oleh

Warga Mata Air Tebang Mangrove Karena Haji Ismael Sudah Beli Tanah

Lokasi Mangrove yang ditebang masyarakat Karena lahan tanah telah dibeli oleh Hj Ismael Dean
Lokasi Mangrove yang ditebang masyarakat Karena lahan tanah telah dibeli oleh Haji Ismael Dean

Zonalinenews, Oelamasi,- Salah satu warga Lasiana, Markus Kalendi Wau yang bermata pencaharian sebagai nelayan di Desa Mata Air sejak tahun 1985 mengaku bahwa warga Mata air dan Kelapa tinggi melakukan penebangan mangrove karena hutan tersebut telah dibeli Hj. Ismail Dean. Sehingga, mangrove yang dulunya tidak dapat ditebang karena aturan yang keras dari desa, namun desa baru saat ini hutan yang dulunya dilindungi saat ini tidak ada arti sama sekali.

Hal ini disampaikan Markus Kalendi Wau saat ditemui dilokasi penebangan mangrove, Sabtu, 27 Agustus 2016 sekitar pukul 13.00 wita.

Dikatakan bahwa saat Yakobus Klau masih menjabat sebagai kepala desa tidak ada warga yang berani memotong sebatang pohon. Jika, pohon mangrove ditebang maka wargamata air ataupun siapapun orangnya akan didenda Rp. 1 juta untuk satu pohon. Namun, setelah Yakobus Kalau menjadi anggota DPRD, tiba~tidak ada pengukuran tanah yang dilakukan oleh sekretaris Desa, Markus Obes dan beberapa tokoh masyarakat lainnya. Tokoh masyarakat yang terlibat dalam pengukuran tanah tersebut seperti, Beny Kanu, Mateus Henuk serta salah satu warga kelapa tinggi namanya henok. Pengukuran tanah tersebut dilakukan kurang lebih tahun 2015.

BACA JUGA:   Ibrahim Medah Akan Bawa Masalah Mangrove Desa Mata Air Ke Jakarta

” Waktu pengukuran, Pak Haji Dean juga ada datang disini, liat-liat. Dan menurut pengakuan Markus Obes Bahwa tanah tersebut telah dibeli oleh Pak Dean, sehingga pohon-pohon mangrove akan ditebang,” tutur Markus dengan kepolosan.

Dikatakan lebih lanjut, pohon mangrove yang ditebang sudah mencapai ratusan pohon. Bahkan, setelah musim Barat tahun 2016 air laut mulai masuk sampai ke atas. Ada mahasiswayang datang dan melakukan penanaman ulang beberapa bulan yang lalu tapi beritahu agar tidak boleh tanam lagi. Sebab, tempat yang ditanam telah dibeli oleh Hj. Ismail Dean untuk usahanya.

Sementara itu, Ketua BPD Desa Mata air, Felipus Nahak Klau mengatakan bahwa 99,99 persen warga tidak mengetahui soal adanya jual beli tanah yang diduga dilakukan oleh Sekertaris Desa dan kroni-kroninya. Bagi Warga Desa Mata Air, mangrove tersebut dilindungi dengan peraturan desa. Sehingga, tidak bisa dilakukan penebangan secara liar apalagi untuk kepentingan perusahan atau kepentingan diri.

Dikatakan bahwa, untuk kepemilikan lahan, sampai dengan saat ini kepemilikan lahan tidak jelas kepemilikannya. Untuk itu, saat kepemimpinan Desa, Yakobus Klau yang saat ini sebagai anggota DPRD Kabupaten Kupang dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) masih menjabat sebagai kepala desa, dirinya berupaya menanam mangrove yang telah tumbuh secara alami dengan penanaman tambahan.

BACA JUGA:   Lapor Polisi dan Proses Hukum Penebang Mangrove

Felipus Nahak Klau berharap Polres Kupang segera untuk menangkap oknum aparat desa yang menjual lahan tanah, mengakibatkan ribuan mangrove jadi tumbal. Selain, oknum aparat Desa, Hj. Ismail Dean juga jangan dibiarkan berkeliaran. Tapi segera diringkus, karena perbuatannya maka ribuan mangrove menjadi tumbal. (*Paul)