oleh

Bertemu Pujaan Hati, Pemuda Bajawa Dianiaya Dengan Brutal di Ledho Mauponggo

Foto usai Pengeroyokan Korban tersungkur di kaki sanak keluarganya
Foto usai Pengeroyokan Korban tersungkur di kaki sanak keluarganya

Zonalinenews-Nagekeo, Polres Ngada dikadoi praktek main hakim sendiri ala warga Ledho Ngule Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Flores  Propinsi NTT . Budaya buruk pengadilan massa masih menjadi momok yang mengangkangi rambu-rambu hukum bangsa ini. Jika tidak ingin disebut pembiaran, aparatur penegak hukum dituntut berperan optimal membangun pemahaman publik serta menindak tegas para pelaku main hakim sendiri demi memberi efek jera agar tindakan-tindakan kekerasan main pukul, main hakim sendiri, main hantam tidak menjadi tontotan tradisi buruk yang dipelihara di masyarakat.

Emosi yang menyala-nyala atau kurangnya pemahaman hukum atau juga feodalisme tidak mau tau dengan proses hukum atau juga lemahnya sosialisasi hukum menjadi daya perangsang maraknya pratek main hakim sendiri di tengah masyarakat. Ditengah penggarapan rangkuman liputan infrastruktur wilayah pedalaman, 1 Juni 2016 sekitar Pukul 12.00 malam, Wita, media ini berhasil memotret kejadian dugaan penganiayaan terhadap seorang pemuda inisial KK berasal dari Kota Bajawa Kabupaten Ngada, Flores, alamat Kelurahan Trikora Bajawa. Sementara pelaku berinisial HN dan kawan-kawan. Korban nyaris dihabisi sekelompok warga melibatkan sejumlah pemuda membabi buta menerobos masuk kedalam sebuah rumah lalu mengeroyok dan memukul korban tanpa peri kemanusiaan. Dihimpun sementara media ini, korban bekerja sebagai PPL di sebuah Dinas di Kabupaten Ngada. Berhubung kondisi korban dalam keadaan sangat tertekan, media belum berhasil mendata identitas korban lebih terurai.

Sambil melakukan pemukulan terhadap korban, salah satu diantara pelaku berteriak ‘Kau kira anak saya kau enak-enak saja ajak keluar’, demikian lontaran kalimat yang keluar dari mulut pelaku. Pelaku dan kawan-kawannya terus memukuli korban, sejumlah anak muda diduga sudah mabuk datang bersama pelaku pun ikut memukul korban yang nampak sangat pasrah karena terkepung sejumlah preman kampung setempat. Tuan rumah dan sejumlah tamu yang berada dalam rumah tersebut berusaha keras untuk menghentikan para pengeroyok, tetapi aksi brutal para pelaku tanpa ampun terus menghajar korban hingga korban jatuh tersungkur di lantai. Atas kejadian ini, sejumlah warga mengeluhkan aksi brutal yang dipertonton di hadapan para tamu yang datang menunggu Pesta Pernikahan di wilayah setempat. Ratap tangis sejumlah ibu menghiasi peristiwa kekerasan ini.

BACA JUGA:   DIANIAYA DI ATAS TEMPAT TIDUR, MARSELINA LAPOR POLISI

Setelah puas melampiaskan amarah, para pelaku pengeroyokan pergi meninggalkan korban tanpa merasa bersalah atas aksi brutal yang menyerobot masuk rumah orang, tanpa permisi diantara para tamu dan tokoh yang sedang duduk bahkan membubarkan sejenak para tamu yang pada saat itu tengah duduk kekeluargaan untuk sebuah acara pernikahan keesokan harinya. Usai kejadian, korban menuturkan kepada media ketika ditanyai kronologi peristiwa hingga dirinya di perlakukan begitu brutal oleh sekelompok orang.

“Saya datang kesini dalam rangka acara Pernikahan family. Pacar saya adalah penduduk warga kampung ini. Saya bertemu dia karena dia pacar saya. Hubungan kami sama-sama suka dan rencananya mau jadian, maka waktu saya tiba di kampung ini saya langsung ke rumahnya dan tas pakaian pun saya simpan di rumahnya. Setelah itu kami keluar bersama dan ayahnya menelpon putrinya yang adalah pacar saya. Waktu handpone pacar saya berbunyi dilihat itu telepon dari ayahnya, saya lalu bilang ke pacar saya, kau angkat saja panggilan telepon itu, tetapi dia menjawab dia takut karena itu telepon dari ayahnya dan dia tidak angkat panggilan ayahnya. Tidak lama berselang situasi sudah tidak betul, orang-orang mulai bilang bahwa saya dicari untuk dipukul. Suasana sudah tidak betul jadi kami balik. Tapi arena saya terancam, sebab ada informasi bahwa sekelompok orang sudah mengunggu di rumah pacar saya untuk keroyok saya, jadi saya terpaksa masuk berlindung ke rumah keluarga yang juga family saya untuk minta perlindungan, di tempat ini. Saya mau minta mereka datangkan pacar saya dan secara terbuka kita bicarakan baik-baik karena saya tidak melakukan apapun selain bertemu pacar saya karena rindu dan saya juga datang langsung ke rumahnya dengan baik-baik, tas pakaian saya pun saya simpan di rumah itu. Maksud saya jika ada yang keliru ditempuh lah cara-cara yang baik, mengapa brutal begini. Kalau soal serius, saya memang serius dengan pacar saya tetapi mereka membabi buta dan keroyok saya, sambil caci maki saya seperti ini. Saya ini salah besar apa. Kalaupun saya ada salah besar, proses hukum saja saya, saya terima,” ungkap korban.

BACA JUGA:   Polisi Usut Kasus Pemuda Bajawa Dianiaya di Ledho Sawu Mauponggo

Atas kejadian ini Kasat Reskrim Polres Ngada, AKP. Jemmy Okto, SH sempat menelpon awak media di lapangan. Kasat Reskrim Polres Ngada meminta gambaran kondisi namun karena kondisi tidak memungkinkan dan juga korban belum berhasil diambil kronogilnya.  Beberapa saat usai kejadian, peristiwa penganiayaan akhirnya diketahui hanya bermula dari korban bersua sang pacar lalu mengajak sang pacar jalan-jalan dan berujung dikeroyok membabi buta ala warga kampung Ledho Ngule Mauponggo, Kabupaten Nagekeo.

Hingga berita diturunkan, dikabarkan pihak Kepolisian Polres Ngada melalui Pos Polisi Mauponggo tengah berkoordinasi untuk pengamanan ataupun delik dugaan kekerasan fisik atas fakta lapangan yang menimpa korban. Hingga Pukul 1.00 tengah malam, 2 Juni 2016 diketahui korban masih berada di sekitar TKP, diamankan sementara di sebuah rumah warga yang peduli dengan kejadian kekerasan sambil memikirkan sejumlah langkah terbaik guna membawa korban keluar dari radius ancaman yang bisa saja terjadi amukan susulan. (*wrn)

Penulis: zonaline news

Gambar Gravatar
Alamat Redaksi : Jalan Adisucipto Kompleks Perumahan RSS Oesapa Kota Kupang Blok P No 2 NTT