yang lainnya bukan urusan Dinkes.

Sementara itu, Sekretaris Dinkes Kabupaten Manggarai, Adrianus Adipatma, kepada wartawan menjelaskan, peluncuran desa siaga sedikitnya ingin menjawab persoalan kesehatan pada umumnya dan penurunan angka KIA khususnya yang saat ini , grafiknya masih cukup tinggi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Yang dituntut dalam pembangunan  desa siaga adalah kesiapsiagaan kita agar KIA dapat dicegah sedini mungkin. Program ini yang dinamakan Revolusi KIA di mana mengharuskan proses persalinan dilakukan pada fasilitas kesehatan yang memadai. Kita juga patut berbangga, karena walaupun dengan segala keterbatasan, baik dana maupun fasilitas masyarakat desa selalu siaga dalam berbagai situasi,”terang Adipatma.

Terkait upaya peningkatan derajat KIA, tambahnya, dapat dibuktikan dengan melihat di mana ternyata sebagian besar angka kematian ibu dan anak dan angka kematian anak/bayi karena masalah sosial budaya, seperti terlambat mengenal tanda bahaya dan mengambil keputusan; terlambat membawa ke tenaga kesehatan atau merujuk; terlambat mendapatkan pertolongan di sarana kesehatan.

Menurutnya, dalam membangun desa siaga, hal yang paling mendasar adalah partisipasi masyarakat dan memunculkan saling percaya di antara masyarakat, tenaga kesehatan dan pemerintah dengan prinsip partisipasi yang setara. Pengembangan masyarakat menjadi target utama, bukan hanya sekedar memberikan Poskesdes atau meningkatkan status polindes/poskesdes menjadi Puskesmas Pembantu.

Dia menjelaskan pula bahwa desa siaga sesungguhnya sebuah jalan dalam upaya menggali nilai kegotongroyongan masyarakat agar secara bersama-sama mengatasi permasalahan yang ada di desa.

Selain itu, terang dia, desa siaga juga bermaksud menggeser paradigma bahwa masalah kehamilan, kelahiran bukan hanya masalah ibu, dan kesehatan bukan hanya persoalan pemerintah semata tetapi juga masyarakat ikut bertanggung jawab di dalamnya.

“Desa siaga sebagai modal sosial dalam pembangunan sebagai sebuah alternatif yang berguna untuk keluar dari permasalahan kesehatan khususnya ibu dan anak”, terangnya. (*kons)

Penulis: zonaline news

Gambar Gravatar
Alamat Redaksi : Jalan Adisucipto Kompleks Perumahan RSS Oesapa Kota Kupang Blok P No 2 NTT