oleh

Simbol Jari Telunjuk Deno Kamelus

Foto : Deno Kamelus sumber Foto Media Indonesia

Zonalinenews,- Manggarai,’ Di tahun politik ini, setiap tokoh politik akan berhadapan dengan media dan masyarakat. Bahasa tubuh mereka menjadi pesan yang akan diterima oleh masyarakat. Pesan ini sejatinya bisa dibaca oleh siapapun.

Charlie Chaplin dan beberapa pentolan film bisu (silent movie) adalah pelopor maraknya penggunaan cara komunikasi seperti itu. Kemampuan berkomunikasi non verbal bisa karena dilatih, dan tentu ada juga yang pembawaan sejak lahir. Secara genetik memang sudah ada dalam diri kita. Masa kini, selain non verbal communication yaitu lewat gesture atau bahasa tubuh, ada juga yang menggunakan bahasa telepati (sangat jarang), tanpa suara dan tanpa gerakan.

Studi yang mempelajari tentang body language saat ini terus berlembang. Sejarah mencatat nama Charles Darwin sebagai ‘pelopor’ pembelajaran bahasa tubuh, lewat bukunya yang berjudul The Expression of the Emotions in Man and Animals tahun terbit 1872. Buku ini telah mendorong banyak pihak melakukan studi intensif mengenai bahasa tubuh.

Bertahun-tahun setelah itu, para peneliti yang mempelajari tentang ekspresi wajah dan bahasa tubuh mencatat bahwa ada hampir satu juta nonverbal cues dan signal yang dapat didata dan dipelajari ulang. Professor Birdwhistell mengestimasi bahwa jumlah komunikasi non verbal yang manusia lakukan sesungguhnya lebih banyak daripada komunikasi verbal kita.

Alan Pease dalam tulisannya mengatakan, membaca bahasa tubuh sejatinya adalah membaca hal hal yang tak terungkap namun tertangkap oleh alam bawah sadar manusia.Dalam membaca bahasa tubuh tokoh politik, ia meminta untuk melihat tiga hal yang sangat prinsip.

Pertama, lokalisir setiap gerakan tubuh. Di dalam membaca bahasa tubuh, ada kesan awal, yang ditangkap oleh manusia. Kesan awal ini bisa memiliki kesan baik atau kesan buruk. Namun untuk dapat membaca unspoken languange dari tokoh secara baik perlu anda melokalisir bahasa tubuhnya. Yang paling sering digunakan adalah melokalisir mimik dan melokalisir tangan dan gerakan tubuh. Dengan melokalisir anda akan mudah melihat kesesuaian gerakan tubuh dengan ucapan yang sedang disampaikan. Melokalisir juga memudahkan anda melihat bahasa yang tidak terungkap lewat komunikasi lisan.

Kedua, melakukan kalibrasi atau melakukan kesusaian. Di prinsip kedua ini setelah anda melokalisir mimik, gerakan badan, gerakan tangan. Anda akan melihat mana gerakan yang paling sering digunakan. Misal telunjuk ke depan saat melakukan orasi. Gerakan bahu mengembang saat diwawancara. Kemudian anda bisa melihat mana gerakan gerakan yang muncul tanpa sadar saat mengemukakan sesuatu. Dengan melakukan kalibrasi ini, anda akan mudah melihat bahasa tubuh apa yang sering dipakai, lalu apa yang sebenarnya tokoh ini rasakan dan sampaikan.

Ketiga, pahami konteks. Memahami konteks ini berkaitan dengan situasi saat tokoh ini berbicara dan citra yang dibangun. Bahasa tubuh dalam konteks politik berkaitan dengan citra. Politik di situasi saat ini seperti sebuah panggung. Tokoh politik dengan bahasa tubuh yang baik, umumnya memahami situasi dan konteks ia berbicara. Saat ingin memahami bahasa tubuh maka perlu memahami konteks dan ciri yang ingin dibangun. Dengan memahami konteks maka anda akan mudah melihat pesan apa yang ingin tokoh ini sampaikan.

BACA JUGA:   Deno Kamelus Berharap PDIP Mengusungnya di Pilkada

Daniel Mashudi dalam tulisannya yang berjudul “Arti Gestur Jari Tangan” menjelaskan,  Gestur jari telunjuk bisa diartikan untuk  memberikan perintah, atau sedang menunjukkan suatu arah (ke atas, depan, samping) atau sesuatu hal yang sedang dimaksud.

Gestur atau bahasa tubuh politisi memang terkadang membingungkan. Anda tentu ingat peristiwa saat penetapan pemenang pemilu presiden lalu. Yudhoyono, sang pemenang, nyaris tak menebar senyum justru di hari kemenangannya. Bahkan, ketika ia berjabat tangan dengan Kalla, tak ada pula senyum mengembang.

Inilah bahasa tubuh para politisi. Penuh penafsiran. Terkadang terlihat seperti bahasa para pemain drama dan rakyat-lah yang menjadi penontonnya.

Ketika menyimak body language ketua DPD PAN Manggarai Deno Kamelus berdasarkan foto yang beredar di media sosial sangat menarik untuk didiskusikan.

