HARKITNAS : KERJA NYATA HADAPI KOMPETISI GLOBAL

Wagub NTT saat Upacara Harkitnas
Bagikan:

Wagub NTT saat Upacara Harkitnas
Wagub NTT saat Upacara Harkitnas

Zonalinenews-Kupang, Perjuangan para pemuda lewat organisasi Boedi Oetomo yang dipimpin Dr. Wahidin Soedirohoesodo dan Dr. Soetomo 108 tahun silam dengan melahirkan Sumpah Pemuda 1928, telah mengantarkan bangsa Indonesia memproklamirkan Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Melalui perjuangan yang tidak kenal lelah dengan diproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia maka rakyat Indonesia berjanji Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati.

Demikian hal ini dikemukakan Wakil Gubernur (Wagub) NTT, Drs. Benny A. Litelnoni,SH,M.Si, ketika bertindak selaku Inspektur Upacara (Irup) membacakan sambutan Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI, Rudiantara, pada upacara bendera memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke 108 Tahun 2016 tingkat provinsi NTT, di Alun-alun rumah jabatan Gubernur NTT, Jumat 20 Mei 2016.

Turut hadir dalam upacara bendera itu, antara lain, Ketua Umum Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (Perwosi) Pusat, Devi Pandjaitan, Ketua Pengadilan Tinggi NTT, Andreas Don Rade,SH,MH, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) NTT, Ketua Tim Pengerak PKK NTT, Lusia Adinda Lebu Raya, Wakil Ketua Tim Penggerak PKK/Ketua Perwosi NTT, Fransisca Litelnoni, Tokoh Pemuda dan pelajar, Pimpinan SKPD serta unsur PNS maupun ABRI.

Menurut Benny Litelnoni, mengutip sambutan Menkominfo Rudiantara, mengatakan negara Republik Indonesia adalah negara demokrasi berdasarkan ideologi Pancasila serta menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan adat-istiadat yang hidup di tengah masyarakat. Hal ini menjadi kewajiban seluruh komponen bangsa Indonesia secara konsisten untuk menjaga, melindungi dan memelihara tetap tegaknya NKRI dari gangguan apapun, baik dari dalam maupun dari luar dengan menerapkan prinsip-prinsip nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui peringatan Harkitnas ke 108 tingkat provinsi NTT, kata Rudiantara, bangsa Indonesia dihadapkan dengan berbagai permasalahan ketahanan bangsa secara kultural. Munculnya kekerasan dan pornografi, terutama terjadi pada generasi yang masih sangat belia, adalah satu dari beberapa permasalahan kultural utama bangsa Indonesia yang akhir-akhir mengemuka dan memprihatinkan. Lebih lagi, dibarengi dengan adanya medium baru teknologi digital berperan penting dalam penyebaran informasi, baik positif maupun negatif, secara cepat dan masif.“Tantangan yang muncul didepan kita tentu memiliki dua dimensi penting, yaitu kecepatan dan cakupan. Kita tidak ingin kedodoran dalam menjaga NKRI, akibat terlambat mengantisipasi kecepatan dan meluasnya anasir-anasir ancaman karena tak tahu bagaimana mengambil dan bersikap dalam konteks dunia yang sedang berubah saat ini,” jelas Rudiantara.

BACA JUGA:   Golu Gopung Anggota Polisi Ini Sosialisasikan Tertib Berlalu Lintas

Dengan tema peringatan Harkitnas tahun 2016, “Mengukir Makna Kebangkitan Nasional dengan Mewujudkan Indonesia yang Bekerja Nyata, Mandiri dan Berkarakter”, menunjukan bahwa tantangan apapun yang dihadapi saat sekarang, harus menjawab dengan memfokuskan diri pada kerja nyata secara mandiri dan berkarakter. “Saya berpendapat, ada penekanan pada dimensi internasional dalam tema tersebut. Kerja nyata, kemandirian dan karakter, semuanya terpusat pada pemahaman bahwa saat ini bangsa Indonesia dihadapkan dalam kompetisi global. Untuk itu, seluruh anak bangsa perlu bahu-membahu memenangkan persaingan pada aras global,” kata Rudiantara.

Dikatakan Rudiantara, Proklamator dan Presiden pertama RI, Ir Soekarno, pernah menekankan tentang pentingnya membangun karakter bangsa. Menurut Beliau, membangun suatu negara, membangun ekonomi, membangun teknik, membangunan pertahanan adalah pertama-tama dan dan pada tahap utamanya, membangun jiwa bangsa. Demikian juga pentingnya kerja nyata. Bung Karno berpesan “Amal semua buat kepentingan semua. Keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis kuntul baris buat kepentingan  semua”.

Untuk diketahui, peringatan Harkitnas ke 108 tahun 2016 tingkat provinsi NTT, di Kupang, dipadukan dengan peringatan HUT Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (Perwosi) ke 49 tingkat nasional. Peringtan HUT Perwosi tersebut dihadiri Ketua Umum Perwosi Pusat, Devi Pandjaitan, Ketua Perwosi NTT, Fransisca Litelnoni beserta seluruh pengurus Perwosi.

BACA JUGA:   25 Pasutri di Motaain dapat Akta Nikah dari Pengadilan

Ketua Umum Perwosi Pusat, Devi Pandjaitan, mengatakan merasa bangga Perwosi dalam usia yang ke 49 dapat dirayakan bersama – sama dengan peringatan Harkitnas ke 108. Perwosi adalah sebuah organisasi kecil yang didirikan 49 tahun lalu oleh beberapa ibu-ibu  yang merasa bahwa kaum ibu harus memiliki tubuh yang sehat terutama anak-anak-nya. Itulah yang dapat disumbangkan bagi negara bahwa apabila ibu sehat, bapak sehat dan anak sehat maka negara akan kuat.

Dikatakan Devi Pandjaitan, organisasi Perwosi dalam menjalankan perannya tidak membina atlit tapi Perwosi membina perempuan dan anak sehingga sangatlah relevan jika peringatan HUT Perwosi tahun 2016 dipadukan dengan peringatan Harkitnas, karena kaum perempuan juga harus ikut hadir dalam kegiatan pembangunan nasional Indonesia kedepan.

“Melalui kesempatan berharga ini ingin saya sampaikan beberapa hal yang perlu menjadi perhatian.  Perwosi tidak hanya memikirkan olahraga kaum perempuan dan anak saja tapi Perwosi ikut memikirkan masalah – masalah sosial yang ada di negeri kita. Masalah sosial dimaksud adalah; pertama, soal Narkoba. Narkoba adalah salah satu ancaman yang sangat kita takutkan saat ini,karena generasi penerus bangsa akan rusak diakibatkan Narkoba. Kedua, Human Trafficking atau pelecehan anak.Muncul di media massa begitu banyak kasus pelecehan terhadap anak.Kasus yang muncul tergolong ekspolitasi anak sebanyak 58 kasus.Untuk itu kita harus waspadai. Ketiga, mengenai Obesitas. Tumbuhnya perekonomian bangsa maka naik pula tingkat perekonomian kehidupan keluarga. Kondisi demikian membuat ibu – ibu saat sekarang tidak lagi memasak tetapi memberikan uang jajan kepada anak sehingga anak membeli makanan yang tidak seimbang sehingga menimbulkan obesitas anak. Tidak hanya itu, termasuk masalah sosial lain yang perlu mendapat perhatian dari orang tua,” jelas Devi Pandjaitan.(*Hum/tim)


Bagikan:
Advertisement