oleh

Etu : Tinju Adat Rendu Ola Menjalin Harmonisasi dan Ikatan Kekeluargaan

Zonalinenews.com, Nagekeo, -Olahraga tinju sangatlah popular di mata masyarakat dunia. Namun bagi suku Nagekeo, tinju tak sekadar pertarungan menang dan kalah. Ini bagian dari tradisi yang telah diwariskan oleh leluhur orang Nagekeo untuk menjalin harmonisasi dan ikatan kekeluargaan di masyarakat tinju (Etu), demikian masyarakat adat di Kabupaten Nagekeo Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) menyebutnya. 

Atraksi ini biasanya dipertunjukkan oleh para petarung etu sebagai serangkaian dari acara adat yang memperingati hari dari menanam hingga panen kebun yang berlangsung di bulan Juli setiap tahun.

Ketua Fungsionaris Adat Suku Rendu Ola Gabriel Bedi yang ditemui Zonalinenews.com, Kamis 9 Juli 2020 di sela-sela kegiatan itu mengatakan, tinju adat (Etu) ini sudah diwariskan dari nenek moyang sejak dahulu kala.

Dan Etu ini dilaksanakan pada bulan Juli.

Gabriel biasa disapa menjelaskan, Etu adalah bagian yang integral di dalam rangkaian adat mulai dari menanam hingga memanen.

Etu dan ritual adat lainnya, wajib dilaksanakan di kisa nata (alun-alun) rumah adat (sa’o waja)yang merupakan pusat dari aktivitas adat dan kebudayaan masyarakat setempat.

Di tengah-tengah kisah nyata itu terdapat tugu kayu bercabang dua yang dipancang di atas batu bersusun (peo) yang melambangkan persatuan dan persekutuan masyarakat.

Sehari sebelum Etu digelar, seluruh masyarakat memadati kisa nata dan merayakan malam itu dengan pertunjukan seni musik dan tari yang biasa disebut teke.

Menurutnya, motif tinju adat ini adalah murni bagian dari adat.

Hal ini sebagai sarana untuk merayakan kehidupan dan untuk mempersatukan masyarakat.

Secara teknis Etu tidak memiliki aturan pasti mengenai jumlah ronde dalam satu kali pertandingan. Namun tinju dapat dihentikan jika salah satunya berdarah.

Lamanya waktu pertandingan turut ditentukan oleh kekuatan para petarung. Seberapa kuat dia menyerang dan mempertahankan diri dari pukulan lawan.

Lanjut Gabriel mengatakan, Etu dipimpin oleh wasit (seka). Selain seka, ada petugas yang tugasnya mengendalikan petarung agar tidak brutal dalam bertanding yang dalam bahasa setempat disebut sike.

Tugas sike mengontrol petarung dengan memegang ujung bagian belakang sarung yang dikenakan petarung.

Ketika pertandingan mulai membabibuta, maka sike tinggal menarik ujung kain dan petarung dengan sendirinya mundur.

Selain para petugas yang disebutkan itu, terdapat juga para petugas pai etu yang fungsinya mencari para petarung yang siap bertanding di partai setelahnya.

Selain itu ada mandor adat yang bertugas untuk mengawasi penonton agar tidak merangsek masuk ke arena pertandingan.

Ketika pertandingan selesai, setiap petarung saling memberikan pelukan yang melambangkan persaudaraan dan sportivitas, serta untuk mencegah rasa dendam di dalam diri.

Para petarung dilarang keras saling dendam yang berujung pada perkelahian di luar arena. Jika itu terjadi, maka mereka dengan sendirinya akan mendapat musibah.

Tak jarang dalam pertandingan Etu banyak darah tertumpah di atas kisa nata. Banyak petarung yang mengalami luka serius di bagian wajah.

Namun luka tersebut akan segera sembuh dengan sekali usap dari sang kepala adat.
(Nasan Kua)

Penulis: zonaline news

Gambar Gravatar
Alamat Redaksi : Jalan Adisucipto Kompleks Perumahan RSS Oesapa Kota Kupang Blok P No 2 NTT