oleh

AMANG Tolak Pabrik Semen dan Tambang di Matim, Ini Alasannya

-Tak Berkategori

Zonalinenews-Malang,- Lingko Lolok, Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur menjadi sorotan publik akhir – akhir ini. Pasalnya, Pemerintah setempat sedang merencanakan pendirian pabrik semen dan tambang batu gamping.

Juru Bicara Aliansi Mahasiswa Manggarai Malang Thomas Andri menjelaskan, dikutip dari berbagai sumber bahwa pabrik dan tambang ini dikerjakan oleh PT. Singa Merah dan PT. Istindo Mitra Manggarai.

Pengoperasian tambang dan pabrik semen membutuhkan lahan seluas 505 hektar.

Saat ini, kata Thomas, atas rekomendasi badan pertanahan, Bupati Manggarai Timur Andreas Agas telah mengeluarkan izin lokasi pabrik semen. Sementara itu, terkait izin eksploitasi tambang menjadi tanggung jawab Gubernur Nusa Tenggara Timur.

Dasar Penolakan Tambang dan Pabrik Semen.

Rencana pembangunan pabrik semen dan tambang di wilayah Kabupaten Manggarai Timur, Aliansi Mahasiswa Manggarai Malang (AMANG) secara tegas menyatakan penolakan.

AMANG menilai, ketika Gubernur NTT Vicktor Laiskodat mengeluarkan izin terkait eksploitasi tambang sangat bertentangan dengan surat keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor:SK.8/MENLHK/SETJEN/PLA.3/1/2018 tentang penetapan wilayah ekoregion Indonesia dan undang-undang no. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Dalam pernyataan sikap AMANG yang diterima Zonalinenews, Jumat 3 Juli 2020 menerangkan, industri semen domestik dalam beberapa tahun terakhir mengalami kelebihan suplai.

Menurut Thomas, hingga akhir tahun lalu, total kapasitas nasional terpasang sebanyak 120 juta ton, sedangakan penyerapannya hanya mencapai 70 juta ton.

“Pengoperasian enam pabrik semen baru pada 2016 membuat Indonesia menjadi produsen semen paling besar di Asia Timur dengan total kapasitas 92,7 juta ton. Pada saat itu produsen semen memperkirakan kapasitas produksi yang naik pesat membuat Indonesia mengalami kelebihan pasok semen mulai tahun 2016 tersebut hingga tahun 2020″urainya.

Sementara itu, Orsianus yang merupakan salah satu anggota AMANG menjelaskan, Ketua Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Widodo Santoso menegaskan, pertumbuhan penjualan semen tidak sebanding dengan kenaikan kapasitas produksi semen di Indonesia.
Pertumbuhan yang tidak sebanding menciptakan kelebihan pasokan di pasar semen domestik. Kebijakan pemerintah yang sangat diharapkan para produsen semen adalah pembatasan atau pemberhentian perizinan pembangunan pabrik baru.

Ia mengungkapkan, Asosiasi Semen Indonesia (ASI) mencatat konsumsi semen di dalam negeri pada akhir Maret 2020 merosot hingga 7 persen dari realisasi Maret 2019. Menjelang akhir tahun 2019 ini, tingkat kapasitas semua pabrik semen di Indonesia mencapai 113 juta ton. Jika dibandingkan dengan tingkat demand di tahun 2018 lalu, hanya 70 juta ton.

“Artinya, terjadi kelebihan kapasitas semen secara nasional sekitar 41 juta ton atau lebih dari 50 persen demand semen di tahun 2018. Hal ini sangat bertolak belakang dengan kebijakan yag diambil oleh Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur dan Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Timur yang saat ini hendak mendirikan pabrik semen dan penambangan batu gamping di Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda,” tukasnya.

Keberadaan lokasi tambang batu gamping itu, sambungnya, merupakan daerah pegunungan dan permukiman warga. Sebagai lahan permukiman warga yang sangat menjunjung tinggi nilai budaya tentunya akan berdampak buruk bagi warga setempat apabila nantinya mereka direlokasi ke daerah atau ke tempat lain.

Lebih jauh ia mengatakan, selain nilai budaya, lokasi ini juga merupakan lahan produktif di sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan. Apabila rencana penambangan batu gamping di Lingko Lolok tidak dibatalkan maka dampaknya adalah selain merusak alam, juga merugikan masyarakat setempat.

Ia menilai, aktivitas tambang tersebut hanya menguntung korporasi saja atau tidak menguntungkan bagi masyarakat lokal. Sebab sejatinya, ungkapnya, pertambangan bertolak belakang dengan peghijauan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Mark Twian, pertambangan adalah lubang besar yang menganga dan digali oleh para pembohong.

“Jadi, sebentar lagi wajah dari kampung Lengko Lolok akan berubah menjadi lubang-lubang besar yang menganga, terbentuknya danau-danau asam dan beracun yang akan terus ada dalam jangka waktu yang panjang, tidak pulihnya ekosistem yang dirusak oleh perusahaan tambang, dampak lingkungan baik fisik maupun sosial dibandingkan pengusahaan komoditi lain pada umumnya,” ucapnya.

