oleh

Tommy Hidayat, Semangat Tanpa Batas Raih Impian

 

Zonalinenews-Jakarta,- Tommy Hidayat begitulah sapaannya, pria asal Medan yang kini bekerja sebagai tenaga ahli anggota DPR RI dari Fraksi PAN, Dr. Haji Saleh Partaonan Daulay dan aktif sebagai anggota Lembaga Dakwah Khusus PP Muham madiyah.

Tommy Hidayat anak ke tiga dari tiga bersaudara, lahir di Medan 4 April 1971. Setelah tamat dari pondok pesantren dan menyelesaikan masa pengabdiannya di tahun 1991, Ia memberanikan diri untuk mencari penghidupan di Jakarta dengan bermodal keyakinan dan keberanian. Berawal dari melihat teman-temannya yang merantau ke tanah jawa, Tommy pun termotivasi untuk mengikuti jejak teman-temannya dengan harapan dapat melanjutkan studi S1 di Universitas Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Arab (LIPIA).

Berlatar belakang keluarga yang kurang mampu, Tommy berharap dengan masuk ke Universitas LIPIA, beban finansial bisa menjadi lebih ringan karena Universitas LIPIA menawarkan beasiswa sekaligus asrama untuk mahasiswanya. Sayangnya, di tahap ujian wawancara Tommy dinyatakan gagal.

Setelah gagal masuk universitas LIPIA, Tommy memutuskan tinggal di kos dekat senior-seniornya dan teman-temannya yang sama-sama dari pondok pesantren. Pada waktu itu, diantara teman-teman dan seniornya, Tommy satu-satunya yang tidak berkuliah sehingga ia memutuskan untuk bekerja di blok M sebagai cleaning servis.

“Waktu itu saat tidak lulus ke Universitas LIPIA saya putuskan untuk tinggal di kos dekat dengan senior yang kuliah, teman-teman saya juga kuliah semua karena saya ada kendala ekonomi akhirnya saya bekerja, waktu itu sempat kerja di Blok M sebagai cleaning servis”. Tutur Tommy saat di wawancara Jumat, 31 Januari 2020.

Di tahun 1992, salah seorang senior Drs. Hilal Ramadhan, MA alumni IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang merupakan pengurus dewan pimpinan pusat IMM, menawari Tommy untuk menjadi staf di sekretariat DPP IMM Perwakilan yang membukakan pintu baru bagi Tommy untuk aktif di organisasi Muhammadiyah. Tak berselang lama setelah menjadi staf DPP IMM Perwakilan, Tommy membuat keputusan
untuk berkuliah jurusan ekonomi di Universitas Terbuka (UT) Ciputat dan mulai aktif mengikuti pengkaderan Makasa. Sayangnya status Tommy Hidayat sebagai mahasiswa aktif hanya bertahan selama satu tahun.

“Beberapa lama setelah menjadi staf DPP IMM Perwakilan, saya mau mencoba lagi untuk aktif menjadi mahasiswa di UT Ciputat tapi cuma bertahan setahun dan dari UT akhirnya saya mulai aktif ikut pengkaderan Makasa”.

Rupanya jiwa pantang menyerah telah melekat erat dalam diri Tommy Hidayat, tak sanggup meneruskan di UT Ciputat, Tommy kembali mendaftar menjadi mahasiswa aktif di IKIP jurusan bahasa inggris. Seperti sebelum-sebelumnya, di IKIP Tommy hanya bertahan satu semester dikarenakan kendala finansial. Dari IKIP Limau, Tommy berhijrah ke IKIP Pasar Rebo dengan jurusan tata niaga. Di IKIP Pasar Rebo Tommy dijanjikan beasiswa oleh PWM DKI. Naas, setelah setahun berkuliah beasiswa yang dijanjikan tak kunjung turun sehingga dengan berat hati, di tahun 1993 Tommy harus melepaskan status mahasiswa aktif di IKIP Pasar Rebo.

Tak menemukan titik terang dalam melanjutkan pendidikan S1, Tommy tetap tawadhu dan sabar dalam menjalani kerasnya hidup di ibu kota. Ia yakin bahwa Tuhan tak akan pernah memberi masalah tanpa solusi.Belum adanya kejelasan pendidikan formal, Tommy memilih untuk fokus dalam organisasi,sebab menuntut ilmu bagi pria asal Medan ini tidak hanya di dapat dari pendidikan formal tetapi juga non formal. Rupanya karena sudah terlalu lama berkecimpung di dalam organisasi IMM, di tahun 1997 pria dua anak ini memilih untuk resign dari dunia organisasi IMM.

“Sempat Resign dari IMM tahun 1997 karena merasa sudah terlalu lama”.

Resign dari IMM tak membuat Tommy berleha-leha dalam kesehariannya. Setelah resign, Ia mengisi waktunya dengan mengajar privat pemberantas buta aksara di kantor-kantor di bawah yayasan Obor Kebajikan. Serta sempat aktif di organisasi komunitas mahasiswa Indonesia(KMI). Nampaknya niat menuntut ilmu di pendidikan formal tak pernah sirna dalam hati Tommy. Di tahun 1997 nama Tommy tercatat sebagai mahasiswa aktif di sekolah tinggi informatika Muhammadiyah Jakarta. Tapi nasib baik sepertinya belum berpihak pada pria kelahiran 1971 ini. Ia hanya bisa bertahan selama 4 semester dikarenakan kesulitan dalam membayar biaya kuliah. Tak ingin menikah sebelum menyelesaikan studi S1. Itulah idealisme yg tertanam dalam diri Tommy serta yang diam-diam menjadi motivasi Tommy pantang menyerah memperjuangkan pendidikan S1. Namun, Siang malam kian berganti tak terasa umurnya tak lama lagi akan
mencapai 30 tahun.

Umur yang sudah tak lagi muda serta studi yang tak tau arah kejelasannya di tahun 2000, Tommy menyerah dalam idealismenya. Ia menikah dengan gadis asal Medan. Tak lama setelah menikah Tommy kembali aktif dalam organisasi pemuda Muhammadiyah. Di tahun 2005 ia kembali mencoba untuk berkuliah di Sekolah Tinggi Manajemen Informatika (STMIK). Hingga akhirnya tahun 2009 ia bisa menyelesaikan studi S1. Setelah lulus ia mulai aktif berdakwah di lembaga dakwah Muhammadiyah.

Tak pantang menyerah dan haus akan ilmu adalah gambaran paling cocok untuk Tommy Hidayat. Setelah lulus dari STMIK, di tahun 2011 ia kembali mendaftar studi S1 di STAI Publistik Thawalib dan lulus di tahun 2015. Setelah Dua kali berstatus mahasiswa S1, Tommy kemudian melanjutkan studi S2 di universitas Muhammadiyah Jakarta dan telah menyelesaikan masa studi S2 di tahun 2019 dengan meraih Point IPK sebesar 3.76.

Satu hal yang tak kalah menarik dalam tesis yang ia tulis. Bapak dua anak ini meneliti terkait pendidikan Al Islam Kemuhammadiyahan terhadap mahasiswa non muslim di universitas Muhammadiyah Kupang. (*Cici Usratussaidah)

Penulis: zonaline news

Gambar Gravatar
Alamat Redaksi : Jalan Adisucipto Kompleks Perumahan RSS Oesapa Kota Kupang Blok P No 2 NTT

News Feed