oleh

Dua Oknum Polisi di Sumba Barat diduga Terlibat dalam Kasus Kematian Iyek

Police Line
Police Line

Zonalinenenws- Sumba Barat,- Dua oknum Polisi berinisial HK dan AA diduga terlibat dalam peristiwa penganiayaan terhadap Iyeck Nanda Saputra yang mengakibatkan korban meninggal dunia. Peristiwa ini terjadi di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tanggal 22 Januari 2014 silam. Hingga kini, baik pihak Polda NTT maupun Polres Sumba Barat belum menindaklanjuti kasus tersebut.

Sebagaimana keterangan langsung yang diperoleh dari pihak keluarga korban, Kamis 06 Oktober 2016 bahwa pada saat korban dilarikan ke rumah sakit dan meninggal dunia, kedua oknum polisi, HK dan AA sudah ada di rumah sakit. Pada waktu bertemu orang tua korban, HK selaku penyidik, serta-merta langsung mengatakan bahwa korban meninggal dunia karena kecelakaan tunggal lalu lintas tanpa terlebih dahulu melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Bahkan HK sendiri yang langsung mengamankan kendaraan milik korban sesaat setelah kejadian.

“Keluarga merasa aneh dengan kehadiran oknum polisi HK pada saat anak kami dilarikan ke rumah sakit hingga meninggal dunia. Bahkan tanpa olah TKP sebagaimana prosedur yang seharusnya, HK pada saat itu langsung mengatakan bahwa anak kami Iyek meninggal karena kecelakaan lalu lintas.  Namun pada saat itu kami membantah bahwa anak kami dianiaya dan dibunuh karena kami melihat langsung kondisi anak kami pada saat itu. Anak kami dianiaya dan dibunuh,” ungkap Hadijah Usman selaku ibu kandung korban.

Berselang 15 menit setelah pamit dari rumah, lanjut ibu Hajidah, keluarga mendapat informasi bahwa Iyek mengalami kecelakaan dan sudah dilarikan ke rumah sakit. Keluarga sangat shock melihat kondisi Iyek . “ Jika kecelakaan lalu lintas, mengapa motor yang dikendarai masih dalam keadaan utuh, sementara kondisi korban mengalami patah hidung bagi atas, kedua mata lebam, lengan kiri patah, dan ada dua goresan panjang di sekitar dada. Kami yakin anak kami dianiaya dan dibunuh bukan kecelakaan,” kata ibu Hadijah.

BACA JUGA:   PADMA dan AMAN Flobamora Desak Polri Ambil Alih Kasus Kematian Iyek

Ibu Hadijah yang mengenal baik oknum HK membeberkan, bahwa beberapa hari sebelum peristiwa terjadi, oknum HK terlihat dekat dengan beberapa teman sekolah korban yakni O dan A. Kedua teman korban ini diduga kuat terlibat langsung dalam peristiwa pembunuhan tersebut.

“Keluarga mengenal baik oknum HK dan AA, baik sebelum kejadian maupun selama proses kasus ini berlangsung. Kejadian ini seperti sudah direncanakan sebelumnya. Sementara kedua teman korban berinisial O dan A, sehari sebelum kejadian, sempat menanyakan keberadaan korban. Keluarga sudah berjuang habis-habisan untuk pengungkapan kasus ini. Namun, oleh kedua oknum HK dan AA tersebut, keluarga hanya dijanjikan bahwa jika sudah ada hasil visum et repertum (autopsi), pelaku akan ditangkap,” kisah Ibu Hadijah.

Sudah beberapa kali keluarga  Kata Ibu Hadijah dijanjikan bahwa pelaku akan segera ditangkap. Begitu banyak biaya yang sudah dikeluarkan termasuk permintaan AA dengan alasan untuk biaya autopsi dan penanganan perkara. “ Namun sudah dua tahun keluarga sama sekali tidak mendapatkan titik terang, keadilan dan kepastian hukum atas kematian anak kami,” tambah Tasrif M. Saleh, ayah korban.

Keluarga berharap agar hasil autopsi oleh Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Instalasi Kedokteran Forensik pada tanggal 2 September 2014 menjadi bukti hukum guna mengungkap tuntas kasus ini. Sudah jelas ada hasil autopsi dan keluarga percaya dengan hasil (autopsi) itu.

“Kalau hanya mengatakan kecelakaan lalu lintas tanpa disertai olah TKP, bagi keluarga itu hanya  klaim sepihak untuk mengalihkan motif kasus yang sebenarnya,” tambah Tasrif.

BACA JUGA:   Divisi Humas Mabes Polri Siap Gelar Perkara Kasus Kematian Iyek Nanda Saputra

Karena tidak ada tindak lanjut dari pihak Kapolres Sumba Barat dan Kapolda NTT, pihak keluarga mengharapkan tindak lanjut dari pihak Mabes Polri dan Kapolri RI.

“Keluarga masih menuntut keadilan dan kepastian hukum terhadap kasus anak kami ini. Keluarga berharap melalui kuasa hukum, bantuan Ombudsman RI dan Komnas HAM RI, agar kasus ini segera dilimpahkan dan diambil alih oleh pihak Mabes Polri dan Kapolri,” harap Tasrif.

Sementara kutipan berita dengan  (sumber jpnn.com dengan link berita http://www.jpnn.com/read/2016/10/01/471262/Begini-Tanggapan-Kapolres-Soal-Hasil-Autopsi-Iyeck-Nanda-Saputra-).   Kapolres Sumba Barat, AKBP Muhamad Erwin, di Waikabubak ibu kota Kabupaten Sumba Barat, Kamis (29/9), mengatakan hasil visum et repertum (autopsi) oleh Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Instalasi Kedokteran Forensik pada tanggal 2 September 2014 menyebutkan penyebab kematian korban karena kekerasan benda tumpul pada wajah (daerah hidung dan wajah). Hal itu mengakibatkan patah tulang hidung dan pipi serta kerusakan jalan nafas bagian atas.

Menurutnya, pernyataan dokter bahwa peristiwa penganiayaan sebagai penyebab kematian korban adalah keputusan sepihak. Tidak dapat dijadikan fakta hukum.

“Boleh tidak dokter mengatakan hal seperti itu? Dokter tidak boleh mengatakan atau memvonis bahwa itu adalah penganiayaan. Itu tidak dapat dijadikan fakta hukum. Kami akan memeriksa ulang,” kata Erwin.

Sejauh ini, lanjut Erwin, pihaknya hanya menangani motif kasusnya. Yakni lakalantas.

“Kami belum menemukan bukti termasuk pelaku yang ditetapkan tersangka meskipun pihak keluarga menuntut dan meyakini bahwa kasus tersebut adalah pembunuhan. Sejauh ini kami masih melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap kasus tersebut,” ungkapnya seperti siaran pers yang dikirim Guche, Sabtu (1/10).(*GM)