“Debu, asap, maupun gas beracun lainnya akan timbul dari aktivitas pertambangan. Hal ini dapat mengganggu kesehatan masyarakat dan bahkan mengakhiri hidup seseorang karena mengidap segala jenis sakit dan penyakit. Jadi kerugian alam dan masyarakat lingko Lolok sebagai dampak dari aktivitas tambang tak sebanding dengan uang yang dikucurkan perusahaan untuk membeli lahan bahkan menyogok masyarakat,” tambahnya.

Selain itu, menurut dia, proses perizinan pendirian pabrik dan tambang berpotensi melanggar surat keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor:SK.8/MENLHK/SETJEN/PLA.3/1/2018 tentang penetapan wilayah ekoregion Indonesia dan undang undang no. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Mengantisipasi terjadinya kondisi seperti ini, ia meminta Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur serta Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) segera menghentikan rencana penambangan batu gamping di daerah tersebut.

“Fakta-fakta mengungkapkan, pelaku tambang sering kali menghadirkan situasi pro dan kontra yang memicu benih perpecahan di masyarakat (konflik horizontal), memberikan janji-janji seperti peningkatan pendapatan masyarakat, penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan asli daerah yang dalam sambutan Gubernur NTT, Vicktor Laiskodat menyebutkan mencapai 80 Milliar” tutur Orsianus.

Alternatif

AMANG bukan saja menolak rencana pembangunan pabrik semen dan tambang batu gamping, namun mereka memberikan sejumlah tawaran alternatif kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur diantaranya:

1.Optimalsasi Sektor Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan merupakan sandaran utama masyarakat manggarai timur pada umumnya dan masyarakat Lingko Lolok khususnya untuk bertahan hidup dan meningkatkan ekonomi keluarga.

Tanah Lingko Lolok merupakan lahan yang produktif.

Dengan demikian, kehadiran tambang yang akan menggali batu gamping di perut bumi Lingko Lolok dapat merusak tatanan alam yang selama ini menjadi sandaran hidup masyarakat lokal. Oleh karena itu tidak dapat dibenarkan ketika kesejahteraan menjadi dalil utama masuknya tambang batu gamping di Lingko Lolok.

Semestinya apabila pemerintah ingin mensejahterakan masyakat Lingko Lolok dan sekitrarnya, maka yang akan dibuat adalah mengedukasi masyarakat lokal tentang cara bertani, berkebun, serta beternak.

Untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, pemerintah daerah hendaknya memperkuat sektor pertanian, peternakan dan perkebunan.

2. Pengembangan Sektor Pariwisata
Secara geografis daratan Satar Punda sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi daerah pariwisata. Seperti diketahuai bahwa, daerah Satar Punda letaknya dekat pantai utara, sehingga berpotensi untuk dijadikan sebagai tempat wisata dan dapat menghasilkan pendapatan daerah serta meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

Konsep pengembangan tempat wisata ini, bisa dilakukan dengan memanfaatkan potensi masyarakat setempat, dan juga bisa dikembangkan melalui Badan Usaha Milik Desa, sehingga pendapatan dari daerah wisata ini dapat dimanfaatkan secara lansung oleh masyarakat, dan tidak memiliki dampak negatif seperti kerusakan alam dan lain sebaginya.

Pemerintah dan masyarakat mestinya mampu melihat peluang yang bisa mendatangkan keuntungan, dan pembangunan pabrik semen tidak menjadi satu-satunya solusi bagi pemerintah untuk meningkatakan pendapatan daerah yang justru mendatangkan dampak buruk bagi masyarakat seperti kerusakan alam dan lain sebagainya. Pengembangan daerah wisata ini, dapat menunjang wisata premium di Manggarai Barat, sehingga Labuan Bajo tidak menjadi satu-satunya tujuan para wisatawan.

Pernyataan Sikap

Berdasarkan dasar pemikiran diatas, maka Aliansi Mahasiswa Manggarai Malang (AMANG) menyatakan sikap:

1.Menolak rencana pembagunan pabrik semen dan tambang batu gamping di Luwuk dan Lingko Lolok desa Satar Punda, kecamatan Lamba Leda, kabupaten Manggarai Timur

2.Mendesak pemerintah daerah kabupaten Manggarai Timur untuk mencabut ijin lokasi pendirian bangunan pabrik semen di Luwuk desa Satar Punda, kecamatan Lamba Leda

3.Mendesak pemerintah daerah provinsi Nusa Tenggara Timur untuk tidak memberikan ijin eksploitasi tambang batu gamping di Lingko Lolok desa Satar Punda, kecamatan Lamba Leda, kabupaten Manggarai Timur

4.Mendesak DPRD kabupaten Manggarai Timur agar secara tegas mengambil sikap menolak kehadiran pabrik semen dan tambang batu gamping di desa Satar Punda, kecamatan Lamba Leda sebab hal tersebut merugikan alam dan masyarakat lokal

5.Mengajak seluruh masyarakat Manggarai Raya teristimewa masyarakat Manggarai Timur agar secara bersama-sama menolak kehadiran pabrik semen dan tambang batu gamping di desa Satar Punda demi masa depan desa Satar Punda khsusnya dan tanah Nuca Lale umumnya.(*Kons Hona)

Penulis: zonaline news

Gambar Gravatar
Alamat Redaksi : Jalan Adisucipto Kompleks Perumahan RSS Oesapa Kota Kupang Blok P No 2 NTT