oleh

Begini Surat Tanggapan Kepada Direktur RSUD Sebelum Bidan Ina Payong Mengundurkan Diri

Zonalinenews.Com, Larantuka,-Kendati berbagai pendekatan telah dilkakukan akan tetapi menuai jalan buntu. Bidan bernama lengkap Fransiska Ina Payong, A.Md.Keb diminta kembali bertugas pada ruang ISO usai menerima SK mutasi. 

Merasa kondisi kesehatanya benar-benar tidak memungkinkan, serta tertutupnya saluran komunikasi, Inri panggilan akrabnya masih mengupayakan dengan bersurat secara resmi kepada Direktur RSUD dr. Hendrikus Fernandez. 

Dibalik itu tentu saja, dengan besar harapan penempatanya di ruang ISO bisa ditinjau kembali dengan membatalkan dan memindahkanya ke bagian lain. 

Berikut pernyataan lengkap Bidan Ina. 

Dengan hormat.

Menyikapi Surat Direktur dengan nomor: RSUD 867/    /TU/VIII/2020, tanggal 27 Agustus 2020 perihal panggilan masuk maka dengan tidak mengurangi rasa hormat, bersama ini saya menyampaikan beberapa hal sebagai berikut: 

  1. Bahwa dalam kaitan dengan perihal ini, saya sudah mengambil langkah-langkah guna menyatakan keberatan untuk dipertimbangkan kembali kebijakan mutasi saya ke unit kerja baru, baik melalui Kepala Bidang Pelayanan maupun melalui komunikasi via WA dengan Direktur. Karena alasan Durektur belum ada waktu untuk bertemu langsung namun tidak mendapat tanggapan secara proporsional.
  2. Bahwa upaya untuk menyampaikan keberatan untuk boleh mendapat pertimbangan lebih lanjut atas kebijakan mutasi ini didasari alasan bahwa penempatan di ruang ISO tanpa pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu merupakan kebijakan yang beresiko bagi seorang pelaku profesi, mengingat kondisi kesehatan saya yang tidak memungkinkan untuk mengurus pasien dengan penyakit beresiko seperti TBC terlebih pasien dengan Covid-19.
  3. Bahwa sehubungan dengan poin 2 perlu saya sampaikan pula bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan di Poli Penyakit Dalam pada tanggal 25 Mei 2020 saya didiagnosa Abdominal pain ec susp ISK dd BSK sehingga disarankan untuk USG Abdomen dengan hasil bahwa saya mengalami pembesaran limpa atau istilah medisnya Splenomegali sehingga saya sering mengalami sesak napas dan kadang sampai pingsan.

Hasil USG ini juga sudah saya serahkan ke bagian pelayanan RSUD untuk dijadikan bahan pertimbangan. Namun pihak Manajemen tetap bersikeras agar saya tetap berdinas si ruangan (ISO). Hasil USG terlampir. 

  1. Bahw dalam kaitan hasil USG Abdomen ini, saya sudah berupaya untuk berkomunikasi dengan Direktur namun jawaban Direktur bahwa SK yang ditandatanganinya berdasarkan rekomendasi dari Bidang Pelayaban. Dengan demikian, saya memandang bahwa rekomendasi dari Bidang Pelayanan yang kemudian menjadi dasar dan alasan Direktur melahirkan kebijakan mutasi ini adalah tidak cermat dan profesional yang berdampak bagi ancaman kesehatan saya sebagai pelaku profesi.
  2. Bahwa sehubungan dengan hasil USG terlampir, yang nyata-nyata diabaikan dalam pengambilan kebijakan mutasi maka untuk menjawab panggilan masuk kerja sebagaimana surat yang ada, sekiranya saya harus mendapatkan test kesehatan kembali untuk memastikan kondisi kesehatan saya sebelum saya bertugas di ruang ISO mengingat ruang ISO adalah ruang istimewa yang mana ruangan tersebut dikhususkan untuk pasien dengan penyakit menular dan beresiko tinggi seperti TBC dan Covid-19 sebagaimana SOP bahwa semua petugas yang ditempatkan di ruang ISO terlebih dahulu dilakukan tes kesehatan. 
  3. Bahwa adalah sangat bijaksana jika kebijakan mutasi sebagaiamana yang saya alami dengan tetap memperhatikan ketentuan point 4 dan poin 6 pasal 57 UU Nomor 36 Tahun 2014 tentang Hak Tenaga Kesehatan yang menyatakan bawha “Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan atas kesehatan  dan keselamatan kerja, perlakuan yang bermoral dan bermartabat serta tenaga kesehatan berhak menolak keinginan penerima pelayanan kesehatan atau pihak lain yang bertentangan dengan standar profesi dan mode etik, standar pelayanan, SOP atau ketentuan peraturan perundang-undangan.
  4. Bahwa selain sejumlah alasan kebertan yang diajukan di atas, alasan lain yang mestinya mendapat pertimbangan Manajemen RSUD  adalah bahwa saya dan rekan-rekan Bidan lainny yang telah dimutasi ke unit yang sama tidak pernah dibekali dengan ilmu yang proporsional. Hal ini, berpotensi adanya resiko pada pasien yang dirawat yang dapat menyebabkan pasien mengalami luka cacat atau bahkan kehilangan nyawa sebagai akibat dari ketidak-profesinalnya lami.
  5. Bahwa alasan mutasi dengan pertimbangan PENYEGARAN adalah diksi yang tidak relevan jika dikaitkan dengan sejumlah alasan keberatan yang sudah saya uraikan di atas bahkan berpotensi akan adanya mal praktek medis.
  6. Saya memahami dengan sangat baik bahwa SK tugas dan mutasi merupakan mandat yang memiliki kekuatan hukum karena kewenangan seorang Direktur. Namun demikian terhadap kebijakan yang lahir dan sebuah manajemn lembaga publik, sebagai bagian dari publik itu sendiri, saya merasa tidak berlebihan jika menyatakan keberatan atas sesuatu yang tidak berkenan. 

Demikian surat saya. Atas perhatian saya haturkan terimakasih. Tembusan Disampaikan dengan hormat kepada:

  1. Bapak Bupati Kab. Flores Timur di Larantuka
  2. Bapak Ketua DPRD
  3. Kepala Dinas Kesehatan
  4. Kepala Dinas Tenaga Kerja
  5. Ketua IBI.  (*tim)

Penulis: zonaline news

Gambar Gravatar
Alamat Redaksi : Jalan Adisucipto Kompleks Perumahan RSS Oesapa Kota Kupang Blok P No 2 NTT