Tokoh politik Manggarai ini mengacungkan jari telunjuknya setelah memberikan keterangan sebagai saksi dalam kasus money politc yang dilakoni HA di Satar Mese. Ia melakukan hal itu di lembaga pengadilan bagi setiap insan yang melakukan pelanggaran hukum.

Dalam kehidupan manusia, tidak selalu berkomunikasi dengan lisan secara langsung. Salah satu cara berkomunikasi yang dapat digunakan adalah menggunakan jari sebagai simbol untuk berkomunikasi.

Tetapi dalam pengembangannya gerakan dan bentuk jari sering dianggap menyatakan simbol tertentu walaupun tidak semua orang mengerti maksudnya. Berkaitan dengan masa kampanye maka sebenarnya Masyarakat harus mau menerima perbedaan pendapat dari simbol yang digunakan dalam berinteraksi dengan sesama. Satu sisi tanda jari bisa digunakan sebagai lambang dari identitas seseorang yang mewakili komunitasnya.

Simbol adalah tanda yang bisa dilihat untuk menggantikan gagasan masa depan maupun masa lalu. Berdasarkan bahasa Yunani, Simbol berasal dari kata symballo yang berarti melempar secara bersamaan, melempar ataupun meletakkan secara bersama-sama dalam sebuah gagasan dari objek yang terlihat sehingga objek tersebut dapat mewakili suatu gagasan yang ditunjukkan oleh simbol itu sendiri.

Simbol bisa merujuk pada masa lalu maupun masa depan yang ditunjukkan. Simbol dapat ditransformasikan kedalam kata, tanda, atau isyarat, yang digunakan untuk mewakili sesuatu yang lain seperti arti, kualitas, abstraksi, gagasan, dan objek,

BACA JUGA:   Deno Kamelus Berharap PDIP Mengusungnya di Pilkada

Simbol bisa berupa berbagai macam bentuk seperti, gambar, gerakan, ataupun benda yang mewakili suatu gagasan. Walaupun simbol ini bukanlah makna itu sendiri tetapi bagi yang memahami makna simbol maka hal ini menjadi sangat penting untuk dimengerti. Bahkan saat ini sudah banyak sekali simbol yang digunakan untuk menyampaikan pesan kepada yang membacanya. 

Simbol bisa digunakan untuk berbagai macam keperluan yang berhubungan dengan kehidupan manusia saat ini. Selain itu simbol sendiri sudah digunakan sejak lama dan bahkan sampai saat ini simbol kuno itu menjadi salah satu pelajaran di beberapa negara yang memang banyak sekali simbolnya.

Bagi beberapa orang, penjelasan dari simbol memang memiliki makna tersendiri bagi yang membacanya. Namun hal ini disalah artikan oleh beberapa orang dan beranggapan bahwa simbol yang mereka pahami menjadi bukti yang hakiki dan harus dipercaya. Sehingga kerap kali mereka terjebak dalam pembenaran terhadap segala hal yang bersifat kasat mata sebagai kebenarannya.

Menjelang pesta demokrasi di Manggarai yang akan datang, penggunaan simbol jari oleh orang atau sekelompok orang belum bisa dikatakan bahwa mereka adalah kelompok A ataupun kelompok B.

Selain strategis, kode-kode jari dalam politik juga sangat bernilai sensitif. Contoh paling gamblang yang terjadi di tengah masyarakat adalah ketika digelar arak-arakan atau konvoi dalam fase kampanye akbar. Satu kelompok kecil yang dalam keadaan netral tidak bakal berani memberikan penanda warna, ucapan, maupun acungan jari saat berpapasan dengan rombongan besar yang berbeda pilihan.

Penggunaan simbol jari amat kentara dalam seri komunikasi politik. Sudah sejak lama, misalnya, kode jari sebagai penanda nomor urut partai politik (parpol) atau pencalonan tertentu dianggap sebagai media paling strategis dalam pelaksanaan kampanye.

Lantas,makna acungan jari telunjuk dari orang nomor satu Manggarai ini apakah ada kaitan putusan hukum peristiwa money politic di Satar Mese bahwasanya akan terseret satu orang saja?

Kalau seandainya makna jari tunggal telunjuk Politisi PAN Manggarai ini sebagai simbol nomor “satu”, apakah benar ia mau mengisaratkan dalam Pemilukada kali ini Deno- Madur tetap satu, ataukah mau mengajak masyakat tetap bersatu mendukung paket DM untuk satu periode lagi ?

Namun di sisi lain, kita pasti bertanya apakah simbol satu jari itu mau mewartakan bahwa suara partai PAN tetap menjadi nomor satu walaupun melewati persoalan?

Sebagai seoarang politisi simbol jari telunjuk Deno Kamelus tentu sarat makna politik. Publik Manggarai pun pasti menuai sejuta tafsiran. Di sinilah kekuatan simbol jari sebagai bahasa isyarat untuk kita maknai.(*Kons)

Penulis: zonaline news

Gambar Gravatar
Alamat Redaksi : Jalan Adisucipto Kompleks Perumahan RSS Oesapa Kota Kupang Blok P No 2 NTT