MUI NTT GELAR DISKUSI KEBANGSAAN

Dialog Kebangsaan
Bagikan:

Dialog Kebangsaan
Dialog Kebangsaan

Zonalinenews, Kupang. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prov. Nusa Tenggara Timur dalam rangka mengukuhkan semangat Sumpah Pemuda dan Kepahlawanan, mengadakan Dialog Kebangsaan yang bertemakan “Mengukuhkan Semangat Sumpah Pemuda dan Kepahlawan Dalam Merekat Persatuan dan Kesatuan Bangsa” pada Selasa, 08 November 2016 pukul 08:00-13.00 Wita bertempat di Swissbell Hotel (Hotel Kristal). Dialog kebangsaan ini juga rencananya dihadiri oleh Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Agil Siraj, MA sebagai Key Not Speaker. Namun, beliau membatalkan kehadirannya dikarenakan di saat bersamaan ada pertemuan dengan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

Dalam sambutannya, Ketua MUI NTT, Drs. H. Abdul Kadir Makarim mengatakan peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober dan hari Pahlawan 10 November adalah dua peristiwa besar dalam perjalanan sejarah Bangsa Indonesia yang setiap tahun kita rayakan atau peringati. Peringatan ini, tidak hanya dengan melakukan upacara bendera atau mengunjungi makam para pahlawan, tetapi lebih penting dari itu adalah kita selalu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dan selalu berperan aktif dalam kegiatan pembangunan bangsa.

Dialog Kebangsaan ini juga menghadirkan Narasumber Drs. H. Abdul Kadir Makarim (Ketua MUI NTT), Pdt. Yehezkiel Hede (Ketua Forum Komunikasi Gereja Kristen NTT), Daeng Rosada (Kabinda NTT) dan H. Anwar Puageno (Ketua DPRD Prov. NTT).

BACA JUGA:   Romo Ferdinandus Sabhu,Pr Di Sambut Umat Paroki Boanio Secara Adat

Pada kesempatan Dialog ini, Narasumber dari Kabinda NTT, Daeng Rosada lebih menekankan pada kasus-kasus persengketaan yang marak terjadi di Nusa Tenggara Timur. Terutama kasus persengketahan Tanah seperti yang terjadi di Lembata dan perbatasan Timor-Timur dengan Indonesia. Kasus-kasus seperti ini mesti ditangani secara hukum demi menjaga kerukunan dan keutuhan bangsa ini.

Dalam hal menjaga kerukunan dan keutuhan bangsa Indonesia, Narasumber Pdt Yehezkiel Hede (Ketua Forum Komunikasi Gereja Kristen Indonesia) pada penyampaian materinya menekankan aspek nilai-nilai agama. Dua potensi nilai-nilai agama yang menurutnya penting dan perlu dirawat dan dijaga adalah berkaitan dengan Relationship dan Fellowship. Baginya kita perlu membangun hubungan (Relationship) ini agar dapat menciptakan kedamaian dan ketentraman dalam hidup. Yaitu hubungan Vertikal (hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa), hubungan Horizontal (sesama Manusia) dan Hubungan Kami-Kita (Lebih pada peleburan Ego). Sedangkan untuk Fellowship lebih pada rasa persatuan, persekutuan, persaudaraan sebagai umat Tuhan dan anak Bangsa.

Sedangkan dalam menyikapi isu SARA yang akhir-akhir ini cukup mengkhawatirkan, Ketua DPRD Prov. NTT, H. Anwar Puageno  mengatakan Isu-isu SARA adalah isu-isu musiman yang sering muncul pada saat-saat PILKADA dlsb. Isu sara tidak melulu tentang Agama sebagaimana yang tengah terjadi di DKI saat ini, namun juga berkaitan dengan primordial suku dan lainnya. SARA adalah identitas yang melekat dalam diri kita sehingga orang boleh memilih dengan landasan SARA, karena demokrasi meniscayakan semua itu. Namun, yang tidak boleh adalah menjadikan SARA sebagai ajakan massif untuk memilih. Dalam menyikapi kasus DKI saat ini, Ia juga menyebutkan beberapa Gubernur di Indonesia yang beragama non muslim tetapi memimpin daerah yang mayoritas Muslim, seperti di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Juga beberapa ketua DPRD yang berasal dari golongan minoritas namun mempin di daerah yang mayoritas, contohnya di NTT sendiri di mana Ketua DPRD-nya Muslim di tengah penduduk NTT yang mayoritas Kristiani.

BACA JUGA:   MTs Negeri Kupang, Zakat Profesi 2.5 % Dari Guru Untuk Siswa

Sedangkan Ketua  MUI NTT, Drs. H. Abdul Kadir Makarim   dalam penyampaian materinya lebih menekankan pada prinsip-prinsip persaudaraan yang tidak hanya sebatas persaudaraan sesama umat Islam (Ukhuwah Islamiah), namun juga persaudaraan sesama bangsa Indonesia (Ukhuwah Wathoniyah) dan persaudaraan sesama umat manusia (Ukhuwah Insaniah). Serta menjunjung nilai Universalitas tentang keadilan. Karena keadilan merupakan nilai terpenting dalam hukum Islam. Bahkan Islam menempatkan Keadilan sebagai titik sentral dalam seluruh piranti hukumnya.

Jika kesemuanya ini kita jaga, pelihara, dan rawat dengan baik maka bukan sebuah kemustahilan kerukunan dan kedamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang kita cintai bersama akan segera terwujud . (*Zulkifli)


Bagikan:
Advertisement