oleh

Komisi I DPRD Kota Kupang Gelar RDP Soal Penutupan Akses Jalan Warga Oleh Pitobi

ZONALINENEWS.COM – KUPANG, Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Kupang gelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan tiga pengusaha di Kota Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdiri dari perusahaan Pitobi, pemilik Toko KN, Toko Chaicong, Toko Petra, dan Toko Murah terkait pemagaran tembok atau penutupan akses jalan warga di Rt 15/ RW 05, Kelurahan Penkase – Oeleta, Kecamatan Alak Kota Kupang, Senin 29 Juni 2020 di Ruang Komisi I DPRD Kota Kupang.

RDP tersebut langsung dipimpin oleh Ketua DPRD Kota Kupang, Yeskiel Loedou didampingi oleh Ketua Komisi I DPRD Kota Kupang, Yuvensius Tukung dan Wakil Ketua Komisi I, Ayu Witari P. Tallo, Sekertaris Komisi I Jeftha Sooai serta anggota Komisi I Dominika Wasonono Bethan, Jemari Yoseph Dogon, Gustaf J. Ndaumanu, Anatji Efrolina Ratukitu-Jan, Welhelmus J. Kiu dan Djainudin Lonek.

Hadir pula Asisten III Setda Kota Kupang, Yos Rera Beka, Kepala Pertanahan Kota Kupang yang diwakili, Lurah Penkase, Camat Alak, Aliansi Masyarakat Pemuda Dan Mahasiswa Peduli Penkase (AMP-Penkase) yang mewakili Warga serta perwakilan perusahaan dari perusahaan Pitobi, pemilik Toko KN, Toko Chaicong, Toko Petra, dan Toko Murah.

GPDI Berea Alak, Pdt. Daniel Mesak Datik selaku koordinator dalam RDP tersebut mengatakan, tahun 2019 sebelum devloper Pitobi membangun pagar tersebut telah terbit sertifikat atas nama Herman Yappy, Fredy Oematan Yano Laemanta dkk yang sertifikat tersebut berbatasan dengan jalan, tidak berbatasan secara langsung dengan Pitobi.

Menurut dia, pada bulan Agustus 2019, devloper Pitobi membangun pagar tembok sehingga sehingga menutupi akses jalan warga Kelurahan Penkase – Oeleta di Rt 15/ Rw 05 yang menghubungkan jalan menuju, jalan Yos Sudarso.

“Sesunggunya pagar yang dibangun oleh devloper Pitobi itu berada di badan jalan sesuai dengan sertifikat para para pembatas tahan, yaitu Herman Yappy, Fredy Oematan Yano Laemanta dkk. Dan penutupan jalan itu membuat akses jalan masuk keluar warga penguna jalan menjadi tertutup,” ungkap Daniel.

Perlu diketahui, kata Daniel, bahwa jalan tersebut digunakan warga banyak untuk kepentingan umum seperti SMK Negeri 7 Kupang, SD Petra, Gereja Pantakosta dan masyarakat Rt 11, 12, 13, 14, 15 dan warga Rt 30. Dan akibat dari penutupan jalan tersebut juga menghambat akses dan mobilitas warga setempat.

“Pada bulan Agustus 2019 yang lalu warga Kelurahan Penkase – Oeleta, Lurah Penkase – Oeleta dan camat Alak telah meninjau lokasi pembuatan pagar dan melarang devloper Pitobi untuk tidak melanjutkan pembagunan pagar. Namun, kenyataannya pada bulan Desember 2019 pembangunan pagar itu dilanjutkan oleh devloper Pitobi. Entah apa yang melandasi pikiran devloper Pitobi untuk melanjutkan pekerjaan pembangunan pagar itu,” jelas dia.

Lanjut Daniel, dengannya dilanjutkan pekerjaan pembagunan pagar tersebut, maka warga melaporkan ke pihak Kelurahan sehingga dari pihak Kelurahan sudah mengambilsikap pada 3 Februari 2020 untuk dilakukan mediasi di Kantor Lurah Penkase – Oeleta. Namun, sehingga tindak lanjut dari mediasi itu Lurah Penkase – Oeleta berkordinasi dengan BPN Kota Kupang pada 9 Maret 2020 telah bertemu Kepala Seksi Pengukuran Tanah yang menyatakan bahwa, tanah milik devloper Pitobi yang dibangun pagar tersebut berada di badan jalan karena sesuai dengan sertifikat yang tertera jalan/lorong pemilik tanah, yaitu suadara Yano Laemonta dan devloper Pitobi masing – masing berbatasan dengan jalan.
“Seharusnya kehadiran devloper Pitobi yang merampas jalan warga dan sudah menyusahkan warga seharusnya kedatangan devloper untuk mensejahterakan bukan menyusahkan warga,” kata dia.

Daniel menambahkan, dari kronologi diatas kami dapat simpulkan bahwa Charles Pitobi dengan sengaja menyabotase jalan milik publik untuk kepentingan dan keuntungan pribadi, serta mengorbankan banyak warga.

“Kami minta DPRD Kota Kupang melalui Komisi I untuk segera mengambil keputusan memerintah kepada Lurah dan Camat agar berkordinasi dengan Pol PP untuk segera membongkar pagar itu,” pinta dia.

Sementara itu dalam RDP Charles Pitobi juga mengatakan, harus diketahui bahwa batas sekolah dan gereja bukan berada dibelakan pagar tembok kami, tapi lokasi sekolah dan gereja itu berada diseberang kali atau berada di RT lain.

Menurut dia pagar untuk akses jalan itu warga itu adalah milik beberapa orang yang sudah dibangun gudang.

“Tanah kami yang dibangun pagar itu hanya berbatasan denga tiga gudang milik orang lain. Dan di balakang situ tidak ada warga sehingga akses jalan warga untuk sekolah dan gereja memiliki jalan sendiri,” kata dia.

Menurut Charles pihaknya sudah menyumbangkan sebagian lahan untuk akses jalan di lokasit tersebut selebar 4 setegah meter sepanjang 120 meter.

“Waktu itu Lurah Penkase – Oeleta masih dijabat oleh Johanis Adoe dia datang untuk bertemu kami untuk meminta kita memberikan akses jalan selebar 1 setegah meter untuk akses jalan anak sekolah karena anak sekolah yang melewati jalan itu hanya beberapa orang saja. Namun, dengan catatan tanah kami yang 120 meter yang kami berikan 1 setegah meter itu untuk tembus ke jalan akan diusahakan dari lahan milik toko Chaicong dan lain – lain,” ungkap dia.

Dia mengatakan, ketika pagar tersebut ingin dibangun, cucunya datang kepada dirinya meminta agar tolong diberikan lahan selebar 3 meter karena di lokasi itu ada salah satu gudang milik sodara cucunya.

“Karena cucu saya yang datang minta lahan itu saya bukan kasih 3 meter lagi tapi saya kasih 4 setegah meter untuk akses jalan kendaraan khusus untuk mereka. Dan waktu itu lurah bilang akan minta akses jalan lagi kepada orang lain disitu. Tapi entah bagaimana sekarang sudah ingin masuk ke tanah kita lagi,” jelas dia. (*hayer)

Penulis: zonaline news

Gambar Gravatar
Alamat Redaksi : Jalan Adisucipto Kompleks Perumahan RSS Oesapa Kota Kupang Blok P No 2 NTT