oleh

Dari Pada Mati Sia-Sia, Bidan Ina Payong Memilih Berhenti

Zonalinenews.Com, Larantuka-Keberatan Fransiska Payong Ina, A.Md.Keb yang ditujukan kepada pihak manajemen RSUD dr. Hendrikus Fernandez, Larantuka atas mutasi dari VIP ke ISO mengingat dirinya memiliki riwayat sakit Splenomegali (pembekakan limpa yang kadang menyebabkan rasa sesak tetapi bukan asma)  diabaikan. 

Mencari solusi, Bidan tenaga Kontrak Daerah Kabupaten Flores Timur-Nusa Tenggara Timur yang telah mengabdikan dirinya di RSUD setempat 2018 silam, bersurat secara resemi kepada Direktur dengan tembusan disampikan ke Bupati Flores Timur, Ketua DPRD, Kadis Kesehatan, Kadis Nakertrans dan Ketua IBI. 

Ali-ali, mendapat pertimbangan kemanusiaan dari manajemen atas keberatan rotasi yang terjadi, ibu dua orang anak ini justeru mendapat surat panggilan segera kembali bertugas pada ruang ISO seperti yang tertera pada SK sebelumnya. 

Merasa usahanya sia-sia, dengan perasaan penuh kekecewaan, petugas medis yang dimutasi ke ruang ISO sejak 19 Agustus 2020 ini memilih untuk mengundurkan alias berhenti mengabdi pada RSUD dr. Hendrikus Fernandez Larantuka. 

“Saya kecewa sekali karena surat tanggapan saya tidak di tanggapi oleh pihak RSUD Larantuka, pengeluhan saya cuma itu, saya punya riwayat sakit rekam medik pada bulan Mei. Saya memilih berhenti,” jelas Payong Ina kepada Redaksi Zonalinenews.

Ia juga mengatakan, sebelum bersurat  ke sejumlah instansi dirinya telah terlebih dahulu melakukan upaya tatap muka.

“Beberapa kali saya komunikasi dengan Direktur tetapi selalu alihkan saya ketemu dengan pihak manajemen saja, sedangkan pihak manajemen juga tidak menghiraukan, malah sampaikan  masuk dulu nanti pemeriksaan kesehatan  menyusul. Itu saya tidak mau, kita yang bertugas di Isolasi  harus bisa pastikan kesehatan baik dulu baru kita ditempatkan di sana, jadi saya memilih saya tidak masuk kerja sejak 19 Agustus 2020,” urainya.

Ia melanjutkan untuk itu, dirinya bersikeras tidak mau kembali bertugas kendati telah mendapatkan surat panggilan kembali bekerja.

“Saya dapatkan surat ke dua pemanggilan lagi, tetapi karena isi surat yang sama tidak menanggapi surat sanggahan saya malah tetap mengatakan dalam isi surat masuk dan berdinas di ruang Isolasi, jadi saya tetap memilih tetap di rumah saja. Saya memilih untuk tidak masuk karena itu membahayakan nyawa saya, anak-anak juga masih membutuhkan saya jadi saya memilih untuk tidak lagi bekerja. Terkait ini, UU No 36 Tahun 2014 Tentang Hak Tenaga Kesehatan seperti apa? Di sana sangat jelas,” urainya gamblang. 

Mengakhiri perbincangan  Ina berpesan agar kejadian tersebut, hanya dialami dirinya saja. 

“Hanya pesan saya buat manajemen RSUD Larantuka cukup kejadian ini terjadi pada saya saja jangan pada orang lain lagi. Cukup sudah lakukan ini hanya pada saya saja.

Saya sangat dipersulit oleh pihak RSUD Larantuka,” tutup Ina. 

Seperti yang kita ketahui dalam masa pandemik Covid-19 telah banyak jatuh korban dari pihak  dokter serta tenaga medis lainnya. 

Kenyataan ini tidak bisa dipandang enteng. Tenaga telah medis menjadi garda terdepan menghadapi ganasnya serangan virus mematikan ini. Untuk itu, kesehatan para pengabdi masyarakat ini sudah barang tentu menjadi perhatian semua pihak. 

Sementara merujuk UU nomor 36 Tahun 2014 tentang Hak Tenaga Kesehatan dengan sangat jelas mengatakan “Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan atas kesehatan  dan keselamatan kerja, perlakuan yang bermoral dan bermartabat serta tenaga kesehatan berhak menolak keinginan penerima pelayanan kesehatan atau pihak lain yang bertentangan dengan standar profesi dan mode etik, standar pelayanan, SOP atau ketentuan peraturan perundang-undangan. 

Direktur RSUD dr. Sanny, ketika dikonfirmasi tidak merespon (*tim) 

Penulis: zonaline news

Gambar Gravatar
Alamat Redaksi : Jalan Adisucipto Kompleks Perumahan RSS Oesapa Kota Kupang Blok P No 2 NTT